Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 174


__ADS_3

Haikal merasa ragu dengan apa yang harus ia katakan kepada Ardi, Iya takut jika nanti Lina mendengar ia akan sakit hati dan juga merasa kesal dengan apa yang sudah terjadi.


" Kenapa kamu tidak menjawab perkataanku Haikal?"


Lina yang sangat penasaran dengan apa yang terjadi, kini mengambil ponsel yang masih menempel pada telinga Ardi.


Lina mencoba berbicara kepada Haikal," Halo kak Haikal. Bagaimana keadaan Kak Dinda sekarang, Apakah kak Dinda sudah siuman sekarang?"


Haikal tak menyangka, yang bertanya itu kini adalah Lina.


" Maafkan Kak Haikal Lina," ucap Haikal kepada Lina, membuat Lina sedikit curiga. Apa mungkin Sesuatu terjadi kepada kakaknya sendiri.


" Kak Haikal cepat jawab, Sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan Kak Dinda? Kenapa kak Haikal terus saja meminta maaf kepada Lina?"


" sebenarnya Kak Dinda, sudah meninggal Lina!"


mendengar jawaban dari Haikal, membuat Lina seketika sok berat dan menjatuhkan ponsel dari tangannya.


"Itu tidak mungkin." Teriak Lina.


seketika dunia Lina seakan hancur setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Haikal kepada dirinya, Iya masih tak percaya atas perkataan Haikal yang mengatakan bahwa Dinda sudah meninggal.


Ardi Mulai mengambil ponselnya yang tak sengaja terlepas dari tangan Lina, di mana ponsel itu jatuh ke atas lantai. membuat ia mengambil dan melihat panggilan telepon masih terhubung.


Lina yang masih tak percaya dengan apa yang dikatakan Haikal, kini kembali merebut ponsel yang berada di tangan Ardi.


"Halo, Lina."


Lina menangis sejadi-jadinya saat itu Ia bertanya kembali kepada Haikal.


" semua itu tidak mungkin kan, Kak Haikal pasti berbohong dengan semua ini. mana mungkin Kak Dinda meninggal?"


Ardi yang mendengar ucapan Lina, kini mengusap kasar wajahnya. dirinya pun tak percaya dengan apa yang ditanyakan Lina pada Haikal.


"Lina berlajar lah ikhlas, semua sudah kehendak yang maha kuasa."


"Kak Haikal bercandakan. Kak Haikal jangan berbohong. Lina tahu kak Haikal sekarang sedang berbohong."

__ADS_1


"Maafkan kakak Lina, semua kenyataan yang harus kamu terima."


Ardi yang melihat Lina tanpa syok berat, ini berusaha menenangkan calon istrinya. memeluk tubuh Lina dan berkata," kamu harus tetap tenang Lina."


" Bagaimana aku bisa tenang, aku yang sedang berada di rumah sakit mendengar kabar tentang kematian Kak Dinda yang begitu mendadak."


Ardi mengusap pelan bahu Lina menenangkan setiap kesedihan yang ia rasakan," kamu harus belajar ikhlas dengan semua yang sudah terjadi, Biarkan kakakmu tenang di alam sana. Mungkin ini yang terbaik untuk Kak Dinda."


"Tapi aku belum sempat membahagiakan kakakku sendiri, malahan aku sering membuat kakakku sakit hati dan membuat ia selalu sedih karena aku."


" kamu harus tetap tenang, sabar dan kuat dengan segala hal yang menimpa kamu saat ini. Kakak kamu pasti akan mengerti tentang kesalahan yang sudah kamu lakukan di masa dulu terhadap kakakmu. Kamu tenang ya."


Ardi Mulai mengambil air minum yang berada di atas meja, iya perlahan menyodorkan air minum itu kepada Lina.


" kamu minum dulu, biar hati kamu."


Lina kini mengambil air minum yang disodorkan Ardi, dengan perlahan ia menunggu air minum itu. membuat rasa tenang ia kini rasakan.


" Bagaimana perasaan kamu sekarang, agak tenang kan?"


Lina menganggukkan kepala memberikan gelas minum yang baru saja ia minum kepada Ardi.


" sebaiknya jangan dulu ya Lina. kondisi kamu belum stabil. badan kamu masih drop.:


" aku tak peduli dengan kondisi tubuhku saat ini, yang aku inginkan sekarang melihat jenazah Kak Dinda untuk terakhir kalinya. aku mohon kamu antarkan aku untuk menemui jenazah kakakku sendiri."


Ardi masih bingung dengan apa yang terjadi, apalagi Lina minta dirinya untuk menemui Haikal. dia ingin sekali melihat jenazah Kakaknya sendiri dalam kondisi Lina yang tak memungkinkan untuk datang ke rumah sakit di mana kakaknya dirawat dan sekarang meninggal dunia.


"Ardi, ayo cepat kita pergi dari sini, aku ingin sekali melihat jenazah kakakku untuk yang terakhir kalinya tolonglah aku Ardi. Aku tidak mau menyesal jika tak menemui jenazah kakaku."


dengan terpaksa Ardi langsung menuruti keinginan Lina yang ingin melihat jenazah kakaknya yang belum di kubur.


"Baiklah, Lina."


betapa senangnya saat itu Lina, karena Ardi mau menuruti keinginannya. akan tetapi para suster itu tidak mengizinkan Lina dan juga Ardi pergi dari rumah sakit karena keadaan Lina yang tak memungkinkan untuk pergi.


para suster itu mencegah kepergian Lina dengan begitu tegas.

__ADS_1


" kami tidak mengizinkan pasien Lina untuk pergi dari rumah sakit ini, sebaiknya pasien Lina tetap berdiam diri di ruangan."


Ardi mengabaikan ucapan para suster itu, iya kini meletakkan Lina pada kursi roda. agar dengan gampangnya Ardi membawa Lina untuk keluar dari rumah sakit dan menaiki mobil.


akan tetapi para suster itu terus bersikeras mencegah Lina dan Ardi pergi dari ruangan.


" kalian berhenti mencegah kami berdua, jika ada yang terjadi dengan calon istriku ini, aku yang akan bertanggung jawab atas semuanya." Tegas Ardi.


kini para suster itu melangkah mundur, tak berani melawan kemarahan Ardi yang terlihat begitu seram.


kini Ardi mulai mendorong kursi roda Lina melewati para suster itu.


Sedangkan para suster hanya bisa menundukkan kepala tak berani lagi melawan Ardi yang tengah marah.


"Gimana kalau Bu Maya datang, apa yang harus kita katakan?"


ada rasa bingung pada hati para suster itu, karena Ardi yang membawa Lina begitu saja.


hingga 20 menit kemudian semenjak kepergian Ardi dan juga Lina, Bu Maya kini datang membawa sebuah bingkisan untuk diberikan kepada Lina.


akan tetapi Bu Maya merasa kaget di dalam ruangan tidak ada siapapun yang berjaga ataupun Lina dan juga Ardi.


membuat Bu Maya langsung bertanya pada suster yang melewati ruangan Lina pada saat itu.


" suster Maaf saya mau bertanya?"


"Iya bu, kenapa?"


" pasien di ruangan ini ke mana ya, bukannya saya memerintahkan 5 suster untuk berjaga di ruangan ini dengan pembayaran yang minimal."


" untuk masalah itu saya tidak tahu ya Bu, silakan Ibu bertanya pada suster-suster yang Ibu perintahkan untuk berjaga di ruangan ini."


" kalau saya boleh tahu, di mana suster suster itu kini berada."


" silakan Ibu cari di ruangan suster, yang di mana ruangan itu berada di sisi kiri dekat ruangan nomor 8."


" Terima kasih, sus."

__ADS_1


kini Bu Maya bergegas mencari suster-suster yang ia perintahkan untuk berjaga di ruangan Lina.


Ia ingin menanyakan kenapa bisa Lina tidak ada di ruangan.


__ADS_2