
#Kau buang istrimu seperti sampah kupungut dia seperti permaisuri.
#Dia_Anugrah_Terindahku
Nina, melangkah menuju kamar tidur. Melihat di dalam lemarinya begitu banyak baju seksi yang selalu ia pakai. Melihat setiap satu persatu bajunya Nina merasa sedih.
Ada satu baju busana yang menutup auratnya, baju dimana ia mencari simpati dan perhatian Haikal.
Menarik nafas pelan mengeluarkan dengan perlahan, jari-jari cantik Nina mulai merapikan baju-baju seksi itu ke dalam koper. Ia memulai hidup baru. Dengan berhijrah, memakai busana yang tertutup walau hatinya belum bisa menerima sepenuhnya. Nina berusaha. Demi memperbaiki diri dengan menutup aurat. Bismillah ....
Nina menatap tubuhnya pada cermin besar , wanita berhidung mancung itu mulai mengenakan pakaian yang menutup lekuk tubuhnya. Membulak balikan badannya.
"Kamu begitu cantik Nina," ucap Pak Andi. Yang baru saja datang menghampiri anaknya di dalam kamar.
"Papah," ucap Nina menundukkan pandangan.
"Kamu tak usah malu, papah senang liat kamu berdandan seperti itu," ucap lelaki tua yang menjadi ayah Nina. Tersenyum dan memegang bahu anaknya.
Nina mulai mengangkat kepalanya, pipinya memerah ada rasa malu pada hatinya.
"Papah tidak marah, bila Nina berdandan seperti ini?"
"Papah senang jika kamu berdandan seperti ini Nina. Papah jadi teringat dengan mamah kamu!"
"Papah, jangan sedih kan ada Nina!"
"Makasih sayang."
**********
Nina bergegas menemui Haikal dan Dinda, ia mencari alamat rumah Haikal yang berada di kampung. Meminta alamat pada Bu Nunik wanita tua pemilik koskosan, tapi Bu Nunik tidak mengetahui alamat rumah Haikal yang berada di kampung.
"Aku harus cari ke mana Haikal."
Nina baru ingat, ponsel yang ia berikan pada Haikal sudah ia pasang Google Map yang terhubung dengan ponselnya.
"Waktunya aku menemukan Haikal dan Dinda."
Dengan mengendarai mobil, Nina bergegas menemui Haikal. Ia sudah bertekad diri ingin meminta maaf dan akan pergi jauh darinya tanpa mengganggu lagi Haikal dan Dinda.
__ADS_1
"Akhirnya aku menemukan rumah Haikal."
Berjalan menuju rumah Haikal ada rasa ragu menghantui hati Nina. Mencoba untuk kuat dan menerima perkataan apa yang nanti akan terlontar dari Lina dan Dinda.
Kedua mata Nina melihat pemandangan yang sangat menyakitkan bagi dirinya, keluarga yang tengah bercanda ria tertawa seakan tanpa beban menyiksa.
Langkah kaki terasa begitu berat, Nina mencoba menahan gejolak dalam dada yang membuat dirinya iri dan tidak suka.
Disaat canda tawa dirasakan Haikal dan juga Dinda disaat itu juga, Haikal merasakan hal yang aneh. Menatap ke arah wanita berbaju merah maron dengan busana muslim sederhananya, Haikal seakan mengenal wanita itu. Ia tersenyum dikala kedua mata Haikal menatap lekat wanita yang berjalan menghampiri rumahnya.
"Assalamualaikum, Haikal. Dinda," ucap Nina memberi salam pada mereka berdua.
"Walaikumsalam Nina!" jawab Haikal.
Nina begitu terlihat cantik dengan balutan gaun muslim yang menutup tubuhnya, tanpa memperlihatkan lekuk tubuhnya sama sekali. Begitu cantik, indah. Di mata lelaki.
Lina yang mendengar Haikal memanggil nama Nina ia langsung menghampiri gadis yang berpakaian tertutup itu.
" Ngapain kamu ke sini lagi? Mau mengganggu kebahagiaan kita lagi?" Ketus Lina pada Nina.
"Saya ke sini hanya untuk bertemu dengan Haikal dan Dinda!" Jawab Nina pada adik Dinda.
" Halah alasan mau bertemu dengan kakakku, paling kamu ingin bertemu dengan Haikal saja dan berpura-pura memakai baju seperti ini. Wanita munafik," ucap Lina. Membuat Dinda menghampiri adiknya, mencubit pinggang Lina.
" Selamat atas pernikahan kalian Saya turut bahagia mendengar kalian sudah menikah," ucap Nina. Terseyum penuh luka.
"Mending kita masuk dulu ke dalam. Bu Nina biar enak ngobrolnya," ajak Dinda pada Nina.
Lina sang adik yang mendengar perkataan lebut kakanya pada Nina membuat Rina mendengus kesal.
"Terima kasih sebelumnya, saya hanya sebentar saja datang ke sini. Ingin meminta maaf sama kalian semua," ucap permintaan maaf dari Nina.
"Alah, modus saja. Minta maaf, sudah menyesal minta maaf, basi," sindir Lina. Membuat sang kaka menepuk kepalanya.
"Aduh."
"Terserah kalian mau maafkan saya atau tidak, saya hanya ingin meminta maaf. Dan tidak akan mengganggu kehidupan kalian lagi," ucap Nina. Dinda meraih tangan Nina. Seraya menjawab," saya sudah maafkan Bu Nina dari dulu. Begitupun dengan Lina ...."
"Enak Bener dimaafi. Kalau aku enggak sudi, maafin orang munafik kaya si Nina ini," cecar Lina. Menatap tajam kearah Nina.
__ADS_1
"Apa salahnya kita maafkan dia Lina, Allah ajah pemaaf masa umatnya enggak," ucap Dinda pelan.
"Ahk, kaka bisa maaf in wanita licik ini karna kaka tidak ada diposisi aku yang teraniaya. Perlakuan wanita ini tidak patut di maafkan," hardik Lina.
Plak ... satu tamparan melayang pada pipi kiri Lina.
"Kaka," ucap Lina. Air matanya berlinang.
"Kaka tidak pernah ajarkan kamu berkata tidak sopan pada orang lain Lina. Jangan bikin hatimu sekeras batu, yang tidak bisa menerima permintaan maaf dari orang lain," hardik Dinda. Nina segera berusaha menenangkan Dinda, seraya berkata." Benar kata adikmu. Bahwa saya tidak pantas dimaafkan."
Lina benar-benar kesal dengan sang kaka dan juga Nina. Gadis berambut pendek itu, berlalu pergi meninggalkan Nina dan Dinda.
"Maafkan saya Dinda, gara-gara saya. Adik kamu menjadi trauma. Oh ya, Haikal. Maafkan saya yang selalu memaksa dan membuat kamu merasa terganggu. Saya akan pergi setelah ini bersama papah."
Nina berpamitan dan meminta maaf pada Haikal dan Dinda. Hatinya belum merasa tenang sepenuhnya, karna Lina yang belum bisa memaafkan dirinya.
**************
Setelah kepergian Nina, wanita berbulu mata letik itu menghampiri sang adik yang tengah terduduk di ranjang kasur.
"Untuk apa kaka datang ke sini?" tanya Lina ketus. Mulut Lina berkerut menampilkan ketidak sukaan pada sang kaka yang datang menghampirinya.
Dinda mencoba duduk di samping adiknya, mencoba untuk bertanya?" Lina kenapa kamu jadi pemarah seperti ini sayang?"
"Pikirin aja sendiri!"
Dinda terus berusaha membujuk sang adik yang begitu kesal, ia mencoba mengoda adiknya agar tertawa. Mengelitik pinggang Lina, hingga gadis manis itu merasa geli dan tertawa terbahak-bahak.
"Geli kaka, sudah pokonya Lina enggak suka sama si Nina itu sampai kapanpun. Harusnya kaka tegas dong kasih dulu pelajaran untuk wanita semacam dia," ucap Lina nada bicaranya semakin meninggi.
"kamu tahu gak. De,"ucap sang kaka.
"Apa?" tanya ketus Lina.
"Tak perlu bersusah payah untuk membalas dendam, cukup maafkan setiap kesalahan. Karena memaafkan adalah pembalasan yang terbaik," ucap sang kaka. Berlalu pergi meninggalkan adiknya.
Lina terdiam mulutnya keluh. Ia mencerna setiap barisan kata yang diucapkan oleh sang kaka.
Di dalam perjalanan pulang, Nina merasa ada kejanggalan dalam dirinya, tiba-tiba mobil yang ia kendarai mendadak rem blong.
__ADS_1
Ia berusaha tenang agar tidak panik, jalanan begitu ramai. Membuat hatinya begitu tegang.
"Ya Allah bagaimana ini, selamatkan aku."