Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 151


__ADS_3

"Kurang ajar nenek lampir itu, belum aku berucap semuanya dia dengan lantangnya mematikkan ponselnya. Awas aja."


Sisil mengerutu kesal, ia kini ke luar dari kamar sang ibu, dengan membawa ponsel dan juga tabungan ibunya sendiri.


Hanya saja saat dirinya ke luar dari kamar, sang ibu ternyata sudah berdiri di abang pintu dengan menatap tajam ke arah Sisil.


"Apa yang sedang kamu lakukan Sisil?" tegas sang ibu bertanya.


Sisil seakan santai menanggapi kemarahan sang ibu, ia kini berjalan melewati wanita tua di hadapanya. Hanya saja Tia menarik tangan Sisil hingga barang yang berada pada tangan Sisil jatuh ke atas lantai.


Brak ....


Tia kaget dengan apa yang ia lihat, "Sisil, apa yang sudah kamu lakukan, kenapa kamu mengambil uang tabungan ibu."


Sisil memainkan bibirnya saat sang ibu bertanya dengan mengoceh. Kedua jarinya menutup lubang telinga, tak ingin mendengar nasehat yang terlontar dari mulut ibunya sendiri.


"Sisil, kamu dengan tidak apa yang ibu katakan." Sembari mengambil uang yang berserakan di atas lantai.


Saat itu Tia menatap ke arah wajah anaknya, membuat Sisil menunjukkan sebuah ponsel pas di depan wajah sang ibu.


"Mengoceh terus, lantas ini apa?"


pertanyaan Sisil membuat sang ibu terdiam menatap ponselnya sudah berada di tangan Sisil," kembalikan ponsel ibu." Tegas sang ibu kini berani berucap.


Sisil menjauhkan ponsel ibunya, " tidak akan."


"Sisil, cepat kembalikan ponsel itu." Tegas sang ibu.


"Tidak akan." Wanita itu berlenggak lenggok meninggalkan sang ibu, yang terus berusaha mengambil ponselnya yang berada di tangan Sisil.


Sisil kini masuk ke dalam Kamar tidurnya, sedangkan sang ibu terus berteriak Memanggil nama anaknya.

__ADS_1


tiba-tiba saja sisil membalikkan badan ke arah sang ibu dengan berkata," Ibu mau ponsel ini kan?"


pertanyaan Sisil membuat sang Ibu sangatlah kesal." cepat kembalikan ponsel ibu."


" tidak segampang itu, bu. ibu harus menyerahkan seluruh tabungan Ibu kepadaku, setelah itu aku akan memberikan ponsel ini kepada ibu," balas Sisil membuat sebuah ancaman kepada sang ibu.


" Kamu benar-benar licik Sisil, kepada ibumu sendiri Kamu berani mengancam dan berkata seperti itu."


" sudahlah Bu jangan banyak ceramah, tinggal Ibu bilang iya atau tidak, begitu juga repot amat sih."


sang Ibu berusaha menahan rasa kesal dan juga emosi yang terus menumpuk di pikiran dan juga hatinya, sebenarnya Ia juga membutuhkan uang tabungan itu apalagi ponselnya.


" Ayolah Bu tinggal pilih lama banget sih,"


sang Ibu kini menarik nafasnya secara perlahan. berusaha memilih yang terbaik antara ponsel dan juga uang tabungannya.


" Ya sudah Ibu membutuhkan uang tabungan ini, ponsel kamu saja yang pegang. toh Ibu juga bisa beli ponsel baru dengan uang tabungan hasil jerih payah ibu sendiri."


" Ibu yakin dengan pilihan ibu sendiri, kalau ibu yakin dengan pilihan ibu sendiri. otomatis ponsel ini akan kujual segera mungkin, agar aku bisa pergi shopping hari ini juga."


" terserah kamu Sisil, Ibu tak peduli dengan apa yang kamu lakukan, karena kalau ponsel itu dijual mungkin Harganya tidak akan bisa memenuhi apa yang kamu inginkan, Apalagi kamu akan pergi berbelanja,"


Sisil menggeramkan giginya, ia pergi dengan menutup pintu kamarnya dengan begitu keras. membuat sang Ibu mengusap pelan dadanya.


"Sisil, Kapan kamu berubah, Nak."


Di dalam kamar tidur, sisir menggerutu dirinya sendiri, mengacak rambut panjangnya. Iya hampir saja membanting ponsel ibunya sendiri, karena kesal dengan pilihan sang ibu yang terlalu pintar.


"Hah, kenapa wanita tua tidak memilih ponsel sih."


Sisil dengan terburu-buru mengganti baju untuk segera pergi berbelanja di mall, dia sekilas menatap sang ibu yang tengah membersihkan ruang tamu.

__ADS_1


sedangkan dengan sang ibu, ia masih tetap fokus mengelap meja yang terlihat berdebu.


Tak ada kata pamitan sedikitpun dari Sisil kepada ibunya, akan tetapi hati ibu yang masih menganggap anaknya. walau sejahat apapun sifat Sisil. Wanita tua itu tetap bertanya dengan begitu lembut." kamu mau kemana?"


Sisil mengabaikan ucapan sang ibu, Iya terus berjalan keluar dari rumah.


sang Ibu hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah anaknya yang benar-benar sudah berubah, wanita tua itu berusaha sabar dan menerima semua keadaan Sisil dan juga kehidupannya yang sekarang.


walau sebenarnya hatinya merasa sangat sakit akan kelakuan Sisil yang benar-benar keterlaluan, Iya menahan air mata yang perlahan mulai jatuh mengenai kedua pipi.


Berharap ada keajaiban yang datang, di mana Sisil berubah menjadi wanita yang dulu selalu menurut akan perkataan Ibunya dan tak pernah membangkang.


walau kemungkinannya sangatlah tipis, akan tetapi wanita tua itu terus berusaha berdoa meminta yang terbaik kepada sang Maha Kuasa agar bisa meluluhkan hati anaknya.


Sisil berjalan dengan begitu cepat, ia tak menatap ke sana ke mari.


Hingga akhirnya.


Brukkk ...


pandangan Sisil tiba-tiba saja gelap gulita, seakan tak ada setitik cahaya di depan matanya.


@@@@@


awalnya rencana Maya ingin segera bertemu dengan Tia, akan tetapi sampai sekarang Tia. tak ada kabar juga, entah Sisil memberitahu ibunya itu apa tidak. karena Maya sudah tahu jelas sifat Sisil yang sering berbohong dan juga membangkang terhadap orang tua.


" sebaiknya aku menemui Ardi sekarang juga, untuk bisa menemani calon menantuku di rumah sakit. karena percuma saja menunggu Tia. mungkin ponselnya akan dipegang oleh Sisil anak yang tak tahu diri dan tak tahu terima kasih kepada orang tuanya sendiri."


Maya mulai bergegas menaiki mobil untuk segera ke rumah sakit menemui menantu yang telah ialah Lina. sebenarnya hati Maya Masih memikirkan soal perkataan Tia semalam, yang di mana dia membahas tentang anaknya sendiri.


Maya merasa tak percaya dengan apa yang diceritakan Tia, Padahal baru semalam Anton mengatakan isi hatinya, Tapi saat Tia datang bercerita kepada dirinya melalui pesan. betapa hancur dan remuknya jantung Maya saat itu, ia merasa sangat sakit hati dengan Sisil, gadis yang dulu ia sangat sukai dan ia percayai.

__ADS_1


membayangkan cerita tentang Sisil dan juga suaminya yang sudah berhubungan tanpa Maya ketahui, membuat kedua Mata Maya mengeluarkan air mata, perlahan tangan Maya mulai mengusap air mata yang terus berjatuhan mengenai kedua pipinya. Maya mengira air matanya sudah kering karena ia semalaman terus saja menangis karena memikirkan perkataan Tia dalam pesan yang dikirim waktu malam.


__ADS_2