Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 84


__ADS_3

Ardi yang sudah mengantarkan sang Ibu menuju kamarnya, kini mulai bergegas berjalan menuju Lina yang tengah menunggu di luar rumah. Ardi kuatir dengan Lina yang sudah menunggu dirinya dari tadi.


setelah sampai di luar rumah, Ardi melihat Lina tengah duduk di kursi depan rumah.


"Sayang, kamu nunggu lama. Ya," ucap Ardi. membuat Lina tak terbiasa dengan kata panggilan sayang.


"Malu, ada ayah kamu," bisik Lina pada telinga Ardi.


Ardi tertawa kecil, saat kedua pipi Lina memerah. Ia mengusap pelan rambut Lina dan berkata," kenapa harus malu. Sebentar lagi kita kan akan menikah."


Sang ayah yang baru saja mengecek mobil, mengurungkan niatnya untuk pergi. Lelaki tua itu berencana untuk kembali lagi ke dalam rumah untuk segera beristirahat.


sang ayah melihat keakraban Ardi dan juga wanita itu seperti tak biasa, membuat lelaki tua itu bertanya kembali kepada Ardi.


" kalian berdua begitu akrab sekali, tidak seperti seorang teman?" tanya sang ayah.


Ardi langsung menjawab pertanyaan sang ayah," teman. jelaslah kita berdua Ini bukan sekedar teman saja. Sebentar lagi kita akan menikah, jadi ayah akan mempunyai seorang menantu."


Lina sedikit memukul bahu Ardi, dirinya seakan malu dan belum siap untuk mengenal lebih jauh Ardi dan keluarganya.


"Malu lah."


sang ayah bersikap biasa saja saat mendengar anaknya sudah mempunyai calon istri, Iya kini membalas ucapan anaknya sendiri," selamat."


Lina tentu saja kaget dengan jawaban ayahnya yang hanya bisa berkata selamat.


saat itulah ayahnya mulai masuk ke dalam rumah, sedangkan Ardi menarik tangan Lina untuk masuk ke dalam mobil.


setelah mereka berada di dalam mobil, lina langsung bertanya dengan jawaban yang terlontar dari mulut ayahnya Ardi.


"Ardi, masa ayahmu tidak terlihat seperti senang. Dia hanya berkata selamat, sebenarnya kalian itu keluarga atau bukan sih, kenapa kalian itu seperti sama sama orang lain dan tak ada tanda tanda keharmonisan di rumah besar ini?" tanya Lina.


Ardi tersenyum kecil, Iya seakan enggan mengatakan masalah keluarganya yang begitu rumit, membuat dirinya menutup rapat-rapat di depan Lina.

__ADS_1


" Sudahlah kamu tidak usah memikirkan ayahku yang takut seperti itu. dia orangnya memang begitu!" jawab Ardi.


tetap saja Lina masih penasaran dengan keluarga Ardi yang terkesan saling cuek.


" Sekarang kita mau kemana?" tanya Ardi kepada Lina.


Lina langsung Menatap layar ponselnya. yang di mana Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. membuat Lina sedikit kaget karena ia takut jika Kakaknya sendiri akan memarahi dirinya jika pulang terlalu sore.


" sebaiknya kita pulang saja, aku takut nanti Kak Dinda mencemaskanku!" jawab Lina. sebenarnya Lina masih ingin jalan-jalan bersama Ardi, akan tetapi ia takut jika Kakaknya sendiri marah dan selalu mengabaikannya


. Jika ia tidak menurut lagi.


"Yang benar, kamu tidak mau jalan jalan lagi denganku?" tanya Ardi.


saat itulah Lina tak sadar bibirnya mengatakan tentang kejujuran," sebenarnya aku mau. Hanya saja takut jika kak Dinda marah."


"Apah?" tanya Ardi.


saat itulah Ardi mulai menyindir calon istrinya dengan berkata," uluh masih anak manja. Di marahin kakak."


Ardi tak segan-segan mencubit pipi chubby Lina, membuat Lina meringis kesakitan, dirinya memukul pelan bahu Ardi.


"Ahk, sakit tahu."


@@@@


di rumah Dinda sangat menghawatirkan sang adik yang belum pulang hingga sore hari, membuat sang suami yang tak lain ialah Haikal bertanya kepada istrinya.


" Kamu ini kenapa sih bolak-balik, bolak-balik kesana kemari? Apa sih yang kamu kuatirkan saat ini Dinda?" tanya sang suami membuat Dinda berhenti berjalan bolak-balik ke sana ke mari.


"Mas, Kamu ini nggak mengerti ya apa yang aku kuatirkan saat ini," balas Dinda membuat Haikal langsung bertanya?" Memangnya apa yang tengah kamu kuatirkan saat ini? Sampai kamu tak tenang bolak-balik ke sana ke mari.


Dinda menepuk dahinya," Mas aku ini kan punya adik yang tak lain ialah Lina dia kan masih gadis aku takut dan kuatir terhadap dia. Masa kamu sebagai suamiku tak mengerti"

__ADS_1


Haikal yang tengah duduk ini mulai berdiri menghampiri kekuatiran sang istrinya dengan mengelus punggung istrinya dan berkata, Lina itu bukan anak kecil lagi jadi mana mungkin dia tidak pulang-pulang nanti juga dia pulang. kemungkinan Lina pergi bersama sahabatku, jadi kamu tak usah kuatir lebih baik kamu Siapkan makanan nanti. jika Lina datang dan juga Ardi. Kita kan bisa makan bersam."


Dinda langsung bertanya kepada suaminya," Kok kamu bisa tahu jika Lina adikku bersama Ardi."


" Iya. Tadi Ardi ngirim pesan padaku, kalau Ardi membawa Lina jalan-jalan dan sekalian mengenalkan Lina kepada keluarganya."


"Pantas saja Lina, belum pulang jam segini, ternyata dia pergi bersama Ardi."


"Mas, tumben kamu tidak menghuatirkan Lina adikku sendiri, biasanya kamu menguatirkan adikku daripada aku istrimu sendiri."


"kamu ini ngomong apa sih, aku ini menguatirkan Lina karena keluarga Ardi itu banyak sekali masalah,..."


Belum perkataan Haikal terucap semuanya, suara ketukan pintu terdengar di mana Dinda langsung bergegas menghampiri depan rumahnya. saat pintu depan rumah dibuka dan benar saja Lina bersama Ardi dengan membawa begitu banyak belanjaan.


Haikal bergegas menghampiri Dinda yang tengah membuka pintu, saat itulah Ardi tersenyum dan membisikkan sesuatu pada telinga Haikal.


setelah membisikkan sesuatu pada telinga Haikal, saat itulah Ardi mulai meminta maaf karena sudah membawa Lina tanpa seijin Dinda. Lina melipatkan kedua tangannya dan memaklumi semua itu dia berusaha tetap ramah di hadapan Ardi.


Hingga beberapa menit kemudian. Ardi berpamitan untuk pulang, namun Dinda menahan kepulangan Ardi untuk masuk terlebih dahulu ke rumahnya dan menikmati masakan yang baru saja di sediakan untuk Lina dan juga Ardi.


karena Dinda yang memaksa pada akhirnya Ardi masuk kedalam rumah, mereka berkumpul bersama menikmati setiap masakan yang dimasak oleh Dinda setiap kali Ardi berada di rumah Dinda ia merasakan rasa kehangatan keluarga yang sebenarnya, hatinya merasa iri dengan keluarga sederhana Dinda yang selalu bersama tidak seperti keluarganya yang mempunyai banyak masalah dan juga perdebatan yang tak kunjung Usai selesai.


Ardi tersenyum bahagia saat menikmati, setiap makanan yang di masak Dinda. Ia seakan menemukan sosok keluarga yang sebenarnya.


."Ardi, kamu kok makannya dikit. Nih kak Dinda tambahin sayur bayam, pasti kamu suka," ucap Dinda yang begitu perhatian.


"Terima kasih kak Dinda," ucap Ardi. seakan menemukan sosok seorang kakak yang menyayanginya.


Haikal yang jail memukul punggung Ardi yang tengah menikmati sayur banyam. Membuat Ardi batuk.


Saat itulah Dinda memukul kepala Ardi dan berkata." kamu ini, orang lagi makan juga."


" Sory Ardi, sengaja."

__ADS_1


__ADS_2