
"Sebenarnya Lina sudah tidak ada hubunganya lagi dengan Ardi."
Mendengar jawaban dari anaknya sendiri, Maya tentulah kaget." Kenapa? Maya memutuskan hubungan dengan kamu?"
Ardi mengelengkan kepala, menatap sayu kearah sang ibu. Manik manik pada bola matanya memperlihatkan kekesalan, mana bisa Ardi membohongi sang ibu. Dia kini berkata jujur, bahwa." Ardi yang memutuskan Lina."
Kedua bola mata kini membulat, alis tebal itu ikut serta dengan hentakan kaget mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Ardi.
Tangan dengan tempelan infusan, membuat Maya berusaha memegang punggung tangan anaknya." Kenapa kamu sampai memutuskan hubungan dengan Lina? Apa salah dia? Apa dia menerima?"
Ardi berusaha menarik napas pelan, mengeluarkan secara perlahan, berusaha menjelasakan apa yang sudah terjadi antara hubungan anaknya dengan Lina.
" Lina mencintai Haikal!"
Maya menyipitkan matanya, setelah mendengar perkataan yang membuatnya masih bingung. " Bukanya Haikal kakak iparnya Lina?"
"Iya, tapi dia sangat mencintai Haikal!"
Maya berusaha menenangkan kesedihan dari lubuk hati Ardi, dimana kesedihan itu begitu memilukan bagi anaknya. Mencintai Haikal, orang yang menjadi sahabat Ardi.
"Apa Lina yang mengatakan semua itu?"
Pertanyaan sang ibu membuat Ardi kini menjawab dengan nada beratnya. Seperti batu berat yang menindih tengorokanya saat ini.
"Ardi mendengar dari orang lain!"
"Dan kamu percaya?"
"Iya."
Tangan yang masih terpasang selang impusan, kini merangkak menjauh dari tangan sang anak, menuju jidatnya sendiri.
"Seharunya sebelum kamu mempercayai perkataan orang lain. Kamu tanya dulu sama orangnya langsung. Benar apa tidaknya?"
Ardi mulai mencerna perkataan sang ibu. Selama ini ia lebih mempercayai perkataan Nining, dan tidak bertanya langsung kepada Lina.
Seharusnya sebelum ia memutuskan hubungan Ardi bertanya terlebih dahulu kepada Lina, karena Ardi yang terus menuruti emosi. membuat iya tak bisa mengendalikan diri, hingga di mana ia memilih seorang wanita ketika dirinya masih belum berpikir matang.
"Apa kamu menyesal, Ardi?"
__ADS_1
pertanyaan sang Ibu membuat Lamunan Ardi membuyar, lelaki itu seakan gugup." Ti-da-k."
Maya tersenyum kecil dan berkata," kalau kamu memang tidak menyesal, kalau begitu ibu aku akan dukung kamu apapun keinginan kamu dan juga pilihan kamu, Ardi."
Ardi terdiam sejenak di mana sang Ibu berucap kembali," Ibu merasa kasihan terhadap Lina. Jika dia tidak jadi menikah denganmu. Bagaimana nasibnya? kamu tahu sendiri kan dia tidak punya keluarga dan Haikal hanya seorang kakak ipar, tak mungkin Haikal membiayai kehidupan Lina."
"Benar apa kata ibu."
"Memangnya kamu sudah mempunyai sosok pengganti Lina. Sampai kamu memutuskan hubungan dengan dia?"
Ardi berusaha bersikap tenang. saat itulah ia mulai mengungkapkan siapa pengganti Lina dalam hatinya saat ini.
"Dia adalah gadis desa bernama NIning."
sang Ibu mengangkat kedua alisnya ia menjawab perkataan Ardi." Nining? Dari mana kamu mengenal dia."
Ada raut kemalasan pada wajah Ardi saat sang ibu menyuruhnya untuk menceritakan pertemuan pertama bersama Nining.
" Nanti saja lah ceritanya Bu, soalnya ceritanya panjang sekali. menceritakan tentang Nining butuh waktu berjam jam."
"Oke."
Terlihat dari sudur wajah Ardi, Maya sudah bisa menebak jika Ardi memaksakan diri untuk mencintai Nining. Padahal dirinya masih sangat mencintai Lina, entah karena dendam atau rasa kesal membuat Ardi melakukan hal yang konyol seperti ini iya Rela melamar Nining walau hatinya masih ada Lina.
"Ibu tidak akan melarangkan dengan pilihan Ardi?"
sang Ibu menganggukan kepala di depan anaknya. tidak ada rasa kekesalan jika Ardi memilih wanita lain daripada Lina, yang terpenting bagi Maya Ardi bahagia bukan malah menderita..
"Itu semua pilihan kamu Ardi! Ibu tidak perduli dengan pilihan kamu, siapa orang yang kamu akan nikahi. Ibu hanya berpesan pada kamu saja, jangan terlalu mengambil sebuah keputusan di saat kamu tengah emosi itu semua bukan malah menyelesaikan masalah yang ada kamu akan menyesal dengan apa yang sudah kamu katakan."
Ardi mengganggukan kepala mengerti dengan perkataan sang ibu, di saat itulah Maya menyuruh Ardi untuk memanggil ayah dan juga suruhan Maya yang bernama Adnan.
"Ardi, cepat panggil ayah dan juga Adnan.
akan tetapi wajah Lina menampilkan ketidaksukaan Ketika sang ibu ingin bertemu dengan pak Anton ayah kandung Ardi
")Ardi kamu Jangan menyalahkan ayah dan juga Adnan suruhan ibu, ibu yang memaksa untuk datang ke Villa yang sudah lama Ibu tak kunjungi, dan juga di saat masuk ke dalam Vila itu. Ibu sudah dilarang jangan mengikuti ibu atau ikut serta masuk ke dalam gerbang Vila."
karena permintaan sang ibu, pada akhirnya Ardi mulai berjalan untuk memanggil sang ayah dan juga suruhan Bu Maya yang tak lain ialah Adnan. ketika pintu ruangan Maya dibuka oleh Ardi di saat itulah Adan dan juga sang ayah begitu sibuk menanyakan tentang ke adaan Maya.
__ADS_1
" Ardi. Bagaimana keadaan ibu kamu? Apa dia baik-baik saja? atau dia sudah Siuman."
Terlihat sekali dari raut wajah Pak Anton. Iya begitu menginginkan bertemu dengan sang istri, Anton ingin meminta maaf karena tidak menjaga sang istri dengan baik begitupun Adnan Ia juga ingin menemui nyonya yang selalu ia Panggil dengan
lembut. Seperti keluarga sendiri.
" Iya Tuan Ardi. Bagaimana keadaan Nyonya Maya, saya begitu mengkhawatirkan Nyonya, takut jika terjadi apa-apa dengan Nyonya Maya."
Ardi terus berjalan hingga badannya berdekatan dengan sang ayah dan juga Adnan.
Membuat rasa tak enak hati pada diri Adnan, hingga lelaki itu melangkah mundur perlahan menjauh dari Ardi, sedangkan Ardi menyuruhnya untuk berhenti dan berdiri di depannya.
Biasa Pak Anton hanya bisa mendengar apa yang disampaikan oleh anaknya, ia mungkin tak ingin berdebat dan ingin buru buru menemui sang istri.
Meminta maaf akan kesalahanya yang tak menjaga sang istri dengan baik.
Ardi menatap bergantian ker arah mereka berdua.
" Ibu menyuruh kalian masuk ke dalam ruangan, hanya saja pesanku saat ini jangan terlalu membuat ibu banyak menjawab dengan pertanyaan pertanyaan kalian."
Adanan berucap," Baik tuan muda."
Kini Ardi mulai membuka perlahan ruangan Bu Maya, untuk mempertemukan Pak Anton dan juga Adnan dengan ibunya.
"Masuklah."
Ketika ruangan di buka, di saat itulah Pak Anton begitu senang melihat sang istri tersenyum kepadanya.
"Maya."
"Anton."
kini lelaki yang sudah berumur itu sanggup mengeluarkan air mata di depan istrinya. Adnan hanya melihat kesedihan tergambar pada wajah Anton dan juga Maya.
Mereka bersedih menangis, karna bahagia.
"Adnan, apa kamu baik baik saja."
Adnan berjalan, tersenyum. Raut wajah penyesalan ia tampilkan di depan sang Nyonya.
__ADS_1
"Maafkan saya, Nyonya."
Bu Maya, menapikan senyumnya yang lebar." Kamu tidak salah Adnan. Saya yang salah.