
"Bu saya pamit, ya," ucap Haikal tak lupa dengan senyuman manisnya.
Kedua ibu ibu yang saling mengejek, menatap ke arah senyuman Haikal yang teramat manis seperti gula pasir, jika di seduh dengan teh dan di padukan air hangat akan menjadi teh manis hangat di pagi hari.
"Aduh, eta ayang embeb bade ka mana coba. Kalah indit. Eta tu da gara gara maneh, jadi si kasep teh indit."
(Aduh, itu Sayang Bebeb mau ke mana coba. Malah pergi. semua gara gara kamu. Jadi si tampan pergi.)
sahabat ibu itu malah mendelik kesal, setelah perdebatan mereka usai karna Haikal yang berpamitan.
Haikal berjalan dengan berusaha mengikhlaskan semua yang terjadi padanya, kata maaf sudah ia layangkan pada pesan untuk Ardi. Begitu juga surat pengunduran diri.
Haikal tak mau jika ia menjadi benalu, di keluarga Ardi dan Lina. Maka dari itu ia memutuskan pergi, walau sebenarnya ada rasa berat di hati, meninggalkan kota seribu kebahagian untuk dirinya saat bersama Dinda, wanita yang ia cintai.
Air mata kini ke luar menetes, entah air mata yang keberapa kalinya keluar dari kedua mata Haikal. Hati seorang lelaki tak bisa di bohongi, walau apapun memakai logika tapi perasaan tetap sama, lemah.
Hanya saja lelaki terkadang lebih kuat dan mampu menyimpan kesedihanya.
"Heh, den Haikal?"
Haikal memberi salam dan sopan kepada penjual uduk itu, dari dulu ia selalu ramah pada siapapun di kompelek yang ia tinggali.
Penjual uduk, melihat ke arah koper besar yang di bawa Haikal, membuat ia berlari dan bertanya." Ini teh aden mau ke mana?"
Haikal tersenyum dengan wajah binarnya," Haikal mau pulang kampung, tinggal di sini ingat terus sama sang istri, bu."
"Eleh, kenapa harus pulang atuh, di sinikan banyak tetangga dan ibu ibu bisa menghibur Aden Haikal."
"Iya, hanya saja saya butuh waktu untuk menenangkan diri."
"Mm. Ya udah atuh, ibumah da enggak bisa melarang, yang terpenting den Haikal sehat di kampung. Jangan lupa balik lagi ke sini."
"Iya bu, Insa Allah."
Haikal kini memberikan kunci kontrakannya kepada Ibu penjual uduk, karna ibu penjual uduk itu yang mempunyai kontrakan yang selalu di tempati Haikal.
"Ini kunci dan uang sewanya. Saya mau pamit pulang dulu ya bu."
"Iya udah hati hati."
__ADS_1
Haikal kini melangkah untuk pergi, menaiki bus yang biasa membawanya pulang menuju kampung.
Ibu ibu yang berada di kontrakan, bertetanggaan dengan Haikal merasa ingin tahu kenapa Haikal pergi begitu saja.
Padahal kematian Dinda baru saja satu hari.
"Bu. Si Haikal teh kenapa malah pulang kampung?"
"Entahlah, sepertinya den Haikal tertekan dan tak mau larut dalam kesedihan semenjak istrinya meninggal dengan cara mendadak!"
"Kasihan ya, ganteng tapi nasibnya hem."
"Hustt, udah ah jangan gosip, ini masih pagi."
penjual uduk itu kini pergi. Meninggalkan seribu pertanyaan dari para tetangganya.
@@@@@@
Langkah kaki memang terasa berat, Haikal terus berjalan menelusuri pinggir jalan, ia melihat mobil lalu lalang melintas. Membuat dirinya tak sabar ingin segera pulang ke kampung untuk menemui makam sang ibu.
Haikal mencoba melepaskan segala keresahan, ia ingin mencoba hidup lebih tenang.
"Maaf, enggak sengaja," ucap Haikal yang menabrak seorang wanita hingga tersungkur jatuh.
Haikal mencoba mengulurkan tangannya untuk membantu wanita itu berdiri, wajah wanita itu terus menunduk membuat Haikal tak mencurigai Siapa orang yang sudah ia tabrak.
wanita itu mulai mengulurkan tangannya ke arah tangan Haikal, mencoba menjabat tangan Haikal. akan tetapi tiba-tiba saja bus datang. membuat Haikal langsung menghentikan bus itu.
"Tunggu pak."
kini bus itu berhenti membuat Haikal langsung menaiki anak tangga dari bus yang akan ia tumpangi.
Akan tetapi, Haikal tak menyadari dengan wanita yang bertabrakan dengannya mengekori punggung Haikal. Membuat sang sopir berkata.
"Dua orang?"
Haikal mengbaikan ucapan sang sopir, ia tak tahu jika sopir itu bertanya pada dirinya.
Waktu semakin cepat, jam terdengar berbunyi berdetik, membuat rasa kantuk menyelimuti kedua mata Haikal.
__ADS_1
Ia mencoba menyenderkan punggung secara perlahan, merasakan suara mobil yang berjalan mengantarkanya untuk segera pulang ke desa.
Sayup angin terasa menusuk pada kulit Haikal, membuat rasa nyaman terasa pada dirinya.
"Nyaman."
Itulah yang terucap pada hati lelaki yang kini menjandang sebagai setatus duda, walau berat hati menerima akan tetapi semua sudah menjadi nasib.
Melipatkan kedua tangan, melupakan semua kelelahan pada pikiran dan hatinya. Haikal mulai terlelap tidur tanpa ia sadari.
Sosok wanita itu memandang Haikal dengan punuh makna.
Tertidur dengan sebuah mimpi, membuat lelaki berjekat biru dongker mengigau sesuatu yang membuat sang wanita penasaran.
Tangan wanita itu, ingin rasanya membelai pipi Haikal yang begitu putih, seakan pipi itu begitu mulus bersih seperti bayi.
"Dinda. Dinda,"
Mengigau dengan menyebut nama Dinda, membuat wanita yang mengekori dirinya, tersenyum dan berkata." Tidurlah, aku akan menemanimu."
ucapan lembut wanita itu mampu membuat Haikal tak mengigau kembali, dirinya seakan terpana akan suara yang membuat tidurnya kini kembali nyenyak.
tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 siang, gimana bus yang tengah ditumpangi Haikal kini berhenti di tempat peristirahatan.
Di mana para penumpang turun untuk segera mengisi perut mereka, dan menjalankan kewajiban sebagai umat muslim.
akan tetapi Haikal yang memang sudah lelah dari kemarin, membuat ia terjaga dari tidurnya. Wanita yang mengikuti dirinya kini duduk di samping Haikal, menatap perlahan wajah tampan Haikal.
hingga di mana Haikal kini membalikkan wajahnya dengan kedua mata yang masih menutup, membuat wanita itu terburu-buru menundukkan pandangan dia kaget jika Haikal terbangun dan mengenali dirinya. Pasti Haikal akan mengusir dirinya saat itu juga.
Sang sopir yang merasa kasihan dengan Haikal, kini membangunkan lelaki berparas tampan itu, ia mencoba memukul pelan bahu Haikal dan berkata," pak, pak."
pukulan sang sopir membuat Haikal langsung terbangun dan membuka kedua matanya, ia melihat ke arah sang supir dengan mengusap pelan kedua mata yang masih merasakan rasa kantuk." Ada apa ya? Pak. Apa sudah sampai?"
"Maaf sebelumnya, perjalanan masih jauh. Hanya saja kita sedang beristirahat. Apa Bapak tidak lapar ?saya sengaja membangunkan bapak untuk bapak bisa mengisi perut dan juga menjalankan ibadah kewajiban Bapak sebagai umat muslim."
Haikal mengusap kasar wajahnya, melihat jam yang menempel dari tangannya, saat itulah Haikal kaget dan beristighfar menyebut nama Allah, " Aduh Pak, udah jam 01.00 lagi. Ya sudah, Makasih ya Pak udah bangunin saya. Saya mau menunaikan salat dzuhur dulu."
"Monggo, silahkan. Jam istirahat masih lama, pak."
__ADS_1