Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 13


__ADS_3

Jam sudah menujukan pukul 03:00 malam dimana rencana sudah di susun rapi oleh Burhan. 


 


"Lihat saja apa yang akan aku lakukan Dinda," ucap Burhan menatap kontrakan kumuh yang di tempati oleh Dinda. 


 


Malam begitu gelap hanya sinar lampu yang mampu menyinari seluruh kontrakan.


 


Mengintip dari semak-semak daun, Burhan. Membawa satu pisau untuk dirinya agar bisa berjaga-jaga. Jika sesuatu menyerang dirinya.


 


Tidak ada suara dan penjagaan di kontrakan yang di tempati Dinda, semua sudah terjaga dari tidur mereka.


 


Langkah kaki Burhan terus melangkah, mendekati pintu kontrakan. Dengan yakin lelaki berkepala botak itu bisa membawa pergi istrinya.


 


Masih dengan hembusan angin malam yang masuk melewati jendela atas dengan tampilan kayu yang memperlihatkan lubang-lubang kecil, membuat beberapa nyamuk leluasa bisa masuk kapan saja.


 


Membuat Haikal terbangun karna beberapa nyamuk telah hinggap dan menyedot darah dari tubuhnya. Beberapa pukulan tangan Haikal di layangkan pada nyamuk yang mengiang-giang di telinga.  Terdengar begitu berisik.


 


Ia lupa untuk membeli obat nyamuk untuk membasmi nyamuk-nyamuk yang datang tanpa di undang.


 


Melihat Aidan begitu terlelap dalam tikar tipis yang mengelar pada lantai.


Haikal begitu senang mempunyai teman tidur   yang sudah ia anggap sebagai adik sendiri.


 


 


Brak ... "Suara apa itu?"


Kedua mata Haikal tampak terkejut, membuat kedua matanya seketika membulat.


Tubuhnya segera bangkit dari tempat tidur beralas tikar. Mencari tahu sumber suara apa kah itu?


 


Jendela yang tertutup rapi oleh gorden, mulai Haikal buka sedikit. Ia menatap ke arah luar kontrakan begitu hening tidak ada satu orang pun nangkring  saat malam.


 


"Kenapa perasaanku terasa tidak enaknya. Ada apa sebenarnya?"


 


Mengelus dada menjauhkan dari hal-hal yang merusakan pikirannya, Haikal bergegas mengambil air wudhu.


 


Brung ...


 


"Suara lagi. Apa ada yang terjadi dengan Dinda."


 


Haikal berlari tergesa gesa bergegas menemui Dinda malam-malam, ia merasa hal aneh seakan terjadi pada Dinda saat itu.


 


Burhan yang hampir saja berhasil membuka pintu kontrakan, kini mengurungkan niatnya. Mendengar suara pintu pinggir kontrakan terdengar seperti orang yang tengah membuka kunci pintu.


 


Burhan segera  berlari menuju semak-semak menyembunyikan diri dari orang lain yang hampir saja melihatnya.


 


"Ahk, sial. Siapa malam-malam begini keluar rumah?" Gerutu Burhan.


 


Burhan melihat dengan kedua mata kepalanya sendiri. Haikal tengah menatap ke sana kemari.


 


"Lelaki itu, bukannya lelaki yang dulu pernah menjadi pahlawan Dinda?" Mengusap hidung dengan  punggung tangannya, Burhan berdecap kesal. Melihat Haikal yang masih berjaga di depan pintu kontrakan Dinda.


 


Jam sudah mulai menujukan waktu subuh, Burhan begitu lelah menunggu berjam-jam di tumpukan semak rumput. Membuat ia menjadi sarang nyamuk dan juga sarang semut.


 


"Rencanaku gagal hari ini, tapi tunggu besok. Aku akan membawa Dinda ke cengkraman tanganku!"


 


*************


 


Burhan pulang dalam keadaan kesal dan marah-marah sendiri. 


 


"Loe gagal membawa Dinda?" tanya Fras, menghampiri sahabatnya itu. Burhan melirik kearah Fras seraya menjawab!" gagal hancur lembur. Semua gara-gara lelaki yang dulu pernah membela Dinda."


 

__ADS_1


"lelaki, jadi Dinda sekarang bersama lelaki itu?"


 


"Ya, lelaki itu berusaha menjaga Dinda!"


 


"Kita harus habisi dulu lelaki itu, baru kita bisa. Menyeret Dinda ke rumah ini," ucap Fras.


 


Burhan tetap saja kesal, ia bergegas untuk mandi dan membersihkan diri. 


 


Pagi menjelang, mata Burhan mulai terasa begitu mengantuk. Ia segera pergi untuk tidur ke atas kasur.


 


Merileks kan otot-ototnya yang begitu terasa lelah.  Baru saja matanya mulai menutup Fras datang mengganggu acara tidurnya saat itu.


 


Burhan bangun dari tempat tidurnya segera meraih gagang pintu, membukanya keras,  Fras memperlihatkan wajahnya yang begitu panik.


 


"Polisi mengepung rumahku, sekarang kita harus pergi dari sini," ucap Fras. Burhan yang mendengar perkataan Fras langsung berlari menuju jalan belakang rumah Fras.


 


Polisi juga sudah bersiap untuk menangkap Burhan dan Fras.


 


Berbeda dengan Dinda, ia sudah bersiap membuat surat penggugatan cerai dirinya bersama Burhan dengan di antar oleh Haikal.


 


Semua tidak tampak sulit bagi Dinda karna bukti sudah kuat, semua perlakuan Burhan terhadap Dinda sudah keterlaluan. 


 


"Kenapa Polisi belum menemukan Bang Burhan?"


 


Itulah yang ada di pikirkan Dinda saat itu, bagaimana tidak. Wanita berhidung pesek itu takut jika nanti Burhan datang dan mengancam dirinya.


 


Menghelap nafas terasa begitu berat, hati dan pikiran seakan berada jauh. Masih ada beban pikiran yang belum membuat dirinya tenang.


 


"Ada apa ka?" tanya Lina sang adik menatap kedua mata kakaknya yang tampak berkaca-kaca.


 


"Kakak terpikirkan oleh Bang Burhan, sampai sekarang polisi belum  menemukan dia!" jawab sang kakak.


 


 


Lina hanya bisa menenangkan pikirannya, dalam hatinya ia juga merasakan ketakutan pada Burhan yang belum di temukan oleh polisi.


 


 


Rasa takut itu terus menghantui Lina dan Dinda. Mereka adalah korban kekejian dari lelaki bernama Burhan.


 


Sesaat di dalam perjalanan Lina dan Dinda di hadang oleh segerombolan pereman mereka di sered paksa untuk masuk ke dalam mobil.


 


 


 


"Lepaskan aku kalian mau apa?" teriak Dinda.  Tangannya di cengkeram erat oleh lelaki yang entah dia tidak tahu siapa.


 


"Kalian siapa? lepaskan aku," tanya Dinda yang terus meronta-ronta. Lina menangis ketakutan.


 


Dinda  tidak mengenal sekali wajah  lelaki-lelaki yang menangkapnya.


 


Tawa terdengar begitu nyaring sosok wanita datang menampilkan diri, dengan tubuh yang seksi dan berambut panjang.


 


"Kamu."


 


"Kenapa? Kamu pasti kaget kan."


 


Wanita itu, memegang dagu Dinda. Mendorong seraya berkata," apa kelebihan dari kamu. Kenapa Haikal begitu menyukai kamu."


 


"Lepaskan aku," teriak Dinda. Membuat telinga wanita di hadapannya tertawa terbahak-bahak.


 

__ADS_1


"Aku akan lepaskan kamu, setelah kamu menyingkir dari kehidupan Haikal?" tawaran itu tiba-tiba terlontar dari mulut tipis wanita di hadapan Dinda.


 


Dinda terdiam," Maksud kamu apa?"


 


"Jangan jadi wanita bodoh Dinda, aku tahu kamu pasti menyukai Haikal kan. Asal kamu tahu, kamu tidak pantas untuk dia!"


 


Wanita berambut panjang itu menampar pipi Dinda. Membuat Lina menjerit dan meronta-ronta.


 


"Jangan tampar kakak ku."


 


Dalam keadaan seperti itu Dinda tidak melihat penampakan Haikal. Entah pergi ke mana Haikal saat itu.


 


"Kamu lagi mencari Haikal. Dan ingin meminta bantuan padanya?" tanya wanita itu,  dengan senyum menyeringai.


 


"Lepaskan aku!" teriak Dinda.


 


"Aduh, percuma kamu berteriak orang-orang tidak akan menolongmu. Apalagi Haikal dia tidak akan peduli padamu, makannya dari itu cepat menjauh dari Haikal."


 


 


Entah apa yang di pikirkan wanita itu, wanita bertubuh ramping berkulit putih bernama Nina itu kini menampilkan kekejamannya yang tak biasa. 


 


Wanita yang berpura-pura lugu itu, kini berubah drastis menjadi wanita jahat.


"kamu mau selamat tidak? “tanya Nina.


 


 Hati Dinda seakan rapuh, baru saja ia mengenal Haikal yang membuat dirinya bisa merasakan ketenangan dan kenyamanan, kini malah membuat dirinya terancam.


Terancam karna Nina yang tak lain menjadi mantan bos Haikal kini memberontak.


 


Ke mana Haikal?


Kenapa dia tiba-tiba menghilang?


 


"Kenapa kamu tidak menjawab Dinda? Ayolah atau adik mu itu bakal jadi santapan lelaki di sini," ancam Nina. Membuat Dinda mencabik bibir kesal.


 


"Kurang ajar kamu Nina, wanita tidak tahu diri," hardik Dinda. Mulut Dinda mulai berani berkata kasar pada Nina.


 


Dengan spontan Nina mencengkeram kedua pipi Dinda begitu erat.


"Kamu wanita tidak tahu diri. Sudah punya suami. Berani merayu Haikal!"


 


Melipatkan kedua tangan Dinda mulai memerintahkan suruhannya, untuk membuka baju Lina.


 


"Ka tolong Lina ka?"


 


"Lina."


 


 


Ketakutan Lina mulai mencekram pada dirinya, membuat trauma itu muncul lagi.


"Kenapa? Kamu mau adik kamu di nikmati oleh suruhanku?"


 


"Jangan lakukan itu!"


 


"Aku tidak akan melakukan itu asal kamu menjauhi Haikal."


 


Dinda seakan bingung dengan pilihannya saat ini.


 


"Ka tolong." Lina terus menjerit-jerit. Harapannya adalah pilihan dari kakaknya.


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2