
" Percuma saja Kakak menangis, dan membahas persaudaraan kita. Asal kakak tahu, aku sudah tak mau lagi bersaudara dengan wanita seperti kakak."
Deg ....
perkataan Lina membuat hati Dinda merasa sakit, seorang adik begitu tega berkata seperti itu. Kepada kakaknya sendiri.
"Kak, jika Kakak mau berbagi suami denganku. Aku pastikan. aku akan menganggap Kakak lagi sebagai kakak kandungku," teriak Lina di dalam kamar.
"Tapi, itu tidak mungkin Lina, itu terlalu sakit Lina. Jika kakak membagi suami denganmu, apa tidak ada kata lain selain berbagi suami Lina?" tanya Dinda.
" tidak ada kak Dinda, hanya suami kakak yang aku inginkan saat ini!" jawab Lina.
"ya tuhan, Kenapa Lina begitu bersikukuh ingin memiliki suamiku, Kenapa dengan dirinya?" Gumam hati Dinda.
Dinda mulai meninggalkan pintu kamar Lina, dirinya tak mau lagi mendengarkan perkataan adiknya, yang mengiginkan Haikal.
tubuh Lina benar-benar terasa lemas, dia menatap pada cermin. mengacak rambutnya dengan begitu kasar.
"Apa yang aku lakukan tadi. Aku benar benar gila, di bayangi wajah Ardi." Gerutu Lina.
suara ponsel Lina berbunyi.
ternyata sebuah pesan datang, dimana lina langsung melihat Siapa yang mengirim pesan kepadanya.
( Hai, adik cantik. Sudah makan siang?)
ternyata pesan itu datang dari Ardi, Lina lupa ia malah mengaktifkan kembali ponselnya. membuat pesan dari Ardi terus berdatangan satu persatu.
"Sebarnya dia mau apa, kenapa akhir akhir ini. Hidupnya selalu mengganggu."
( Adik cantik, kenapa kamu tidak membalas pesan dari kakak?)
( Apa tidak ada kata kagen untuk kakak. )
" Lama lama, aku bisa gila. Menerima pesan dari Kak Ardi. Hah, sial. Gara gara aku hilang kendali, aku jadi memarahi pegawai caunter mengamuk karna wajahnya sama dengan kak Ardi."
Lina mengobrak-abrik kasurnya, menyingkirkan semua alat make up yang berada di meja riasnya. Iya benar-benar merasa frustasi, saat kehadiran arti yang terus mengganggu kehidupannya.
Lina mulai berusaha beristirahat, menenangkan semua rasa cemas yang berada pada dirinya. " Aku coba tidur sebentar. Mudah mudahan bayangan Ardi hilang."
Lina mulai merebahkan tubuhnya di atas, tertidur melupakan semua bayangan tentang Ardi.
namun baru saja ia menutup kedua matanya, suara ketukan pintu di depan rumah terdengar begitu jelas.
Tok .... Tok ....
__ADS_1
ternyata yang mengetuk pintu itu adalah Haikal, membuat Lina terbangun dari kasurnya. menghampiri pintu depan rumah. sedangkan Dinda masih sibuk dengan rutinitas memasak di dapur.
"Lina, kebetulan sekali kamu yang membuka pintu," ucap Haikal. Tersenyum ramah pada Lina. Tangannya mulai mengusap lembut pada kepala Lina.
Hingga di mana ia mengigat perkataan Ardi. Haikal tak meneruskan tangannya yang berniat mengusap lembut kepala Lina.
"Kok kebetulan? Memangnya ada apa kak?" tanya Lina yang begitu senang. Lina mulai memegang tangan Haikal.
Namun, dengan sigap Haikal. menyingkirkan tangannya agar tak ter genggam oleh Lina.
"Kenapa kak?" tanya Lina.
Lina merasa heran, tak biasanya Haikal menghindari belaian tangan Lina. membuat dirinya merasa kesal.
"Oh ya, tadi ada yang nitip ini ke kakak," ucap Haikal menyodorkan sebuah kado kecil untuk Lina.
"Kakak kasih buat Lina?" tanya Lina kepada Haikal.
" itu bukan pemberian dari kakak, itu pemberian dari sahabat kakak untuk kamu Lina!" jawab Haikal. agar Lina tak salah paham jika kado pemberian itu bukan dari Haikal melainkan dari Ardi sahabatnya.
" sahabat kakak yang mana?" tanya Lina.
" Masa kamu lupa, yang kemarin malam menginap di rumah kita!" jawab Haikal.
jawaban Haikal membuat Lina merasa kesal, Lina mengira bahwa Hadiah itu dari Haikal, tapi ternyata Hadiah itu dari Ardi. orang yang membuat dirinya akhir-akhir ini menjadi sedikit gila.
"Ya, siapa lagi. Sahabat kakak kan hanya dia saja!" jawab Haikal.
"Oh."
Lina bergegas pergi masuk ke dalam kamar, membuat Haikal merasa heran. terlihat sekali Lina kekal akan Pemberian hadiah dari Ardi.
"Kenapa dengan gadis itu." Gumam hati Lina.
. saat percakapan Lina dan Haikal, ternyata Dinda mengintip di balik tembok. Dinda mulai salah paham. melihat Haikal menyodorkan sebuah kado kecil kepada Lina.
"Untuk apa Mas Haikal, memberikan kado kepada adikku." Ucap pelan Dinda.
Haikal yang baru saja pulang dari tempat ia bekerja, mulai mencari keberadaan Dinda sang istri.
sedangkan Dinda yang tengah mengintip, terburu-buru pergi masuk ke dalam dapur untuk memasak.
"Dinda, sayang."
Haikal Memanggil nama sang istri dengan begitu mesra, ia tak mau ada lagi perdebatan di antara dirinya dengan sang istri. karena baginya sudah cukup jika harus bertengkar terus menerus. Haikal lelah dengan pertengkaran yang terus-menerus terjadi.
__ADS_1
"Ke mana istriku."
Haikal mulai menaruh tasnya ke dalam kamar, ia tak menemukan sang istri berada di dalam kamar. saat itu juga Haikal melangkah menuju ke dapur. dan benar saja Dinda Tengah memasak.
Haikal mulai mendekat ke arah sang istri, perlahan tangannya mulai memeluk Dinda dari arah belakang. kedua mata Dinda berkaca-kaca menahan rasa kesal dan juga sakit hati.
"Sayang, ternyata kamu ada di sini."
Dinda mulai mematikan kompornya, dia tak menjawab perkataan sang suami. Linda perlahan melepaskan kedua tangan Haikal yang memeluk tubuhnya.
"Maaf mas, aku sedang sibuk." cetus Dinda.
Haikal melihat wajah Dinda yang cemberut, membuat dirinya langsung merayu sang istri.
"Bohong, kamu kenapa sayang. Masih marah," ucap Haikal dengan lembut.
Dinda dengan fokusnya memotong sayuran, ia tak mempedulikan sang suami yang terus merayimu dirinya.
"Hey cantik." Haikal mulai mencuil dagu Dinda.
Membuat Dinda tiba tiba berkata," aku sibuk. Sebaiknya kamu tunggu aku di ruang makan."
Dinda meneruskan memotong sayuran, Haikal yang mendengar sang istri berkata seperti itu, langsung mencium pipi Dinda.
"Pipimu manis sayang."
tentu saja ciuman itu bukan membuat Dinda marah, melainkan membuat kedua pipinya memerah menahan rasa malu.
."Cie yang lagi ngamuk."
Haikal terus menggoda Dinda, merayunya agar Dinda tersenyum seperti biasanya.
"Senyum dong."
Haikal yang tak puas merayu sang istri, membuat dirinya merogoh saku celana. yang di mana ternyata Haikal Memberikan suatu kado kecil untuk istrinya.
"Oh ya, aku punya kado kecil, untukmu sayang."
Haikal langsung menyodorkan kado kecil itu kepada istrinya. tapi Dinda malah mengabaikan kado kecil itu, Iya terus fokus dengan Masakannya yang belum matang.
"Dinda, sayang kamu tak mau menerima pemberian suamimu ini," ucap Haikal.
"Untuk apa kamu memberikan kado kecil itu kepadaku mas. Bukanya kamu tadi memberikan kepada Lina," balas Dinda.
Haikal menepuk jidatnya.
__ADS_1
"Kamu salah paham sayang, kado kecil yang aku beri pada Lina tadi. Pemberian dari Ardi. Dia menitipkan untuk aku memberikan pada Lina."
Jelas Haikal..