
"Ya, makanya dari itu aku ragu. Aku tak mau terjebak untuk yang ke dua kalinya," gerutu Lina. Di hadapan Ardi.
Ardi langsung menjongkokkan tubuhnya di depan Lina, menatap ke arah Lina." Sudahlah tak usah ragu. Ayo cepat jawab, ini kesempatan kamu. Untuk bisa bebas dari villa ini."
Lina menelan ludah, dengan terpaksa dirinya menyebut kata iya kepada Ardi.
" Baiklah, aku menuruti apa keinginanmu."
Betapa senangnya Ardi saat mendengar Lina menjawab kata iya, dan juga mau menuruti keinginannya. Ardi langsung muncuil dagu Lina," nah begitu donk. kalau begini kan enak, jadi aku tak usah memaksa kamu. Agar kamu mau menuruti keinginanku."
Lina terus menyingkirkan wajahnya, dirinya tak mau jika Ardi terus menyentuh wajahnya.
"Bisa tidak tanganmu itu sopan sedikit, aku tak suka." Cetus Lina.
Ardi langsung berdiri, saat Lina berkata seperti itu.
"Sudahlah, tak apa jika aku memegang dagu kamu. Sebentar lagi kita akan menikah."
Deg ....
Kedua mata Lina membulat, saat Ardi berkata menikah, mana mungkin Lina tak mencintai Ardi.
"Kenapa kamu malah berbicara seperti itu Ardi." Teriak Lina.
Ardi membalikkan wajahnya dan berkata," apa aku salah. Bukannya kamu sudah menyetujui keinginanku."
"Jadi maksud keinginanmu itu, menikah denganku?" tanya Lina yang tak yakin.
"Betul sekali sayang. Keinginaku ini sekarang menikah denganmu, jadi mau tidak mau kamu harus menurutiku. Karna kamu sudah terikat perjanjian denganku, kamu paham Lina!" jawab Ardi.
Lina tak ingin menikah dengan Ardi, " aku tidak mau menikah denganmu, Ardi."
Ardi langsung mengerutkan dahi dan bertanya?" Kenapa kamu tidak mau menikah denganku. Bukannya kamu sudah menuruti keinginanku dalam perjanjian."
" perjanjian memang perjanjian, tapi tidak harus menikah," ucap Lina.
"Bagaimana lagi ya Lina, aku menjelaskan semuanya kepadamu, karna asal kamu tahu. Setiap kamu menuruti perjanjian yang aku buat, jadi kamu juga harus menuruti semua keinginanku," balas Ardi.
" Kamu benar-benar licik Ardi, kamu menjebakku." teriak Lina.
Ardi tertawa terbahak-bahak setelah mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Lina. Lina menuduh Ardi menjebaknya, padahal semua itu sudah menjadi keputusan yang bulat dalam perjanjian yang disetujui Lina.
" Sudahlah Lina. Tidak ada yang menjebak kamu saat ini, sekarang Kamu turuti keinginanku. Aku tidak banyak waktu, untuk berdebat dengan wanita cantik seperti kamu," ucap Ardi.
__ADS_1
Saat itu juga Ardi mulai menyuruh, kedua suruhhanya untuk membebaskan Lina, dari pasung.
"Sekarang aku sudah membebaskan kamu, sekarang ikut denganku pulang. Aku akan mengantarkanmu ke rumah," ucap Ardi.
Lina terdiam, ia tak mau jika harus pulang bersama Ardi, apalagi ke rumah.
"Ayo."
Lina tetap saja berdiri mematung, menatap kearah punggung Ardi.
sedangkan Ardi yang menyadari bahwa Lina tidak mengikuti langkahnya, membuat ia membalikkan badan ke arah Lina dan berkata," kenapa? Apa kamu tidak mau pulang ke rumah Lina? Jika kamu tidak mau pulang ke rumah, sekarang juga aku akan pergi!"
mendengar Ardi berkata seperti itu, Lina langsung berlari menghampiri Ardi.
" baiklah, aku akan mengikuti apa kemauan."
" kenapa kamu harus terpaksa, bukannya semua sudah kamu setujui dalam perjanjian?"
"Ya, aku tahu itu!"
"Bagus, jika kamu menyadari semuanya."
Lina langsung masuk ke dalam mobil Ardi. Ardi bergegas mengantarkan Lina terlebih dahulu.
Haikal menelepon Ardi, membuat Ardi langsung Menatap layar ponselnya dan mengangkat panggilan itu.
"Halo, Haikal," ucap Ardi. Dalam sambungan telepon.
Haikal tentu saja senang, Ketika sang sahabat langsung mengangkat panggilan teleponnya.
"Halo, Ardi. Lu ada di mana?" tanya Haikal yang begitu terdengar cemas.
Haikal ternyata sudah sampai di kantor. Iya belum juga masuk ke dalam, karena menunggu kedatangan Ardi. dan juga kepastian Ardi untuk mencari keberadaan Lina.
Ardi menatap sekilas kearah Lina yang duduk di sampingnya, tersenyum kecil dan langsung menjawab perkataan Haikal di dalam sambungan telepon," Aku akan segera pergi ke rumah Dinda. karena aku sudah menemukan adikmu."
Betapa senanganya Haikal mendengar berita bahwa Lina sudah ditemukan oleh Ardi, membuat dia bernapas lega, Haikal Kini tak lagi mencemaskan keadaan istrinya. karena Lina sudah ditemukan oleh Ardi.
"Jadi kamu sudah menemukan adik istriku?" tanya sekali lagi Haikal yang masih tak percaya dengan berita yang terlontar dari mulut Ardi.
" kamu masih ragu dengan apa yang aku katakan!" jawab Ardi. Ian langsung memberikan ponselnya kepada Lina, agar Lina mau berbicara dengan Haikal.
sebelum Ardi menyodorkan ponselnya, Ardi sempat mengancam Lina terlebih dahulu. agar Lina tak mengatakan hal-hal yang membuat Haikal menjadi benci terhadap Ardi.
__ADS_1
"Kamu ingat perkataanku saat di villa."
Lina hanya menganggukkan kepala, menuruti setiap ucapan yang terlontar dari mulut Ardi dengan keterpaksaan dari hatinya.
"Halo kak Haikal," ucap Lina pada sambungan telepon.
Saat itulah Haikal mulai mempercayai, akan Lina yang sudah ditemukan oleh Ardi.
"Lina, akhirnya kamu pulang juga dek. Kak Haikal dan kak Dinda sangat mengkhawatirkanmu," balas Haikal.
"Iya kak, maaf ya. Lina ke luar tidak bilang bilang kakak, malah membuat ke Haikal dan juga Kak Dinda kuatir," ucap Lina. merasa bahwa dirinya benar-benar bersalah.
" sudah kamu tahu sama minta maaf kepada kakak, yang terpenting kamu sudah ditemukan oleh Ardi dalam keadaan selamat. kamu harus cepat temui kak Dinda, dia begitu mengkhawatirkanmu, takut terjadi apa-apa denganmu Lina," balas Haikal.
"Baik kak, sekarang juga aku mau diantar Ardi untuk pulang ke rumah Kak Dinda," ucap Lina.
" Ya sudah kamu hati-hati di jalan ya," balas Haikal.
"Iya kak," balas Lina dengan rasa kecewa.
Lina langsung memberikan ponsel kepada pemiliknya, yang di mana panggilan masuk masih terhubung dengan Haikal.
"Ya, Haikal."
"Ardi, gue berhutang budi banget sama lu. Terimakasih lu udah menemukan Lina dan membawa Lina untuk pulang menemui Dinda istri gue."
"Santai aja brow, kita kan sahabat."
"Ya, teriman kasih sekali lagi."
"Oke sama sama."
panggilan telepon pun dimatikan sebelah pihak, waktunya Ardi fokus mengendarai mobil untuk segera sampai di rumah Dinda. mengantarkan Lina yang masih terlihat murung, memikirkan perjanjian dan keinginan Ardi.
" Kenapa dengan wajah kamu yang begitu terlihat murung Lina?" tanya Ardi.
Lina langsung menatap kearah Ardi dan berkata," aku tidak murung Ardi. itu mungkin perasaan kamu yang melihatku."
"Jelas saja, wajahmu terlihat sekali murung, Apa kamu masih memikirkan perjanjian dan kemauan ku saat di villa, sampai wajahmu itu terlihat begitu muram."
" Sudahlah jangan bahas lagi perjanjian yang terlantar dari mulutmu itu, Aku akan berusaha menerima semuanya."
"Bagus kalau kamu bertanggung jawab."
__ADS_1
kedua tangan Dinda mengepal begitu erat, membuat dirinya ingin sekali memukul Ardi.