Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Ban 264


__ADS_3

"Kunaond maneh pake ngawangkong jeung si Hasan, bapakmah teresep."


(Kenapa kamu malah mengobrol dengan Hasan, bapak enggak suka.)


"Bapakmah salah paham, ibu ngawangkong jeung si Hasan. Menehna keur kasusahan."


(Bapak salah paham, ibu mengobrol dengan Hasan, dia lagi kesusahan.)


"Hah, alasan."


Pak Yono kini membawa ponsel sang istri, membuat Bu Sari kebingungan. Padahal dia merasa kasihan terhadap Pak Hasan, akan tetapi suaminya yang tak suka, kini mengambil ponsel dan menaruhnya di tempat di mana Bu Sari tak akan menemuinya.


Tangan Pak Hasan bergetar, setelah mendengar kemarahan dari bapak Nining. Ia tak menyangka jika Pak Yono malah memarahi istrinya.


Nining yang penasaran kini mulai bertanya pada Pak Hasan.


"Gimana pak?"


Lelaki tua itu kini memberikan ponsel pada Nining, ia megurungkan niatnya tidak akan meminjam uang dari Bu Sari.


"Gimana pak?"


Pak Hasan hanya menatap sekilas ke arah Nining, iya kini berjalan untuk segera menemui sang istri yang masih terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.


Pak Hasan berjalan dengan menundukkan kepala, seakan merasakan kekecewaan yang amat sakit dari relung hatinya.


Nining penasaran dengan apa yang sudah ibunya katakan kepada Pak Hasan, saat itulah Nining mulai menelpon lagi nomor ponsel sang ibu.


Namun, saat Nining mulai menelepon sang ibu, nomor ponsel Bu Sari tak aktip. Membuat Nining heran dan berucap dalam hati," apa bapak. Marah sama ibu."


Dimana Pak Hasan tengah duduk, Nining perlahan menghampiri lelaki tua itu.


"Tadi ibu bilang apa, pak?"


Nining berusaha bertanya dengan nada lembut, ia takut menyakiti hati lelaki tua yang memang dulu terkenal sombong.


"Tidak bilang apa apa!"


Pak Hasan seperti enggan memberitahu Nining, kedua pipinya memerah. Malu dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut Nining.


Nining merasa menyesal dengan apa yang sudah ia lakukan, harusnya Nining saja yang memberitahu sang ibu jika Pak Hasan ingin meminjam uang.

__ADS_1


Saat itulah Nining mulai berpamitan kepada Pak Hasan untuk segera pulang dari rumah sakit, karena seharian ini menunggu Bu Nunik.


"Oh, Ya. Pak, saya mau pulang dulu."


"Makasih ya, Ning. Sudah mau menunggu. Bu Nunik."


"Iya Sama sama. Pak."


Nining mulai berjalan pergi meninggalkan Pak Hasan yang merenung meratapi nasib.


@@@@@


Sedangkan Lina masih dengan rasa kesalnya, ia memukul mukul tembok merasakan kekecewaan pada hatinya.


"Aku tidak menyangkan jika Nining sekeji itu."


Gerutu Lina.


Ia mengepalkan kedua tanganya, untuk bergegas pergi ke kampung Nining. Tapi bagaimana caranya ia ke sana. Uang pun tak punya, sekarang wajahnya pun berantakan, nasih Lina begitu menyedihkan.


"Apa memang seperti ini, nasib wanita yang tercampakan oleh seorang lelaki. " Gerutu hati Lina.


Tubuh Lina terasa lemas, perut kini meronta ingin makan. Sedangkan Haikal dan Ardi masih sibuk dengan ibunda tercinta.


Beberapa jam sang ibu di pindahkan ke ruangan nomor 48, ruangan kusus Vip. Ardi sangat senang setelah menunggu sang ibu di oprasi, sekarang lelaki berbola mata coklat itu bisa melihat keadaan sang ibu.


Dengan berjalan lebih cepat, Ardi melihat wanita tua yang menjadi ibunya kini tertidur di ranjang tempat tidur. Ia mengecup kening sang ibu dan berkata." Cepat sembuh. Bu."


Fisik Bu Maya begitu kuat, setelah menjalani oprasi kedua matanya perlahan terbuka. Di saat ia merasakan kehangatan dari anaknya.


"Ardi?"


"Ibu, ibu sudah siuman!"


Di ruangan sang Ibu hanya ada Ardi seorang, sedangkan Pak Anton dan juga Adnan masih berada di luar ruangan. Ardi yang tak mau mereka masuk ke dalam ruangan mengancam mereka agar tidak bertemu dengan sang ibu.


"Ardi. Ibu ada di mana?"


"Ibu ada di rumah sakit!"


Betapa terkejutnya Maya setelah mendengar perkataan Ardi,"Apa? Kenapa?"

__ADS_1


Ardi berusaha menenangkan sang ibu," Ibu tenang ya."


"Lina dimana dia? Dan Alya?"


Maya masih pada tujuannya, karena ia berniat menyelamatkan Lina dari kejahatan sang adik.


Ardi berusaha menenangkan sang ibunda agar tidak panik, dengan mengusap punggung tangan sang ibu dan berkata," ibu harus tenang ya, Lina selamat kok? Dan Alya, Ardi belum tahu dia sekarang ada di mana?"


" Kenapa kamu tidak Mencari keberadaan Alya? asal kamu tahu Ardi, Alya itu berusaha menyelamatkan ibu. Dari Pras adik ibu sendiri."


"Ibu tenang, ya. Ardi juga mengerti dengan apa yang ibu kuatirkan sekarang!"


" Sekarang Lina ada di mana, Ibu ingin bertemu dengan dia sekarang juga?"


Sang Ibu menanyakan keberadaan Lina, di mana Ardi tadi pagi tak berhasil mengejar Lina, karena perkataan Haikal. Ardi tidak mengejar Lina kembali.


" kenapa kamu diam saja? Ayo katakan di mana Lina? Ibu ingin sekali bertemu dengan dia?"


Bu Maya terus saja menekan Ardi untuk mengatakan. Di mana keberadaan Lina sekarang?


" Ibu tenang saja ya? Nanti aku cari dia!"


Ardi berusaha menenangkan sang ibu dengan memberi penjelasan, karena sang Ibu tak mengetahui masalah yang tengah dihadapi Ardi dan juga Lina.


Apalagi sekarang Ardi sudah mempunyai hubungan bersama gadis desa yang bernama Nining, Ardi bingung harus mengatakan kepada sang Ibu dengan cara bagaimana. karena terlihat sekali Bu Maya terus memikirkan Lina, di mana Gadis itu adalah idaman Bu Maya.


Bu Maya yang dulu tak menyukai Lina sekarang begitu menyukai gadis itu, karena Lina yang sederhana dan tak pernah menuntut Ardi ataupun keluarga Ardi.


Bu Maya benar-benar kebingungan dengan perkataan Ardi," kenapa harus dicari? Memang Lina kenapa? Apa yang sudah perbuat pada Lina. Apa kamu membuat dia terluka, sampai dia pergi begitu saja."


Sang Ibu hanya berpihak pada satu orang saja, wanita tua itu tak melihat perjuangan Ardi untuk mengejar Lina, di mana Ardi berusaha membuat Lina jatuh cinta kepada dirinya. Agar Lina tak merusak hubungan sang kakak dan juga sahabat Ardi. Hingga di mana Ardi gagal dan kekecewaan itu dirasakan dirinya sekarang.


"Ardi kenapa kamu diam saja? Ayo jawab, ibu dari tadi ngomong loh?" pertanyaan sang Ibu membiarkan lamunan Ardi.


"Iya Bu. Ardi minta Maaf!"


Ardi ingin sekali menceritakan kejujuran tentang Lina dan juga hubungannya bersama Nining, kepada Sang Ibu.


Maya merasa heran dengan ucapan anaknya yang menampilkan raut wajah muram dan kesedihan yang amat dalam. Membuat maya berusaha menggerakkan tangannya, memegang pipi anak laki-laki satu-satunya." apa yang tengah kamu pikirkan Ardi? kenapa kamu malah diam dan terlihat bersedih? Sebenarnya kamu dan Lina itu masih berhubungan apa tidak? ibu sebagai orang tua tidak akan menekan kamu."


Wajah yang menunduk kini menatap ke arah wajah sang ibu.

__ADS_1


__ADS_2