
"Kalau kamu butuh apa-apa. Panggil saja pelayan di sini, atau kamu panggil saja ibu," ucap wanita tua itu.
Semua tampak lah aneh, perubahan ibunda Ardi benar benar jauh berbeda dari sebelumnya, ibunda Ardi lebih cenderung menjadi orang yang ramah dan baik. Tidak seperti pertama bertemu. Lina seperti di anggap sampah olehnya, tapi sekarang Lina bagaikan ratu.
Lina mengelus dadanya, menenangkan semua yang ia rasakan." Apa ini mimpi."
wanita tua itu langsung berpamitan kepada Lina," ya sudah kamu istirahat yang tenang ya, ibu mau pergi ke kamar."
"Iya, bu."
Lina terburu-buru masuk ke dalam kamar, ia duduk di ranjang tempat tidur yang begitu terasa empuk. "Nyamanya, aku baru kali ini merasakan tempat tidur yang begitu empuk."
Kini Lina mulai merebahkan tubuhnya, ia menghubungi sang kakak. Takut jika Dinda menghuatirkan keadaanya.
"Halo, Lina. Kamu baik baik sajakan?" tanya sang kakak yang terdengar begitu kuatir.
"Kakak tenang, ya. Aku baik baik saja, oh ya sebenarnya ....!"
Belum jawaban Lina terlontar semuanya, kini sang kakak berucap," kakak tahu, kamu tadi di serang oleh orang yang tidak kamu kenal, jadi kamu menginap di rumah Ardi."
"Dari mana kakak tahu?" tanya Lina.
"Ibunda Ardi tadi menelepon, menjelaskan semuanya. Kamu baik baik di sana ya!" jawab sang kakak.
Terasa hati Lina, sangatlah tenang. Ketika sang kakak berkata seperti itu,
"Kakak di sana baik baik ya," ucap Lina.
pada akhirnya panggilan telepon pun dimatikan sebelah pihak, Lina kembali menaruh ponselnya. Beberapa menit kemudian.
"Hus .... hus."
Lina merasa heran, dengan suara yang tak asing ia." aku seperti mendengar suara Ardi, tapi di mana?"
"Lina, aku di sini," ucap pelan Ardi. yang ternyata lelaki itu tengah mengintip di balik jendela kamar Lina.
Lina mulai mendekat ke arah jendela, melihat Ardi bergelantungan dengan tali," kamu ngapain, Ardi."
"Cepat buka jendelanya."
saat itu Lina mulai membuka jendela kamarnya, yang membantu Ardi untuk masuk ke dalam kamar melalui jendela. "Hah untung aku tidak jatuh."
Lina mengerutkan dahi dan memukul Ardi.
"Aw, kenapa kamu pukul aku?" tanya Ardi pada Lina.
"Aku pukul kamu, karna kamu berani beraninya datang lewat jendela!" jawab Lina kesal .
"Hanya ini, jalan satu satunya, untuk aku bisa bertemu dengan kamu, Lina. karena kalau aku bertemu kamu lewat pintu depan. Ibu pasti akan curiga dan memarahiku," ucap Ardi.
"Ya terus kamu sekarang mau apa, ini sudah malam," balas Lina.
"Aku mau ....."
__ADS_1
belum perkataan Ardi terlontar semuanya, lina langsung membulatkan kedua matanya kearah Ardi," mau apa?" Gadis itu menunjukkan Jari tangannya yang ia kepalkan dihadapan wajah Ardi, membuat Ardi mengurungkan niatnya.
"Ya, cuman dikit."
"Apaan sih."
Tok .... tok ....
Ketukan pintu terdengar keras, membuat Ardi tampak syok, saat itu Ardi mulai panik.
"Lina, kamu sudah tidur," teriak sang ibu.
Kedua insa itu saling menatap dengan penuh rasa kaget, saat teriakan sang ibu terdengar.
"Itu ibumu, Ardi," ucap Lina.
"Ya, gawat. Nih," balas Ardi tampak bingung.
Lina langsung mengarahkan Ardi untuk bersembunyi di kolong tempat tidur.
"Sebaiknya kamu cepat sembunyi di sini," ucap Lina pada Ardi.
saat itulah Ardi mulai menuruti perkataan Lina, yang di mana ia bersembunyi di kolong tempat tidur.
@@@@
Lina berusaha bersikap tenang menghampiri pintu kamarnya, membuka pintu kamar. Ibu Maya tersenyum, Dan berkata," ibu kira kamu sudah tidur."
Deg .....
Ardi yang tengah bersembunyi, di kolong kamar menempuk jidatnya dan berkata dalam hati," untuk apa coba ibu, mau tidur di kamar Lina."
Bruk ...
Tiba saja suara Ardi terdengar, kepala Ardi terbentur karna menahan kesal melihat ibunya masih berada di kamar Lina.
"Suara apa itu?" tanya Maya kepada Lina.
"Mm, mungkin suara tikus bu, di atap!" jawab Lina.
"Hey, di rumah ini tidak mungkin ada tikus. Karna rumah ini sudah di desain sangat rapi dan ...."
Bruk ....
Suara itu terdengar lagi, membuat Maya penasaran di mana letak suara yang begitu terdengar nyaring.
"Gawat, bagaimana ini. Ardi pasti akan ketahuan," gumam hati Lina.
"Tuhkan, Lina ibu dengar suara lagi. Kayanya di kolong ranjang tempat tidurmu ini," ucap Maya kepada calon menantunya.
"Masa sih, bu?" tanya Lina. Berusaha bersikap polos.
Deg .....
__ADS_1
Hati Maya sudah tak karuan, ia takut jika nanti Ardi di temukan oleh ibunya sendiri. Riwayat Ardi akan tamat.
"Bu, sepertinya di kolong itu tidak ada apa apa,* ucap Lina, berusaha mengalihkan Maya. Agar Ardi bisa ke luar dari kamar Lina.
" Masa sih, tapi ibu penasaran sekali," balas Maya.
Lina berusaha menahan wanita tua itu, mengobrol ke hal hal yang bisa melupakan Maya pada kolong tempat tidur.
"Bu, aku haus. Aku mau ambil minum dulu, ya," ucap Lina.
"Astaga, ibu lupa mengambilkan kamu air minum. Lina," balas Maya.
"Enggak papa bu, biar Lina yang ambil sendiri ke dapur. Oh ya di mana letak dapurnya?" tanya Lina. Maya langsung menahan Lina, agar tidak mengambil air minum sendirian. Maya bergegas Pergi mengambil air minum untuk calon menantunya.
" sudah Sebaiknya kamu tunggu dulu di sini, biar nanti Ibu yang ambilkan ke dapur, Oke!" jawab Maya.
"Tapi bu ...."
Maya berusaha bergegas pergi ke dapur untuk mengambil air minum, sedangkan Lina tersenyum kecil. iya bisa membebaskan Ardi dari amarah ibunya sendiri.
"Ardi cepat ke luar, ibu kamu sudah pergi," ucap Lina kepada Ardi.
Ardi kini keluar dari kolong ranjang tempat tidur, dengan mengusap kepalanya yang terasa sangat sakit. membuat Lina merasa kasihan.
"Kenapa juga ada ibu masuk ke kamar kamu, jadinya kan gagal,* gerutu Ardi di depan Lina.
Lina melipatkan kedua tangannya," gagal kenapa?"
Ardi menggaruk belakang kepalanya yang tak terasa gatal," itu percobaan."
saat itulah Ardi mulai membuat Lina terdiam.
"Oh, ya Lina coba kamu lihat ke samping kiri kamu," ucap Ardi.
"Memangnya ada apa?" tanya Lina yang tak mau menuruti perkataan Ardi.
"Ya, kamu lihat dulu. Cepat!" jawab Ardi.
"Enggak ah, nanti kamu macam macam padaku, sebaiknya kamu cepat pergi dari kamar ini sebelum ibu kamu datang lagi," pinta Lina pada Ardi.
"Hey, sebentar saja," ucap Ardi memohon..
"Apaan?"
"Balik dulu ke samping," tegas Ardi.
Lina mau tak mau hanya bisa menuruti perintah Ardi, ia kini membalikan wajahnya ke arah samping. Hingga di mana Ardi.
Betapa terkejutnya Lina, satu ciuman mendarat pada pipi kirinya dari Ardi.
"Ardi kamu ..."
Ardi kini ke luar kamar dan berlari.
__ADS_1