
Sisil langsung memeluk ibunda Ardi, dan berkata," ibu jangan berkata seperti itu. Ibuku pasti tahu tentang kebaikan ibu sekarang, ibu Sisil sudah tenang di sana."
Sisil berpura pura mengeluarkan air mata, agar ibunda Ardi mempercayai ucapannya.
Setelah keluh kesah terlontar dari mulut ibunda Ardi, saat itu pula hati ibunda Ardi merasa tenang.
"Ibu sangatlah lega, karna ada kamu di samping ibu. Ibu tak tahu bagaimana jadinya jika tidak ada kamu di samping ibu. Mengkin ibu akan kesepian dengan kesedihan yang selalu menyelimuti hati ibu."
Sisil mengusap pelan bahu wanita tua itu. menenangkan segala kesedihan yang berada pada hati wanita itu.
setelah percakapan mereka berakhir, saatnya Sisil untuk kembali pulang, betapa senangnya Sisil pulang dengan membawakan hasil.
Iya bernapas lega lalu kembali keluar dari rumah ibunda Ardi, saat untuk ibunda Ardi tidak bisa mengantarkan Sisil keluar rumah, karena badannya yang tiba-tiba saja drop. dengan terpaksa Sisil berjalan sendiri Keluar rumah.
saat Sisil keluar rumah, tiba-tiba Ayahanda Ardi datang menghampiri Sisil. menghentikan langkah Sisil.
"Hai, Sisil?" tanya lelaki tua itu menyapa Sisil, membuat Sisil sedikit bingung karena sapaannya tidak seperti seorang ayah kepada menantunya.
"Pak!" jawab Sisil sedikit canggung di depan lelaki tua itu.
"Kenapa? Santai saja tak usah canggung seperti itu," ucap lelaki tua itu sembari melirik ke atas kepala Sisil hingga ke bawah.
Sisil hanya menundukkan kepala, bertingkah sopan terhadap calon mertuanya.
"Sisil, apa kamu yakin ingin menjadi pasangan Ardi anakku?"
pertanyaan lelaki tua itu membuat Sisil menatap sekilas ke arahnya. dia mengerutkan dahi, tak mengerti dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut calon mertuanya itu.
"Maksud bapak, apa ya. Saya kurang mengerti!?" tanya Sisil dengan sebuah jawaban.
"Kamu ternyata tak mengerti ya, apa maksud saya!" jawab Lelaki tua itu.
"Iya, pak saya tak mengerti," balas Sisil.
lelaki tua itu langsung membisikkan suatu perkataan kepada telinga Sisil," aku akan memberikan lebih dari apa yang kamu pegang sekarang."
__ADS_1
Ucapan lelaki tua itu membuat kedua mata Sisil membulat.
"Bagaimana Sisil?" tanya lelaki tua itu.
Sisil kini di ambang kebingungan, iya harus memilih antara anak dan juga ayahnya. yang akan membuat dirinya kembali bahagia tanpa kekurangan harta sedikitpun.
"Kamu bingung, padahal saya memberikan sesuatu yang sangat menguntungkan untuk kamu. daripada sekarang kamu harus mengejar anak saya Ardi, yang mungkin belum tentu menyukaimu. lebih baik kamu bersama saya saja. Bagaimana?" tawaran lelaki tua itu sangatlah menggiurkan untuk Sisil yang memang membutuhkan sekali harta untuk bisa membiayai hidupnya yang begitu mewah.
" Maafkan saya pak. Sepertinya saya tidak bisa," tolak Sisil. wanita muda itu melihat ibunda Ardi Tengah menatap kearah Sisil dan juga suaminya.
Mau tidak mau Sisil harus berusaha menolak tawaran lelaki tua yang menjadi ayah Ardi. karena ia tak mau rencananya dari awal gagal hanya karena tergiur dengan Ayahanda Ardi. yang memang akan menjamin kehidupannya dan juga keinginannya. daripada Ardi yang belum tentu akan menjamin kehidupannya dan akan menikahinya.
Sisil berusaha pergi dari hadapan lelaki tua itu, Iya ta Mau sang ibunda Ardi mencurigai dirinya yang lama bersama Ayahanda Ardi.
"Aku harus pergi dari sini, takut jika ibunda Ardi akan mencurigaiku." Gumam hati Sisi.
Sisil mulai pergi melewati lelaki tua itu, akan tetapi lelaki tua itu malah memegang tangan Sisil, membuat hati Sisil ketakutan.
" Kamu mau ke mana?" tanya Lelaki tua itu.
"Maaf pak, saya mau pergi."
lelaki tua itu terus menahan tangan Sisil, membuat Sisil sedikit risih karena istrinya terus menatap mereka berdua dari kejauhan. Sisil takut jika istri dari lelaki tua itu mencurigai gelagatnya.
tiba-tiba saja lelaki tua itu langsung memeluk badan Sisil, sampai di mana Sisil langsung mendorong tubuh lelaki tua itu hingga tersungkur jatuh.
"Kamu berani padakku, Sisil," bentak lelaki tua itu.
Kedua mata Sisil mengedip mengedip menunjukkan sosok istri lelaki tua itu. Hingga lelaki tua itu menyadari istrinya dari kejauhan tengah melihat tingkahnya.
wanita tua itu tak tahan dengan tingkah suaminya, ia dengan rasa kesal langsung menghampiri suaminya yang masih bersama Sisil.
"Kamu ini ngapain, Sisil ini calon menantu kita. Istri Ardi," pekik wanita tua itu. Menarik tangan Sisil.
Lelaki tua itu berusaha berdiri dan menjawab." terus apa salahku?"
__ADS_1
Sang istri hanya mengendus kesal, mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut suaminya membuat ia murka.
"Belum cukup, wanita wanita seksi yang kamu tiduri. Sekarang kamu mengiginkan calon istri anakmu sendiri," hardik sang istri kepada suaminya yang berdiri seperti orang yang tak punya salah sedikitnya.
Lelaki tua itu melipatkan kedua tangannya dan mendengarkan cerita istrinya yang terus menerus tergiang di telinganya.
"Sudah cukup kamu mengoceh?"
Wanita tua itu mulai menampar sang suami, " apa. Tampar saja."
Sisil yang melihat pertengkaran mereka merasa tak enak hati dan ingin segera pergi dari hadapan mereka berdua yang terus berdebat. Sisil ingin segera menikmati perhiasan yang ia bawa dari ibunda Ardi.
"Ya ampun, bagaimana ini. Aku ingin pergi dari rumah ini, malah tertahan oleh mereka berdua yang tiba tiba saja bertengkar." Gumam hati Sisil.
saat itulah Ardi mulai datang, dia melihat kedua orang tuanya Tengah bertengkar. membuat rasa kesal kini terasa pada diri Ardi.
"Kenapa bisa mereka malah bertengkar, di situasi aku cape pulang dari kantor." Gerutu Ardi.
Sisil hanya bisa melihat pertengkaran mereka, sedangkan Ardi mulai berjalan ke arah merek berdua dan berkata," stop. Bisa tidak kalian berhenti bertengkar, aku lelah melihat pertengkaran kalian berdua. Malas jadinya jika aku pulang ke rumah dalam keadaan kalian yang terus bertengkar, hampir setiap hari."
Kedua orang tua Ardi, terdiam. Saat Ardi menggertu kesal di hadapan mereka berdua.
"Ardi, sebenarnya ...."
Belum perkataan sang ibunda terlontar semuanya, saat itulah Ardi mulai berucap dengan lantang dengan menujuk Sisil sebagai biangnya.
"Aku tahu, kalian pasti bertengkar karna wanita ini ya."
" Ardi hentikan ucapanmu, Sisil itu wanita baik, semua ini gara gara ayahmu sendiri yang berulah. Dia merayu Sisil membuat Sisil ketakutan," bela sang ibunda pada Sisil.
Sisil hanya membungkukkan kepala bersikap lugu dan polos, ia tak mau jika Ardi melihat dirinya dari sisi buruk.
" Ardi, apa kamu yakin akan menikahi pilihan ibumu. Soalnya pilihan ibumu seperti selera ayah," ucap sang ayah kepada anaknya.
Ardi langsung menatap ke arah ayahnya dan menjawab," jika ayah mau. Ambil saja."
__ADS_1
Sang ibunda membulatkan kedua matanya tak percaya dengan perkataan anaknya.