
Lina bergegas pergi menjauh dari hadapan Haikal, ia tak tahan dengan wajah Haikal yang terlihat begitu tampan. Membuat detak jantungnya tak karuan.
Menutup pintu dan menyenderkan punggung pada pintu.
Tangan Lina memegang lembut dadanya.
Haikal yang merasa heran, menghampiri Lina mengetuk pintu kamar sang adik.
"Lina, apa kamu baik baik saja."
Lina berteriak dengan nada gugupnya," aku tidak kenapa- kenapa kok ka."
Haikal, kini meninggalkan pintu kamar Lina, bergegas kembali kepada Dinda.
Terlihat Dinda tengah duduk, di ujung kasur dengan menatap jendelan.
"Dinda."
Panggilan dari Haikal, tak di jawab oleh Dinda.
Saat itulah Haikal, mulai memegang bahu istrinya.
"Kamu marah Dinda?"
Dinda tetap saja diam tak menjawab perkataan suami, hatinya benar-benar kesal melihat tingkah suaminya yang terlalu peduli dengan sang adik.
"Dinda. Aku berharap kamu tidak terlalu mengatur dan memarahi Lina. Kasihan dia," ucap Haikal.
membuat Dinda seketika berdiri, menata ke arah suaminya." Jadi kamu membela Lina."
"Aku bukan membela Lina, hanya saja dia ...."
Belum perkataan Haikal terlontar semuanya, Dinda mulai membentak sang suami." Mas, harusnya kamu tidak terlalu memperhatikan adikku, dia sudah besar. Bagaimana kalau adikku sendiri menaruh hati padamu."
tiba-tiba saja tangan Haikal mulai melayang kearah pipi sang istri, namun saat itu juga Haikal mengingat pesan sang ibu yang selalu terucap," jangan pernah kasar terhadap wanita. Tetap sabar dan mengalah."
Saat itu pula Haikal mulai mengepalkan tangannya, dia mengurungkan niatnya untuk menampar istri.
"Kenapa kamu turunkan lagi, tanganmu, ayo tampar."
Haikal tak tega melihat air mata yang terus mengalir mengenai pipi Dinda, ia bergegas pergi untuk segera berangkat berkerja.
sedangkan dengan Dinda dia hanya menangis duduk kembali di atas ranjang, meredakan rasa sesak di dada.
@@@@@
Di dalam perjalanan menunggu bis untuk segera berangkat bekerja, Haikal tetap saja memikirkan perkataan sang istri.
Setelah sampai kantor, Haikal di kejutkan dengan salah satu temannya bernama Ardi.
"Hey."
Lamunan Haikal seketika membuyar, saat Ardi menepuk bahunya.
"Apa sih lu."
"Melamun aja, nanti di sambet kolong wowo baru tahu rasa lu."
Mengerutkan dahi. Haikal menjawab," kolong wewe kali."
__ADS_1
"Ngomong ngomong, lu. kenapa sih, bisa bisanya melamun, biasanya juga fress selalu happy. Lah, sekarang suram, kaya penghuni kuburan."
"Bisa enggak, mulut lu tu diem. Biar hati tenang."
Ardi menepuk kembali bahu Haikal.
"Ya, elah lu. Sentimen amat."
"Habisnya sih lu."
rasanya Haikal ingin mengatakan masalah yang ia hadapi saat ini kepada Ardi. Tapi hatinya merasa gengsi akan bercerita tentang masalah pribadinya.
ketika ia bercerita otomatis aib istrinya di ketahui orang lain.
"Lu kenapa sih. Melamun lagi."
Haikal mengusap kasar wajahnya, menatap ke arah Ardi.
"Kepo."
dia melanjutkan langkah kakinya untuk masuk ke dalam kantor, Karena setelah menikah dengan Dinda. Kini ia mendapatkan pekerjaan yang layak, yang bisa mencukupi kebutuhan rumah tangganya bersama Dinda.
Ardi yang selalu usil terus saja mengikuti Haikal, dia ingin sekali mengetahui Apa masalah yang tengah dihadapi Haikal.
"Heh, Haikal. Lu kenapa diam terus."
"Itu bukan urusanmu. Sudah cepat kerja, Nanti Bos marah baru tahu rasa kau."
mendengar Haikal berkata seperti itu, Ardi kini melangkah mundur. Iya tak mau lagi bertanya tentang keadaan Haikal, yang tiba-tiba saja marah saat ditanya.
"Heh."
Ardi membalikan badan, saat Anton 'menepuk bahunya.
"Lu, kaya orang ketakutan gitu. Ngapain sih jalan, pake acara mundur mundur. kalau nabrak orang lu sendiri yang kena marah."
"Hah, lu enggak bakal paham kenapa gue begini."
"Terus kenapa?"
"Kepo."
Anton langsung menjitak kepala Ardi dengan begitu keras, membuat Ardi merintih kesakitan Seraya mengusap mengusap kepalanya.
"Kenapa lu malah, pukul gue. Comber."
"Habisnya lu, ngeselin."
Anton kini berjalan, dengan sedikit berlenggak-lenggok layaknya seorang wanita. membuat Ardi bergidik ngeri.
"Dasar, ******."
@@@@@
Di dalam rumah.
Dinda mulai menghampiri kembali adiknya yang berada di dalam kamar tidur, ia menggedor-gedor pintu kamar Lina.
"Lina, ke luar kamu."
__ADS_1
Dinda terus saja berteriak, sedangkan Lina Tengah tertidur begitu. tak memperdulikan teriakan kakaknya.
"Lina, cepat ke luar."
Karna tak tahan dengan teriakan sang kakak, saat itu lah Mina bangun dari ranjang tempat tidurnya. sembari mengusap mengusap kedua Telinganya yang merasa panas akan teriakan sang kakak dan juga gedoran pintu.
"Apa sih. Enggak tahu apa orang lagi tidur." Pekik Lina.
kini Lina mulai berjalan menghampiri pintu kamarnya, membuka perlahan pintu kamarnya. Linda sudah berdiri dengan raut wajah yang begitu terlihat marah.
"Ada apa sih. Ganggu orang tidur saja." Cetus Lina dihadapan sang kakak.
saat itulah Dinda mulai menarik tangan Lina, membawa Lina ke ruang tamu.
"Ini kenapa sih. Pake acara tarik tangan begini. Sakit tahu."
Dinda mulai mendorong tubuh Lina agar duduk di sofa ruang tamu.
membuat Lina kaget," kakak ini apa apaan sih."
kedua mata Dinda menatap tajam ke arah Lina.
Membuat Lina berdiri, dan melewati tubuh sang kakak.
Namun Dinda dengan sigap, menahan Lina agar tidak pergi dari hadapanya.
"Mau ke mana kamu."
Lina mulai menghempaskan tangan sang kakak namun Dinda mendorong lagi tubuh Lina hingga Lina terehentak duduk di sofa ruang tamu.
"Kamu mau ke mana, dengarkan dulu Kakak berbicara, setelah Kakak selesai berbicara Kamu boleh pergi dari hadapan kakak."
"Malas sekali aku harus mengobrol dengan kakak."
Deg .....
ucapan yang terlontar dari mulut Lina, membuat Dinda semakin heran. Lina tidak biasanya seperti itu.
"Kakak kasih perigatan lagi sama kamu, jangan terlalu memperhatikan suami kakak."
Lina yang duduk, kini kembali bangun. Berhadapan dengan sang Kakak, melipatkan kedua tangan tersenyum kecil.
"Ayolah kak, jangan egois."
"Apa maksud perkataan kamu Lina?"
"Hah, Sudahlah Kak jangan berpura-pura polos!"
"Lina, kakak tidak mengerti dengan apa yang kamu maksud. Kakak hanya memberikan peringatan kepada kamu agar kamu tidak terlalu dekat dengan suami kakak."
"Terus memangnya seorang adik yang ingin dekat dengan kakaknya, Malah di larang begitu saja. Itu tak adil kak"
"Kakak bukan ....."
"Sudahlah kak, jangan egois lagi. Lina cape, mau tidur."
Dinda semakin kesal dengan perkataan Adiknya sendiri, Iya menarik tangan Lina mencengkram begitu erat Seraya berkata." tidak baik kamu terlalu dekat dengan Suami kakak."
"Kakak ini, hanya sekedar dekat dengan suami kakak. Kakak sewot begini."
__ADS_1
"Kakak bukan sewot, tapi semua tak pantas terlihat oleh orang lain. Kamu ini hanya sekedar seorang adik perempuan kakak."
"Ahkk, sudahlah kakak. Harusnya kakak itu senang jika suami kakak bisa dekat dengan Lina adik kakak sendiri, bukan malah di larang. Kakak ini Aneh ya."