
Haikal dengan terburu-burunya turun dari dalam bus, menuju ke tempat peristirahatan. Ia tak melirik ke sana ke mari, hanya fokus berjalan kaki untuk mengambil air wudhu.
Air yang terasa seger, mampu membangunkan rasa lelah pada diri Haikal, ia kini tersenyum senang, menghadap sang ilahi dengan khusyuk.
sedangkan wanita yang duduk di samping Haikal, Hanya berdiam diri di dalam mobil, ia tak mau keluar di dalam mobil. Takut jika Haikal mengenali dirinya.
"Loh, maaf ibu enggak ikut dengan suaminya?"
tanya sang sopir membuat wanita itu tersenyum kecil, Iya hanya terdiam tak menjawab perkataan sang sopir.
pada saat itulah sang sopir mulai berjalan untuk segera pergi beristirahat, menikmati makanan yang sudah ia pesan dari tadi.
ada rasa lapar pada perut wanita itu, tangan lembutnya mulai memegang perut mengusap-ngusap secara perlahan. Ia berusaha menahan rasa lapar yang begitu kuat mencekik perutnya.
Karena rasa lapar yang tak tertahankan, pada akhirnya wanita itu menyandarkan punggungnya untuk terlelap tidur dengan memakai masker dan tak lupa memakai kacamata hitam.
setelah menjalankan salat dzuhur, saat itulah Haikal mulai memesan makanan untuk mengisi perutnya yang memang terasa lapar.
hanya butuh 5 menit menunggu makanan datang, saat itu Haikal mulai menikmati apa yang berada di hadapannya.
suapan demi suapan ialah layangkan pada mulutnya dengan perlahan, hingga ia sadar sosok seorang wanita yang duduk menyender pada jendela bus membuat ia merasa Iba.
Kenapa bisa wanita itu duduk tanpa turun dari bus hanya untuk sekedar beristirahat, padahal orang-orang yang berada di bus begitu menyantap makanan mereka dengan lahap. karena kemungkinan besar perjalanan masih jauh. Butuh waktu lama untuk sampai di desa kelahiran Haikal.
kini makanan yang berada di atas piring sudah habis disantap oleh Haikal, olahan tangan kekarnya mulai mengaku air minum yang sudah ia pesan, Haikal meminum perlahan air dalam gelas, yang sudah ia genggam dari tangannya.
rasa lapar dan juga haus kini terpenuhi, membuat Haikal tak merasakan rasa lemas.
hingga 2 menit kemudian Sang sopir menyuruh para penumpangnya untuk segera naik, melanjutkan perjalanan menuju ke desa.
sedangkan Haikal tergesa-gesa memesan makanan berupa mie menyuruh penjaga warung untuk merebusnya.
dan tak lupa lagi Haikal memesan minuman.
Haikal berjalan dengan langkah yang begitu cepat, Hinggal di mana ia naik pada anak tangga mobil, berjalan duduk di samping wanita yang tertabrak olehnya tanpa sengaja.
wanita itu menundukkan pandangan seakan tak ingin berpapasan dengan wajah Haikal, sedangkan Haikal yang merasa kasihan terhadap wanita itu seketika menyodorkan mie rebus pada wanita itu.
__ADS_1
wanita yang duduk di samping Haikal menatap perlahan mie yang disodorkan Haikal untuk dirinya, Mie yang terlihat mengeluarkan gumpalan udara, membuat aroma mie menyalur pada hidung sang wanita. Wangi.
dengan tangan bergetar, wanita itu kini perlahan mengambil mie yang diberikan Haikal untuk dirinya.
"Makanlah, pasti kamu lapar?"
Wanita itu, menundukkan pandangan, ia perlahan membuka maskernya untuk menikmati mie yang di bawakan Haikal.
rasa takut akan wajahnya yang diketahui Haikal, membuat wanita itu membalikkan wajah ke arah jendela, Iya tak lupa menundukkan pandangan. agar pantulan jendela bus tak menampakkan wajahnya.
Haikal berusaha memulai obrolan pada wanita yang duduk di sampingnya, wanita itu begitu fokus menikmati setiap suapan demi suapan mie yang di berikan Haikal.
"Maaf, bukanya kamu yang tadi tak sengaja aku tabrak ya?" tanya Haikal pada wanita yang duduk di sebelahnya.
Hening, wanita itu tak menjawab perkataan Haikal, ia begitu menikmati setiap suapan demi suapan, membuat perut yang terasa perih akibat menahan lapar kini hilang seketika.
"Aneh, saat aku tanya dia tak menjawab?" gumam hati Haikal.
Haikal benar-benar dibuat penasaran oleh wanita yang duduk di sampingnya. karena dari tadi wanita itu tetap diam tak menjawab apa yang dikatakan Haikal.
"Mbak?"
"Mbak tidak kenapa- kenapa?"
Sekilas wanita itu melirik, Haikal yang terlihat memegangi kepala, membuat Wanita itu menyadari darah pada jidat Haikal.
tangannya ingin sekali mengusap pelan darah yang mengalir sedikit dari jidat Haikal.
"Tahan .... tahan."
Haikal kini menatap ke arah wanita itu, membuat sang wanita yang duduk di sampingnya kaget dan memutar balikkan badan.
Ia membenarkan jeket yang ia pakai untuk menutupi kepala, karna takut jika Haikal malah marah melihat dirinya.
"Uhuk."
"Uhuk."
__ADS_1
Suara batuk itu terdengar oleh Haikal, membuat Ia terburu-buru membuka botol minuman yang akan Ia berikan pada wanita yang berada di sampingnya.
" Maaf Mbak saya lupa ngasih Mbak minum,"
wanita yang duduk di sampingnya, kini langsung mengambil botol yang disodorkan Haikal.
wanita itu langsung meminum habis air yang berada pada botol minuman Haikal.
"Mbak, haus?"
wanita itu tetap saja tidak membalas jawaban dari Haikal, Iya diam tanpa berucap satu patah kata pun.
ia menyodorkan botol bekas air minumnya kepada Haikal," nih. Aku balikin."
Haikal langsung mengambil bekas botol yang diminum oleh wanita itu.
"Terima kasih,"
ucapan wanita itu tiba-tiba terdengar oleh kedua telinga Haikal, ya tak menyangka jika wanita yang duduk bersama dirinya kini mulai berani berucap.
"Mbak, tadi bilang apa?"
wanita itu menutup mulutnya, ya tak ingin Haikal mendengar suaranya yang mungkin Haikal akan kenal dengan dirinya.
"Mbak?"
setiap kata-kata yang terlontar dari mulut Haikal, membuat wanita itu langsung membalikkan wajah ke arah jendela. Ia melihat setiap jalanan yang ia lalui terasa menyenangkan. Rasa kebebasan kini mulai ia rasakan. dirinya tak mau lagi terkurung dalam masalah dan juga kegelapan, yang membuat hati dan pikirannya rapuh seketika.
sedangkan Haikal saat itu langsung menyanderkan kembali kepalanya, Ia mulai tertidur di kursi yang terasa nyaman bagi dirinya. melepaskan semua beban dan juga kepenatan dalam masalah yang sudah ia hadapi, walau mungkin ia akan kehilangan sahabat sejatinya yaitu Ardi. lelaki yang sudah menolongnya selama ia berada di kota, lelaki yang selalu menemaninya dalam memberi tahu setiap pekerjaan yang harus Haikal lakukan.
Haikal sangatlah beruntung ketika menikah dengan Dinda, ia bisa bertemu dengan lelaki yang baik hati yang mau menolong dirinya, memasukinya dalam sebuah perusahaan yang sangat besar yang ayahnya Pimpin saat ini.
Ada rasa sedih menyelimuti Haikal.
keberuntungan itu kini lenyap sudah dalam sekejap mata, hanya harapan kosong yang berada di benak Haikal saat ini.
hatinya sebenarnya tak ingin pergi dari kota yang sudah membuat dirinya sukses dan mendapatkan cinta sejati, cinta sejati yang sudah tiada dan pergi untuk selama-lamanya.
__ADS_1