
Haikal dan Ardi menghampiri wanita dengan rambut pendek, bentuk badan yang hampir sama seperti Lina.
Membuat mereka menepuk bahu Lina dan berkata," Lina, apa itu kamu?"
Wanita itu membalikkan badan tersenyum ke arah Haikal, ternyata dia bukan Lina.
Mengaruk kepala, mencuil dagu Haikal. " Maaf, mbak. Salah orang ternyata."
Mereka berlari, berjingkat jingkat di mana wanita itu mengejar Ardi dan Haikal.
"Mas tunggu."
Napas terengah engah di rasakan mereka berdua, membuat Haikal menepuk punggung Ardi.
"Lu, kalau kasih tahu dari awal. Biar gue enggak lari maraton kaya begini."
Haikal tertawa terbahak-bahak, melihat Ardi menstabilkan napasnya.
"Ya elah lu. Gue kira itu Lina. ternyata bukan."
"Ya, mana ada si Lina gorek gorek sampah kaya gitu."
"Bisa aja sih."
Sesaat Ardi menegakan badannya yang tadi membungkuk, seketika itu melihat Lina naik ke dalam mobil angkot.
"Kal, itu Lina."
"Mana?"
Haikal melihat kaarah Ardi yang menujuk keberadaan Lina, hingga mereka tak salah lagi. Jika itu memang Lina.
Wanita berambut pendek dengan bajunya penuh darah, di bawa dengan orang yang tak di kenal.
"Lina sama siapa?"
"Kita harus kejar dia, ini gawat sekali!"
Ardi menyuruh Haikal untuk menumpangi ojek, mengejar Lina yang dibawa pergi oleh seorang lelaki yang begitu terlihat asing.
Aksi kejar kejaran itu, dilihat oleh lelaki yang membawa Lina masuk ke dalam angkot.
Sedangkan Lina menangis ketakutan, saat tangan lelaki berkulit hitam dengan badanya yang kurus, memegang erat tangan Lina agar tidak kabur.
__ADS_1
"Ardi, kak Haikal." Gumam hati Lina, melihat pada kaca mobil angkot.
Lelaki berbadan kurus itu, membisikan perkataan yang membuat Lina tentulah ketakutan.
" Jangan sampai kamu berteriak, jika kamu lakukan itu, nyawa kamu seketika akan habis oleh pisau ini."
Maka dari itu Lina tak berani berteriak, Ia hanya bisa menangis.
"Selamatkan aku Ardi, Kak Haikal."
Ardi dan juga Haikal berusaha mengejar angkot yang menumpangi Lina. "Cepat pak."
Karna motor yang lebih cepat dari pada angkot, membuat mobil itu berhenti mendadak.
Lelaki berkulit hitam dengan tubuhnya yang kurus, membawa Lina keluar, untuk segera kabur.
Akan tetapi, Ardi kini berhasil menghentikan langkah kaki Lina dan orang jahat itu.
"Siapa kamu?"
Tanpa banyak basa basi, Ardi kini memukul wajah lelaki itu hingga ia pingsan.
"Hah, baru segitu juga udah pingsan."
Lina berlari sembari menangis, memeluk Ardi.
"Ayo kita pulang Lina?"
Lina melepaskan pelukan Ardi, ia mengelengkan kepala, melangkahkan kaki ke belangkang. Membuat badan Lina tertubruk oleh Haikal.
"Lina, kamu mau kemana?" Tanya Haikal.
Wanita berambut pendek itu, membalikkan badan tak menjawab perkataan Haikal dan juga Ardi.
"Kamu mau ke mana?"
Lina semakin menjauhkan langkah kakinya, tanpa mengatakan satu patah katapun. Ardi yang bingung dengan tingkah Lina kini mendekat ke arahnya.
"Kamu kenapa?"
"Jangan mendekat, kalian tak usah menghuatirkan aku!"
Langkah kaki Lina kini mulai meninggalkan Ardi dan juga Haikal, " Lina. Kamu tidak punya tempat tinggal,"
__ADS_1
Tak mendengar teriakan Ardi, dia begitu fokus berjalan meninggalkan Kedua lelaki yang sudah menyelamatkan dirinya.
Ia menangis dengan setiap langkah kakinya, memang benar Lina tak mempunyai tempat tinggal, dari dulu Lina selalu mengandalkan sang kakak, hingga iya tak bisa menjadi sosok yang Mandiri.
Akan tetapi keadaan yang sudah menyulitkan dirinya saat ini, membuat ia harus mencari pekerjaan agar bisa menghidupi kehidupan sendiri.
Ia berusaha menghindari Ardi dan juga Haikal, walau sebenarnya ia kesal dengan Nining, baru saja niat Lina ingin menemui Nining, tetapi Lina malah didekati oleh orang-orang jahat yang mau menjual belikan dirinya.
Akan tetapi Ardi tak putus asa, iya berusaha mengejar Lina kemanapun Wanita itu pergi, karena yang ia butuhkan saat ini menemui Lina dengan ibunya sendiri, agar meminta penjelasan apa yang sudah terjadi kenapa bisa Ardi putus hubungan dengan Lina. Di mana Lina sudah menemui Maya di sanalah hati Ardi merasa tenang.
Dia tidak akan terbebani dengan rasa sakit sang ibu yang ingin bertemu dengan Lina. Maka dari itu Ardi harus menuruti perkataan ibunya, walau itu memang berat bagi Ardi.
Hidupnya Ardi akan tenang dan bahagia bersama Nining walau hatinya belum bisa menerima sepenuhnya sang gadis desa.
Setelah menghampiri Lina yang terus berlari, membuat Ardi dengan sepontan meraih memegang tangan Lina, membuat kedua wajah mereka bertatapan. Ada gejolak jiwa yang dirasakan Ardi sekarang, jika ia berdekatan dengan Lina.
Karna memang melupakan seseorang yang kita cintai sangatlah susah. Aplagi kenangan bersama Lina, membut Ardi selalu bahagia dan tersenyum.
Tapi semua, seakan hancur lembut, karna rasa egois.
Ardi memulai percakapan, dimana wajah mereka begitu dekat dan saling menatap.
" please Lina. Ayolah temui Ibuku sekarang, ya. agar ibu bisa tahu penjelasan Kenapa hubungan kita putus. Aku tidak mau Ibu sedih karena hubungan kita putus, aku berharap kita putus dengan cara baik-baik dan saling melupakan."
Lina gini menghempaskan tangan Ardi yang mencekram kuat tangan Lina, ia menangis di depan lelaki yang mencintai dirinya. Sembari menghidari tatapan wajah Ardi yang begitu dengan dengan wajahnya.
" Aku tidak mau, sebaiknya kamu bawa saja Nining ke hadapan Ibu. Agar ibumu mengerti apa yang sudah kamu lakukan terhadapku,"
Lina benar benar membuat hidup orang ribet, egoisnya begitu tinggi.
"Ayolah Lina. Jangan Gila kamu? Bagaimanapun aku tetap menghargai kamu sebagai seorang wanita."
Lina sekilas menatap ke arah Ardi. Di mana lelaki itu berucap kembali." Aku berusaha mencintai Nining karena kamu yang tak bisa berusaha mencintaiku dan kamu tetap saja mengejar Haikal sahabatku sendiri."
Lina tak menampilkan wajah bersalahnya atas apa yang sudah ia lakukan sendiri.
Melipatkan kedua tangan." memangnya aku berkata seperti itu kepada kamu?"
Ardi mengusap kasar wajahnya dan membalas dengan penuh rasa sabar."Memang kamu tidak mengatakan semua itu. Tapi sudah terlihat jelas ketika aku menghampiri kamu ke desa Haikal, kamu malah pergi dan tak mau menemuiku."
Lina berusaha tak pedulu, walau sebenarnya hatinya sudah merasakan penyesalan, tapi tidak dengan mulutnya yang terus megoceh di depan Ardi dan juga Haikal.
Lina berusaha, menundukkan kepala menyadari apa yang sudah ia lakukan, terhadap Ardi, tapi keegoisannya masih tinggi, membuat dirinya kini pergi begitu saja.
__ADS_1
Ardi tak segan segan mengejar Lina kembali, Lina Kamu mau ke mana? Ayolah mengerti apa yang aku katakan, kamu jangan seperti anak kecil merengek seperti memita keinginanya. Karna itu tidak baik."
Lina berusaha menghepaskan tangan Ardi kembali, tapi cekraman Ardi begitu kuat. Lelaki berbola mata coklat itu, mebopong tubuh Lina agar tidak kabur.