
Dengan berjalan penuh rasa kesal, akhirnya Bu Maya melihat suster-suster yang tadi pagi ia perintahkan untuk berjaga di ruangan Lina.
"Ternyata kalian berada di sini, Kenapa kalian berada di sini. bukannya saya memerintahkan kalian untuk berjaga di ruangan menantu saya," ucap tegas Bu Maya.
"Maafkan kami, bu. Kami sudah berusaha menahan menantu ibu dan juga anak ibu, akan tetapi mereka malah bersikeras ingin keluar dari ruangan," balas salah satu suster angkat bicara.
" Kalian itu kan berlima, masa iya kalian tidak bisa mencegah mereka berdua," cetus Bu Maya.
para suster itu kini menundukkan pandangan, mereka bingung harus menjawab apa?
" Ya sudah saya tidak ingin memperpanjang masalah ini, jadi ada yang tahu mereka berdua ke mana?"
salah satu dari Suster itu kini menjawab pertanyaan yang terlontar dari mulut Bu Maya," kami mendengar percakapan menantu ibu, yang terdengar begitu serius."
"Serius."
"Ya."
"Ya sudah saya tidak akan menyalahkan kalian."
para suster itu begitu tenang, saat Bu Maya tidak menyalahkan mereka.
wanita tua itu kini menelepon Ardi, berharap Ardi mau mengangkat panggilan telepon.
beberapa kali Bu Maya menelepon, akan tetapi Ardi tidak mengangkat panggilan telepon dari ibunya sendiri, entah apa yang sebenarnya terjadi dengan anaknya dan juga menantunya, sampai mereka nekat pergi dari rumah sakit.
" Kenapa Ardi tidak mengangkat panggilan telepon dari tadi, sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan Ardi dan Lina?"
rumah ya kini melacak keberadaan Ardi dalam ponselnya, ia takut terjadi apa-apa dengan anaknya dan juga menantunya.
@@@
Sedangkan di dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, Lina terus saja menangis menatap ke arah jendela. Ada rasa sesal yang mendera pada hatinya, belum juga menyelidiki semuanya, Dinda malah meninggal dunia.
membuat rasa sakit yang tak tertahankan bagi Lina.
Ardi yang tengah mengendarai mobil tak tega melihat calon istrinya menangis terus menerus, membuat ia mengusap perlahan rambut pendeknya Lina.
"Kamu harus sabar, mungkin ada rencana yang lebih baik dari ini. kamu harus kuat dan tegar."
" Bagaimana aku bisa tegar Ardi, keluargaku satu-satunya yang tak lain ialah Kak Dinda pergi meninggalkanku sendirian."
" aku tahu itu begitu sulit bagimu, kamu belum bisa menerima sepenuhnya kepergian kakak kamu sendiri, tapi aku yakin. kakakmu Pasti tenang di alam sana, kamu jangan menangis terus ya."
__ADS_1
Lina menatap ke arah Ardi dengan air mata yang terus mengalir mengenai kedua pipinya, kini Lina menyandarkan kepalanya pada bahu Ardi, dan berkata," Terima kasih kamu selalu menyemangatiku Ardi."
Ardi tersenyum bahagia mendengar perkataan Lina yang sedikit terdengar tenang.
ponsel Ardi terus saja bergetar, ia mencoba mengambil ponselnya yang berada di saku celana. yang di mana ia melihat pada layar ponselnya.
"Ibu."
Lina menatap ke arah Ardi kembali, di mana ia Menatap layar ponsel Ardi yang terus berdering.
"Ardi itu ibumu, kenapa kamu tak menganggkatnya?"
Ardi malah membiarkan ponselnya berdering terus menerus, yakini menyimpan ponselnya. " kalau aku mengangkat panggilan telepon dari ibuku, nanti urusannya ribet. wanita tua itu pasti banyak bertanya dan malah menghambat perjalanan kita menuju ke rumah sakit untuk bertemu dengan jenazah Kakaknya sendiri."
"Tapi, kasihan ibumu jika kamu tak mengangkat panggilan teleponnya."
" Sudahlah, kamu tak usah mikirin tentang ibuku yang terus menelepon, biarkan saja."
Lina kini tak bertanya lagi kepada Ardi, ia malah menutup mulutnya.
@@@@
Haikal masih duduk memandangi mayat sang istri yang terbujur kaku. Hatinya begitu remuk, harus menerima kenyataan pahit.
"Dinda, kenapa kamu pergi secepat ini. Aku masih butuh kamu Dinda."
Haikal terus saja menangis melihat mayat istrinya yang sudah terbujur kaku.
mengepalkan kedua tangan, Iya berharap dirinya bisa menemukan seseorang yang sudah membuat Dinda meninggal.
"Siapa pun orang itu, aku pasti akan menemukannya sampai kapan pun. Aku pastikan hidupnya tidak akan tenang."
"Haikal." suara itu terdengar memanggil namanya, di mana ia mengira bahwa suara itu berasal dari Dinda.
"Dinda?" akan tetapi mayat Dinda tetap terbujur kaku.
"Haikal."
Haikal mengusap kasar wajahnya, mengira bahwa yang memanggil namanya adalah istrinya.
"Kak Haikal." Ucap Lina.
ternyata orang yang memanggil Haikal itu bukanlah istrinya, akan tetapi itu Lina adik dari Dinda.
__ADS_1
suaranya begitu terdengar jelas seperti suara Dinda.
"Lina, bukanya kamu masih di rawat?" tanya Haikal. melihat wajah Lina yang penuh dengan air mata.
Ardi kini berdiri di belakang punggung Lina," Haikal, Bagaimana keadaanmu sekarang," ucap Ardi kepada sang sahabat.
" seperti yang kamu lihat, keadaanku seperti ini." balas Haikal.
Ardi menepuk bahu sahabatnya dengan begitu keras," gue yakin lu pasti kuat dengan semua ini."
Haikal tersenyum kecil, saat Ardi melayangkan kata kata semangat untuk dirinya.
Kalian sengaja datang ke sini?" tanya Ardi.
"Ya Haikal. Lina ingin melihat mayat Dinda. Dia memaksaku untuk pergi ke rumah sakit ini!" jawab Ardi.
"Terus kondisi tubuh Lina sekarang?" tanya Haikal.
" keadaannya sudah cukup membaik, besok Lina bisa diperbolehkan untuk pulang," ucap Ardi.
" syukurlah kalau begitu, aku senang mendengarnya,
dan untung saja aku belum menyuruh para perawat untuk menguburkan istriku sekarang," balas Haikal.
Lina kini berjalan mendekat ke arah mayat Dinda, Ia membuka selimut yang menutupi wajah kakaknya. wajah pucat yang terakhir kalinya iya lihat, membuat ia langsung menangis tiada henti.
"Kak Dinda. Apa kamu bisa mendengar suaraku saat ini, aku berharap kamu bisa mendengar suaraku saat ini kak Dinda." ucap Lina pelan.
Lina merasa sangat bersalah kepada sang kakak.
Jika saat kejadian itu dia tidak pergi, mungkin nasib Dinda tidak akan seperti ini. Namun apa daya semua sudah takdir.
" Kak Dinda, maafkan aku. Aku bersalah, karna aku kak Dinda jadi seperti ini."
Haikal hanya bisa menatap ke sedihan yang di rasakan Lina, ia kini mendekat ke arah Lina dan berkata," Lina, semua sudah takdir kamu jangan salahkan diri kamu sendiri."
"Tapi kak, aku ...."
belum perkataan Lina terucap semuanya, kini Haikal mulai berucap dengan nada begitu lembut," kakak kamu pasti akan tenang dan merasa bahagia di alam sana jika kamu bahagia di sini."
" keluargaku hanya Kak Dinda saja, aku tidak punya siapa-siapa lagi selain Kak Dinda."
" kata Siapa keluargamu hanya kak Dinda saja, sebentar lagi kita akan menikah Lina, kita akan menjadi keluarga. Kamu tidak akan kesepian seperti apa yang kamu bayangkan saat ini. Aku akan selalu ada di sisimu disaat kamu membutuhkan aku, Jadi kamu jangan kuatir." Timpal Ardi.
__ADS_1