
Lina kini menganggkat panggilan nomor baru itu.
"Halo, siapa sih. Ganggu saja." Bentak Lina.
"Halo, Lina sayang apa kabar," ucap lembut suara lelaki yang entah Lina tak tahu siapa itu.
"Halo, siapa kamu?" tanya Lina tegas.
"Ya ampun, Lina sayang. Masa kamu lupa dengan kekasihmu ini!" ucap Lelaki itu.
Membuat Lina mengigat suaranya, " Ardi."
Lelaki itu kini tertawa terbahak bahak, setelah mendengar namanya di sebut.
"Betul sekali."
" Dari mana kamu mendapatkan nomor ponselku?" tanya Lina mencabik bibir kesal.
" itu rahasia, Kenapa juga kamu harus menanyakan dimana aku mendapatkan nomor ponselmu!" jawab Ardi dengan begitu santainya.
" Atau kamu mencuri dari Kak Haikal," ucap Lina.
Ardi tertawa terbahak bahak, " kenapa aku harus mencuri. Bukanya kamu yang memberikan nomor ponselmu semalam. Setelah kita bergelut dengan manja."
"Sudah cukup, jangan bahas tentang semalam lagi. Aku tahu pasti kamu mengada gadakan Ardi. Kamu hanya ingin menakut-nakuti ku, agar kamu bisa menyelamatkan rumah tangga kakakku," ucap Lina.
"Apa perlu adegan ulang lagi, agar kamu mempercayai semuanya," balas Ardi
"Sudah cukup, jangan bahas lagi. Aku tak mau mendengar ocehan omong kosongmu itu," ucap Lina.
"Omong kosong apa. Semua ini kenyataan Lina. Kamu harus terima," balas Ardi.
"Terima, aku tidak akan terima. Aku tahu lelaki seperti kamu tak jauh dari pembohong berkedok belakang," ucap Lina.
"Ya sudah jika kamu tidak terima, aku akan mengatakan semuanya pada kakakmu, bagaimana," ucap Ardi. Seolah membuat Lina terkejut dan panik.
"Jangan kurang ajar kamu Ardi, jelas jelas kita tak melakukannya tadi malam," gerutu Lina membela diri.
"Lina kamu ini, bagaimana. Aku kan sudah ingatkan kamu, semalam kamu sendiri yang mengajak, kenapa kamu lupa," balas Ardi.
Lina sudah lelah berdebat dengan Ardi, Iya langsung mematikan ponselnya.
membuat Ardi langsung menelpon lagi Lina.
"Dia lagi, menelpon."
dengan terpaksa lina langsung menonaktifkan ponselnya, yang di mana Ardi tidak akan bisa menelpon nya kembali.
__ADS_1
"Aku harus mengganti nomor ponselku sekarang juga. Kalau tidak Ardi akan meneleponku terus menerus. Jika semua itu terjadi, aku bisa gila di buatnya." Gerutu Lina.
Menghelap nafasnya yang mungkin terasa berat, Lina saat itu juga mulai keluar dari kamarnya.
Ia melihat kakaknya tengah duduk di kursi ruang tamu.
Membuat Lina berjalan tak mempedulikan keadaan kakaknya sendiri.
"Lina, kamu mau ke mana?" tanya Dinda. Yang masih duduk di kursi dengan wajah yang terlihat pucat.
"Bukan urusan kakak!" jawab Lina pergi begitu saja.
Dinda merasa heran, setelah menikah dengan Haikal, Lina menjadi gadis yang pembangkang dan tak mau menurut.
Memegang kepala yang terasa pusing, Dinda berusaha tak memikirkan adiknya saat itu juga. Karna percuma memikirkan Lina yang ada Dinda akan sakit dan tak bisa menjaga bayi dalam kandungannya.
@@@@@
Di dalam perjalan menuju kantor, Ardi sangatlah puas, dengan apa yang ia lakukan. di mana Dirinya menakut-nakuti Lina. Membuat Lina cemas seketika.
"Hah, ada untungnya juga aku menginap di rumah, Haikal. Lumayan permainan yang mengasikkan.".
Ardi melihat Haikal, baru saja sampai di kantor. Terlihat wajah yang begitu kelelahan dengan rambut yang berantakan. membuat Ardi langsung menghampiri sahabatnya itu.
menepuk bahu dan mengagetkan Haikal," hey. Kenapa brow."
"Ya ampun lu, Ardi bikin gue kaget saja." gerutu Haikal.
"Hah, gue lelah di rumah. Menghadapi kedua wanita yang tak lain lu tahu sendiri kan Lina dan Dinda selalu bertengkar karna masalahnya itu selalu mengarah ke gue," ucap Haikal mengeluarkan semua isi hatinya yang seakan menjadi beban bagi dirinya.
Ardi menepuk kembali punggung Haikal," salah lu sendiri, Sudah gue Ingatin tadi pagi. Lu itu jangan terlalu memanjakan Lina. Karna dia sudah dewasa bukan anak kecil lagi."
"Tapi kan gue berbuat begitu karna kasihan," balas Haikal.
"Kasihan tapi bikin bini lu sakit hati, harusnya lu cuek aja terhadap Lina. Fokus sama istri lu yang tengah mengandung. Biarkan saja si Lina dia kan udah gede. Ibarat udah cebok sendiri," cetus Ardi.
Haikal mulai mencerna kembali ucapan Ardi. Membuat Ardi kembali berucap," kamu tak takut jika, nanti Lina malah menaruh hati padamu. Karna di usia ya yang remaja itu, Lina bisa saja loh jatuh cinta dengan orang yang selalu peduli padanya Setiap hari."
"Heh Haikal, kamu ini orangnya tak tegas ya, kebanyakan mikir, " ucap Ardi sembari tertawa menganggap semua tak serius.
"Itu tak mungkinlah Ardi, masa ia Lina akan jatuh cinta padaku karna perhatian yang aku berikan. Itu mustahil," balas Haikal.
Ardi seakan lelah memberi suatu ucapan kode agar Haikal itu langsung tanggap akan apa yang disampaikan Ardi.
"Hah, sepertinya temanku ini kurang mengerti dunia wanita ya. Nanti kapan kapan aku akan ajarkan kamu tentang wanita," ucap Ardi.
Mereka langsung bergegas pergi masuk ke dalam kantor.
__ADS_1
Karna waktu sudah menujukan 9 pagi.
"Haikal, karna kamu terlambat dengan terpaksa aku potong gaji kamu." Tegas Ardi.
"Terserah kamu lah, aku tak peduli." Ucap Haikal. Wajahnya begitu murung.
Haikal, kembali duduk di kursi tempat ia bekerja. Melihat berkas yang menggundung tinggi membuat kepalanya berdenyut kencang. Rasanya kepalanya ingin sekali meledak saat itu juga.
"Haikal, pasti kamu pusing." Ucap Ardi.
Haikal mengabaikan ucapan Ardi, ia tetap fokus mengerjakan pekerjaan kantor. Yang dimana berkas berkas mejungjung tinggi.
"Mau gue bantu, Haikal." Ucap Ardi menawarkan tenanganya.
"Sudah tak usah, bos. gue bisa mengerjakannya sendiri," cetus Haikal. dengan begitu fokus Menatap layar laptop.
"Apa kamu yakin," ucap Ardi.
"Yakin sekali bos," balas Haikal.
"Ya sudah, gue mau pergi dulu. Good bay."
Ardi yang jail, mecuil hidung Haikal. Membuat Haikal bergidig geri.
"Dasar lu."
Ardi Melambaikan tangan bergegas pergi dari hadapan Haikal.
@@@@@
saat Ardi masuk ke dalam ruangan sang ayah, ia melihat seorang wanita muda duduk di meja sang ayah.
"Siapa kamu." Tanya Ardi.
wanita itu langsung membalikkan badannya, setelah mendengar Ardi berucap.
wanita itu semakin mendekat kearah Ardi, tangannya mengusap dada Ardi dan berucap," kenapa sayang. Kamu kaget."
Ardi tak suka dengan cara wanita itu, ya sedikit menyingkir di hadapan wanita itu.
"Bisa tidak tanganmu itu tidak menyentuh dadaku." Tegas Ardi.
wanita itu malah tersenyum, Iya melepaskan tangannya yang memegang dada Ardi.
" Oh maaf, aku mengira kamu suka jika aku perlakukan kamu seperti ini."
" Apa tujuan kamu datang ke sini?"
__ADS_1
" Aku ingin mencari pak Ario, kemana dia?"
" Apa kamu tak tahu, jika papah ke luar negri."