Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 72


__ADS_3

Ardi yang masih di dalam kamar, tak menyangka jika ibu dan ayahnya masih saja bertengkar, membuat kedua telinga Ardi benar-benar terganggu.


Ardi ingin sekali merasakan kehangatan dalam keluarganya, bukan pertengkaran yang selalu ia dengar setiap hari. Kekayaan tidak menjamin kebahagian dalam keluarganya yang selalu terpandang bagus di depan orang lain.


kesal dan juga tak kuat dengan ibu dan ayahnya yang selalu bertengkar. Pada saat itulah, Ardi langsung keluar dari kamarnya, menghampiri kedua orang tuanya. Yang masih saja bertengkar dan berdebat tiada henti.


Kedua orang tuannya ternyata berada di ruang keluarga. Membuat Ardi langsung menatap tajam pada kedua orang tuanya, Iya berjalan dengan begitu cepat menghampiri kedua orang tuanya yang tengah bertengkar hebat.


" Ayah, ibu. Bisakah kalian itu tidak selalu bertengkar, aku pusing mendengar Kalian terus saja bertengkar. Sehari saja beri aku waktu untuk tenang di rumah ini. agar aku bisa melihat kebahagiaan terpancar di rumah," hardik Ardi kepada kedua orangtuanya.


kedua orang tua Ardi langsung terdiam, mereka menghentikan perdebatan.


" kalau memang kalian sudah tidak kuat untuk bersama, Sudahlah Cepat kalian bercerai saja."ucap Ardi yang memang benar-benar kesal kepada kedua orangtuanya.


Baru kali ini Ardi marah, dan menyuruh kedua orang tuanya untuk bercerai.


Sang Ibu langsung angkat bicara, membalas semua ucapan anaknya," dari dulu Ibu ingin bercerai dengan ayahnya. tapi ayah mu tetap saja mempertahankan ibu!"


Sang ayah bukannya membalas ucapan yang terlontar dari mulut istrinya, lelaki tua itu malah pergi dan masuk ke dalam kamar. dengan menutup pintu kamarnya begitu keras.


" Kamu lihat sendiri Ardi, kelakuan Ayah kamu sendiri. Bukannya dia menceraikan Ibu, dia malah pergi tanpa berucap satu kata-kata pun." Pekik sang ibu menunjuk ke arah sang ayah


Ardi berteriak kesal, ia mengabaikan ucapan sang ibu, pergi dari hadapan sang ibu untuk kembali merebahkan tubuhnya yang memang terasa sangat lelah.


Sang Ibu kini berjalan pelan menuju ruang tamu, ia duduk di atas sofa menyalakan tv," hanya itu teman yang membuat dirinya selalu tenang. Entah kenapa ayah dan anak begitu sama kelakuannya, mereka seakan tak menghargai perasaanku sebagai seorang ibu dan juga seorang istri."


@@@@@@


Haikal pulang sembari memikirkan Ardi. Iya tak sengaja mendengar percakapan orang tuanya dengan Ardi. membuat Haikal ragu untuk memberikan Lina kepada Ardi.


" Aku tak menyangka jika ternyata Ardi, mempunyai masalah yang sangat besar, di dalam keluarganya. kalau saja aku tahu dari awal, mungkin aku tidak akan memberikan Lina kepadanya."


Di dalam mobil bus, Haikal menatap jendela kaca, dirinya merindukan sosok sang ibu yang selalu ia rindukan, saat dirinya mempunyai masalah dan merasa tertekan akan keadaan.


sebagai seorang lelaki yang berusaha selalu berani, Haikal tak bisa membohongi hatinya. kedua matanya mengeluarkan air mata akan Kerinduan dirinya kepada sang ibu yang selalu membuat dirinya bahagia.


"Bu, aku rindu."

__ADS_1


Perlahan, tetesan air mata itu mengenai tangan Haikal. Membuat Haikal merasa malu pada dirinya.


"Aku harus kuat."


Haikal berusaha kuat akan keadaan dan belajar lebih dewasa lagi menerima semua masalah yang terjadi pada dirinya.


Setelah sampai di rumah, Haikal melihat Dinda duduk di kursi, ia menunggu kedatangan sang suami.


Haikal, menghampiri Dinda. Memegang pipi Dinda dan berkata," Dinda. Bangun."


Lina yang menyadari kedatangan Haikal, hanya mengintip di balik tembok.


Melihat Haikal begitu perhatian sekali pada Dinda. Membuat rasa iri terus merasuk pada hatinya.


"Kenapa pemandangan itu terus ada di hadapanku. Rasanya muak sekali jika melihat mereka terus bermesraan membuat hatiku hancur." Gumam hati Lina. Memegang dadanya yang terasa begitu sesak dan sakit.


"Mas, kamu sudah pulang?" tanya Dinda yang baru saja bangun.


" Dinda, kenapa kamu tidur di sini!?" jawab Haikal. Bertanya dengan mengusap rambut kepala istrinya.


" Mas, aku nungguin kamu dari tadi. Soalnya aku bikinin kamu makanan sepecial kesukaan kamu," ucap Dinda tersenyum penuh kebahagian.


Dinda tersenyum dan berkata," ya. enggak papa."


Saat itulah Dinda menarik tangan suaminya, untuk segera pergi ke ruang makan. Sedangkan Lina menunggu sang kakak mengajaknya untuk makan.


Perut Lina terasa sekali keroncongan membuat ia tak tahan, dan langsung duduk di atas kursi.


Haikal mengerutkan dahi dan berkata," tumben kamu Lina."


Lina hanya mendelik dan fokus kembali mengambil makanan, sedangkan Dinda tersenyum kecil. Sembari menyuapkan makanan ke mulutnya.


" Lina, maafkan kakak. Kakak akan berusaha membuat kamu tidak manja dan kurang ajar kepada kakak." Gumam hati Dinda.


"Kenapa sih dengan kak Dinda. Tumben sekali dia tidak peduli padaku, aku kesal sekali di buat kakakku ini." Gerutu Lina. Menyuapkan makanan dengan begitu cepat.


Haikal dan Dinda, kaget dengan nafsu makan Lina yang begitu rakus.

__ADS_1


"Lina makan itu pelan pelan, nanti kamu tersedak." Ucap Dinda pada adiknya.


Lina mengabaikan ucapan kakaknya, ia tak peduli. Sampai akhirnya dirinya batuk, dan membutuhkan air minum.


Lina mencari ke mana mana air minum itu, tapi tak ada. Hingga akhirnya Dinda berkata," Lina maafkan kakak, galonnya belum terisi."


Lina seakan tak kuat, ia terpaksa berlari ke kamar mandi dan meminum air keran.


Dinda langsung menghampiri adiknya yang berada di dalam kamar mandi, menunggu Lina yang tengah meminum air keran di dalam kamar mandi," Lina. Kamu tidak kenapa napa kan?" Teriak Dinda bertanya pada adiknya.


Lina tak menjawab perkataan Dinda. Iya terus saja meminum air keran dengan rasa kesal.


sedangkan Dinda terus saja mengetuk pintu kamar mandi berteriak memanggil adiknya," Lina. Kakak kuatir."


saat itulah Lina mulai membuka pintu kamar mandi, menatap tajam Kakaknya sendiri, iya berjalan melewati sang kakak tak peduli dengan ucapan yang terlontar dari mulut kakaknya yang terus menguatirkan dirinya.


"Lina kamu marah sama kakak?"


pertanyaan Dinda membuat Lina sedikit risi. saat itulah Lina tak meneruskan makanannya. dia kembali masuk kedalam kamar menahan rasa kesal yang sudah dibuat oleh Kakaknya sendiri.


"Kesal sekali rasanya."


Lina memukul tembok, membuat tangannya terasa begitu sakit.


"Ahk, sakit." Teriak Lina. Mengusap tangannya.


Dinda kembali duduk di kursi menikmati makanan yang sudah ia masak. Bersama sang suami.


"Lina ke mana?" tanya Haikal.


"Katanya dia udah kenyang!" jawab Dinda.


padahal makanan Lina masih tersisa banyak di atas piring.


"Terus makananya masih banyak?" tanya Haikal.


Dinda mengangkat kedua bahunya dan berkata," entahlah aku tak tahu. Nanti biar saja aku antarkan makanan lagi ke kamar Lina. Kayanya dia lagi datang bulan jadi marah marah tak jelas."

__ADS_1


Perkataan Dinda membuat Haikal tertawa.


__ADS_2