Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 26


__ADS_3

Setelah pulang dari pemakaman, Haikal meminta bantuan pada Bu Sari adik dari ibunya Haikal.


"Bi, apa bibi bisa bantu Haikal, untuk Dinda dan Lina agar menginap sebentar di rumah bibi?" tanya Haikal pada bibinya.


"Boleh dong!" jawab Bi Sari.


Saat itulah Haikal akan menikahi Dinda setelah, selesai tahlil hari ke tujuh sang ibunda.


Setelah hari ke tujuh Haikal akan menikahi Dinda. Dengan acara sederhana, karna itulah permintaan Dinda.


Namun, entah kenapa sang Bu Sari menghampiri Haikal, seraya memberikan sebuah amplop coklat entah apa isinya.


"Ambil lah Haikal ini dari almarhum emak kamu," ucap Bu Sari kepada keponakannya.


Haikal mencoba meraih amplop yang diberikan oleh Bu Sari.


"Apa ini bi?" tanya Haikal.


"Coba kamu buka!" jawab sang bibi.


Haikal Mencoba membuka amplop berwarna coklat itu. Membuka perlahan, ternyata di dalam amplop yang di berikan Bu Sari. Adalah uang lembaran merah yang di kumpulkan ibunda Haikal ketika masih hidup.


"Ini beneran. Bi?" tanya Haikal. Tak percaya dengan apa yang di lihatnya.


"Emak kamu berpesan untuk memberikan uang ini, ketika kamu sudah mempunyai calon istri!" jawab Bi Sari.


Mata Haikal mengeluarkan air mata, dadanya kian sesak. Mengingat kepergian emak.


"Bi, padahal Haikal belum memberikan apa yang emak mau," ucap Haikal pada Bu Sari.


Wanita tua yang menjadi bibi Haikal, mengusap pundak keponakannya Seraya berkata, “emak kamu ingin yang terbaik untuk kamu Haikal, makanya dia berusaha bekerja keras untuk bisa membahagiakan kamu. Makanya setiap kamu mengirim uang kepada emak kamu, emak kamu tidak berani memakai uang itu ia malah mengumpulkan untuk kamu kelak bisa membuat rumah bersama calon istrimu."


Hati Haikal begitu rapuh saat itu ia tak menyangka sebegitu pedulinya seorang ibu pada anaknya.


" Asal kamu tahu Haikal. Emak kamu sering sakit-sakitan dia sering berbohong pada kamu bahwa Iya sehat, padahal Ia tengah berjuang melawan penyakitnya sendiri, emak kamu tidak mau kamu tahu penyakit yang diderita emak saat kamu merantau ke Jakarta."


Perkataan Bu Sari membuat Haikal merasa bersalah. Kenapa Emak bisa menyembunyikan penyakitnya padahal Haikal disana begitu Ingin melihat Emak sehat.


Air mata Haikal tak tertahan lagi, terus saja mengalir mengenai pipi, sesak di dada membuat pikirannya tak karuan. Hatinya benar-benar rapuh saat mendengar Bu Sari yang menceritakan perjuangan Emak melawan penyakitnya sendiri tanpa Haikal menemani.


Pantas saja aku sering mendengar Ma batuk Setiap ku tanya Mas selalu berkata ini hannyalah batuk biasa, gumam hati Haikal.

__ADS_1


Menggenggam erat amplop berwarna coklat itu. Haikal berjanji akan menyumbangkan uang yang dikumpulkan Emak kepada anak yatim dan orang-orang tak mampu dengan atas nama Bu Suri.


Biar uang ini menjadi ladang pahala untuk emak di akhirat nanti.


"Terimaksih emak, selalu membahagiakan Haikal dan berusaha tidak membuat Haikal sedih dan kuatir."


Satu minggu berlalu pernikahan Haikal dan Dinda digelar gimana pernikahan itu. Hannyalah pernikahan sederhana tanpa riasan dan dekor.


" Apa kamu yakin Dinda, pernikahan kita ini terlalu sederhana. Apa kamu tidak ingin dirias seperti orang-orang dan duduk di pelaminan dengan dekor yang mewah," tawaran Haikal kepada calon istrinya.


Dinda menggeleng-gelengkan kepala Seraya menjawab," untuk apa dekor mewah make up mewah jika hanya untuk dipandang oleh orang biar terlihat wah. Dinda ingin yang sederhana saja Haikal, Dinda lebih suka yang seperti ini kalau kita punya uang baiknya kita tabung saja untuk kebutuhan, kedepannya atau Kalaupun kita punya uang lebih ada baiknya kita bantu untuk orang-orang yang susah dan membutuhkan. Masih banyak orang-orang yang hidupnya kurang beruntung dari kita."


" Alhamdulillah kalau begitu Dinda terima kasih!"


Ijab qobul pun dimulai, di dalam masjid. ketegangan mulai merasuki hati pikiran Haikal ia berdoa agar dipermudahkah segalanya.


Dan alhamdulillah acara pun berjalan dengan lancar Haikal dan Dinda sah menjadi suami istri.


*************


Lina yang sudah dua minggu ini tidak bertemu dengan Haikal, Iya Berencana untuk menemui Haikal saat itu juga di kontrakan Bu Nunik.


Setelah sampai di kontrakan Bu Nunik yang ditempati oleh Haikal Nina langsung mengetuk pintu kontrakan Haikal saat pintu terbuka bukannya Haikal yang keluar ternyata seorang wanita paruh baya


"Maaf apa Haikal nya ada?"


" Haikal Maaf ya Mbak. Di sini tidak ada yang namanya Haikal, hanya saya yang mengontrak di kontrakan ini, coba tanyakan pada Bu Nunik pemilik kontrakan ini siapa tahu dia tahu orang yang bernama Haikal."


Saat itulah Nina mencoba menemui Bu Nunik, menanyakan keberadaan Haikal ada di mana. Nina bertanya dengan bersikap ramah mencoba mengetuk pintu pemilik kontrakan itu.


"Assalamualaikum."


Saat itulah Bu Nunik membuka pintu seraya menjawab. “Waalaikumsalam, eh ternyata Bu Nina. Ada apa ya?"


"Kebetulan sekali Bu saya datang ke sini mau bertemu dengan Haikal. Apa Ibu tahu keberadaan Haikal? Tadi saya ke kontrakan tapi kok orangnya beda ya! Apa Haikal pindah kontrakan apa gimana Bu?"


Saat itulah Bu Nunik menceritakan semuanya membuat wanita berambut panjang itu sedikit kaget dia tak menyangka ternyata Haikal pulang kampung bersama Dinda wanita janda itu.


"Pulang kampung untuk apa ya. Kok bisa bersama Dinda?" Tanya Dinda pada Bu Nunik.


"Loh Bu Nina belum tahu ya!" jawab Bu Nunik.

__ADS_1


"Belum tahu apa ya, Bu Nunik. Saya kurang mengerti?" tanya Nina.


"Haikal dan Dina pulang ke kampung halaman untuk menggelar acara pernikahan! Saya kira Bu Nina sudah tahu. Bukannya Bu Nina dekat ya, dengan Haikal. Apa Haikal lupa memberi tahu Bu Nina," ucap Bu Nunik.


" ya sudah terima kasih ya Bu Nunik atas informasinya, kayaknya Haikal sibuk jadi lupa ngasih tahu saya. Saya permisi dulu ya Bu."


"Oh ya sudah Iya sama-sama."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Nina tak menyangka jika Haikal akan menikah dengan Dinda.


"kenapa bisa seperti itu, kenapa Haikal mencintai janda itu padahal aku seorang gadis cantik kaya. Kenapa Haikal tidak tertarik denganku, Haikal malah tertarik dengan janda burik miskin seperti Dinda itu," gerutu Nina menaiki mobil. Mendesah resah kesal dengan kenyataan yang ada saat ini. Nina mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi ia masih tak menyangka jika Pujaan hatinya Haikal menikah dengan Dinda


"Sebenarnya sih Dinda itu punya apa sih? Kenapa Haikal bisa tertarik dengan wanita semacam Dinda."


"Ini tidak harus aku biarkan. Haikal harus jadi milikku Haikal harus aku bisa dapatkan, bagaimanapun caranya semua ini gara-gara wanita janda itu. Coba kalau dia tidak ada mungkin aku sekarang bahagia bersama Haikal."


**********


"Sekarang kita sah, menjadi suami istri," ucap Haikal pada Dinda.


Dinda masih terdiam di rajang tempat tidur, ia seakan malu jika di sentuh oleh suaminya.


"Apa kamu sudah siap Dinda?" tanya Haikal.


Dinda terdiam ia masih ragu, mencoba memberanikan diri berkata," apa Mas, akan kecewa?"


Haikal tersenyum seraya bertanya?" Kecewa kenapa?"


Dinda terdiam ia masih ragu, mencoba memberanikan diri berkata," apa Mas, akan kecewa?"


Haikal tersenyum seraya bertanya?" Kecewa kenapa?"


Dinda benar-benar malu saat itu, karna bekas luka pada tubuhnya yang begitu banyak. Membuat dia seakan enggan menampakkan bentuk tubuhnya.


"Kalau kamu belum siap, tidak apa-apa?"


Dinda terdiam, saat itu Haikal menarik lengan istrinya untuk tidur di dada bidangnya.

__ADS_1


Air mata Dinda mengalir, rasanya seakan seperti mimpi.


Dinda berharap Haikal suami terakhirnya sampai maut memisahkan dan di surga nanti.


__ADS_2