Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 243


__ADS_3

"Tunggu, Pak kepala. Kami ada di sini, menjadi saksi untuk Nining."


Lelaki tua yang menjadi kepala desa itu, langsung menatap ke arah Asih dan juga Euis. Menyuruh mereka untuk masuk ke dalam, memberi kesaksian atas kejadian yang menimpa Nining dan juga Ruslan.


Nining yang melihat kedua sahabatnya datang, begitu senang. Ia tak menyangka jika Euis dan Asih akan membela dirinya di depan Pak kepala.


Pak Yono merasa senang dengan kehadiran istrinya yang membawa Euis dan juga Asih, ia bersuju syukur, di mana ada kedua gadis itu, Nining akan selamat dari fitnahan Ruslan.


Pak Yono, takut jika Nining tersalahkan, para warga di desa ini akan membenci Nining dan malah mengunjing keburukan Nining. Membuat Nining akan terpuruk.


Hatinya Pak Yono kini merasa tenang, lelaki tua itu bisa bernafas lega. Ia merangkul sang istri yang datang menghampirinya.


"Ibu, berhasil menemukan Asih dan juga Euis, pak."


Pak Yono, memeluk sang istri dan berkata." Ibu, hebat."


Sedangkan Pak Hasan yang berdiri sendirian, tak jauh dari warga, terlihat gelisah ketika melihat kedua wanita yang dikurung oleh istrinya tiba-tiba datang memberi kesaksian untuk Nining,


Keringat dingin, mengalir pada jidat Pak Hasan, membuat lelaki tua itu, sedikit panik.


"Kenapa si Euis dan Asih bisa bebas?" Pak Hasan kini bertanya dalam hatinya, ia mulai merogoh saku celana untuk mengambil ponsel, dan menelepon istrinya.


Beberapa kali Pak Hasan menelepon nomor istrinya. Tak ada juga jawaban sang istri, yang mengangkat panggilan telepon Pak Hasan.


Saat itu. Pak Hasan mulai mengirim pesan berharap jika istrinya langsung membaca pesan yang dikirim oleh Pak Hasan.


Rojak yang masih berada di gudang bersama Bu Nunik, kini melihat layar ponse. Ia tertawa terbahak-bahak melihat Pak Hasan mengirim pesan dan juga tanda rasa kecewanya terhadap sang istri yang tak bisa menjaga Euis dan juga Asih seharian.


@@@@@


Saat itulah di balai desa, Euis dan juga Asih mulai memperlihatkan bukti bahwa Nining tidak bersalah. Mereka berdua menunjukkan sebuah video yang berhasil mereka ambil saat di ladang.


Untung saja saat itu Asih tengah memainkan layar ponselnya, hingga di mana ia berkesempatan memvideo kelakuan Ruslan yang akan melecehkan Nining.


Ruslan masih terduduk menundukkan pandangan, dia menggerutu kesal.

__ADS_1


Saat itulah Ruslan mulai bangkit dari tempat duduknya dan mulai menghajar Pak kepala desa. Secara tiba tiba, entah kenapa Ruslan malah marah dan ingin memukul pak kepala desa.


Untung saja para warga dengan Sigap, menghentikan aksi Ruslan yang akan memukul kepala desa. Para warga memegangi tangan Ruslan.


"Lepaskan tangan kalian, aku akan menghajar kepala desa ini, dan juga Nining wanita yang sok mahal dan sok kecantikan. Aku tahu pasti Pak kepala desa sudah bersekongkol dengan Nining, sehingga membela Nining." Pekik Ruslan.


Para warga berusaha menahan Ruslan, yang terus memberontak. Hingga Di mana mereka terpaksa memukul Ruslan hingga pingsan.


Pak kepala menyuruh para warga untuk menahan Ruslan, ia akan melaporkan kejahatan Ruslan kepada polisi.


"Cepat kalian amankan Ruslan, jangan sampai dia kabur." Ucap Pak kepala Desa, pada warganya.


Nining tentulah senang dengan apa yang ia lihat saat ini, dirinya tak terfitnah oleh dugaan-dugaan yang membuat dirinya akan menikah dengan Ruslan. Iya tak mau jika nanti Ardi akan menyesal saat Nining menikah dengan Ruslan karena sebuah fitnahan yang dibuat buat oleh Ruslan.


Lelaki tua yang menjadi ayah Ruslan, kini bersujud memohon sebuah ampunan untuk anaknya, agar anaknya tidak dijebloskan ke dalam penjara.


Nining hanya diam, melihat apa yang dilakukan Pak Hasan.


"Nining, Bapak mohon, jangan kamu jeblos Ruslan, anak saya, ke dalam kantor polisi. Dia anak satu-satunya bapak. Bapak tidak mau anak bapak menderita di dalam penjara Ning, kasih dia. Berikan Ruslan kesempatan."


Pak Yono dan Bu Sari mendekat ke arah Nining, melihat permohonan maaf dan keringanan untuk Ruslan agar tidak di masukan ke dalam penjara.


"Di enggak tahu malu sekali ya, Ning." ucap pelan Bu Sari pada Nining.


"Ya, bu." balas Nining menatap ke arah Pak Hasan yang memohon mohon.


"Maaf sekali lagi, Pak Hasan, anda jangan meminta saya membebaskan anak bapak, karna bukan saya yang menjebloskan anak bapak ke penjara, tapi kepala desa," timpal Nining pada Pak Hasan.


"Tapi Ning, kamu yang berhak membebaskan Rusalan. Karna kamu ...,"


Belum perkataan Pak Hasan terlontar semuanya, Nining kini berucap," karna aku yang jadi korban. Bukan begitu Pak Hasan?"


"Bukan begitu Ning, kamu dengan dulu penjelasan saya!" ucap Pak Hasan dengan berharap pada Nining.


"Sudahlah pak, orang seperti Bapak ini, tidak pantas dimaafkan, bapak ini harus saya beri pelajaran, Jadi

__ADS_1


Nining tidak mau lagi berurusan dengan Ruslan," balas Nining, berharap Pak Hasan sadar dengan pekataan Nining.


Nining sudah lelah dan ia ingin segera cepat pulang untuk merebahkan tubuh, dan ber istirahat.


Badan yang terasa lelah, karena menahan rasa takut akan dirinya yang tersalahkan. Membuat ia tak berenergi.


"Alhamdulillah, sekarang Nining sudah tenang. Bu. Nining bebas dari fitnahan Ruslan."


Tertawa dalam kebahagian di depan sang ibu.


"Iya. Ning. Ibu juga senang ini semua berkat Euis dan juga Asih, yang sudah menjadi saksi di balai desa untuk kamu."


"Iya Nining juga sangat berterima kasih sekali pada Euis dan juga Asih, berkat mereka sekarang Nining bisa bernafas lega."


Mereka bertiga kini mulai pergi dari balai desa untuk segera pulang ke rumah.


Rasa lega menyelimuti ke luarga Nining.


Akan tetapi saat Nining, sampai di rumah. Tiba-tiba Ardi dan juga Haikal sudah berdiri seakan menunggu kedatangan Nining dan juga kedua orang tuanya.


"Ning, kamu lihat ada Haikal datang, keren. pakai jas," ucap wanita tua yang bernama Bu Sari itu memuji penampilan keponakannya.


"Alah, si bibi bisa saja." balas Haikal.


Nining masih terpesona dengan ketampanan Ardi, membuat ia berjalan perlahan, sekilas merilik dan menundukkan pandangan. Rasa malu terus menyelimuti diri. kedua pipi Nining memerah saat Ardi terus mendekat ke arahnya.


Iya seakan gugup saat didekati oleh Ardi dengan penampilannya yang begitu keren Dan juga wajahnya yang tampan, membuat pesona dari Ardi begitu terpancar'


Nining seakan tak bisa mengedipkan kedua matanya melihat ketampanan Ardi saat itu.


Ardi mulai menyapa Nining," apa kabar." sapaan itu tentulah membuat Nining malu-malu


"kabar Nining baik-baik saja. Sebaliknya gimana?"


jawab Nining, menatap perlahan ke arah Ardi.

__ADS_1


Ardi langsung tersenyum tipis.


__ADS_2