
kini Ardi sudah sampai di tempat tujuan, yang di mana Ardi langsung menemui Haikal. Terlihat wajah Haikal yang begitu cemas, Ardi langsung menghampiri sahabatnya pada saat itu juga.
menepuk bahu dan berkata," Haikal. Lu pasti nunggu lama."
Ardi menampilkan wajah gelisah, dengan napas terengah engah. membuat haikal langsung bertanya pada keadaan," lu kenapa? kaya orang sudah dikejar hantu saja."
"Gue enggak kenapa kenapa! Hanya saja tadi gue ada urusan mendadak jadi lama datang," ucap Ardi beralasan.
"Ya sudah, sekarang kita cari Lina. Atau kita langsung laporkan saja ke polisi, karna gue lihat plat nomor mobil yang menculik Lina," balas Haikal.
Deg ....
Ardi mencari lagi sebuah alasan, agar Haikal tak mengajak dirinya untuk pergi ke kantor polisi. jika itu terjadi, Ardi akan menjadi tersangka.
"Haikal, sebaiknya kita jangan dulu lapor polisi, kita juga tidak mempunyai bukti yang sangat kuat. kalau memang Lina di culik," ucap Ardi. Beralasan untuk terlepas dari jeratan polisi.
" benar juga apa katamu Ardi, jadi kita harus bagaimana, kita tidak tahu penculik itu membawa Lina ke mana," balas Haikal.
"Aku harus mengecohkan Haikal sementara waktu," gumam hati Ardi.
tiba-tiba saja ponsel Haikal berbunyi, yang ternyata pesan dari sang istri.
(Mas, kamu di mana? Aku kuatir Liba belum pulang pulang juga.)
sebenarnya Haikal ingin memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Lina, kepada Dinda. Tapi dirinya sangat takut jika Dinda mendengar berita adiknya yang di culik Dinda akan bersedih.
Saat itu Haikal, tak berani membalas pesan dari istrinya, ia kembali menyimpan ponselnya. Di saku celana.
Sedangkan dengan Ardi, ia penasaran dengan raut wajah Haikal yang tiba tiba bersedih. Membuat dirinya langsung bertanya," kenapa muka lu kelihatan sedih sekali?"
"Istri gue, nanyain Lina adiknya yang tak pulang pulang. Kalau gue kasih tahu Lina di culik istri gue pasti bakal sedih," keluh Haikal.
"Sebegitu sayangnya Dinda pada adiknya. Dinda itu wanita yang baik dan sabar, lu beruntung dapatin dia," balas Ardi.
"Ya, gue beruntung. Dan gue menyesal karna tidak mempercayai perkataannya," ucap Haikal, membuat Ardi penasaran dengan perkataan Haikal.
"Maksud lu, tak mempercayai Dinda. memangnya Dinda kenapa?" tanya Ardi.
Awalnya Haikal ragu. untuk mengatakan yang sebenarnya sudah terjadi pada keluarganya. Mulutnya tak bisa mengugkapkan semuanya, menghelap napas panjang mengeluarkan secara perlahan, pada saat itulah Haikal mulai menceritakan semua yang ada pada hatinya.
"Dari pada gue ngebatin, ya udah gue ceritakan pada lu," ucap Haikal pada Ardi.
__ADS_1
"Apa sih lu, Haikal. Lebay, mau cerita ya cerita aja. nggak usahlah ada istilah menderita menderita," gerutu Ardi.
" asal lu tau ya, Sebenarnya gue males banget untuk mencari Lina, karena ternyata Lina itu menyukai gue secara diam-diam. Dan gue baru menyadari semuanya saat Lina membentak Dinda," ucap Haikal menceritakan semuanya.
"Makanya kata gue apa, jangan terlalu peduli dengan adik istri lu, kita enggak bakal tahu hati adik istri lu." balas Ardi.
" Ya, gue menyesal sekali. Kalau gue tahu dari awal gue enggak bakal peduli dan selalu memberi perhatian pada Lina," ucap Haikal.
"Sekarang nasi sudah menjadi bubur, tinggal lu perbaiki diri sama banyakin minta maaf sama istri, urusan Lina biar gue yang cari," balas Ardi.
"Beneran lu, mau bantu gue. Ar?" tanya Haikal.
"Ya, gue bakal bantu lu, sampai Lina ketemu," ucap Ardi.
Haikal merasa senang dengan jawaban yang terlontar dari mulut Ardi sahabatnya itu, hatinya bisa tenang. Tak perlu memikirkan apa yang terjadi dengan Lina, karna ada Ardi yang siap membantu mencarin Lina.
"Lu, emang sahabat gue yang terbaik," balas Haikal.
"Sip."
@@@@@
"Lu, yakin enggak mau gue antar?" tanya Ardi.
Haikal langsung menepuk bahu dan menjawab perkataannya!" Lu, tenang aja. Gue enggak mau nyusahin lu yang ke dua kalinya."
"Ya elah lu, lebay," ucap Ardi.
"Lebay, enggak gue enggak lebai," balas Haikal.
"Terus?" tanya Ardi.
"Jijay, aw!" jawab Haikal.
Ardi langsung bergidig ngeri setelah mendengar lelucon Haikal, yang meniru dirinya sendiri.
"Ya udah, gue pergi sekarang," ucap Haikal.
"Oke."
Waktu sudah menujukan pukul 04 sore, Haikal menunggu bis. Yang ternyata bis itu sudah ada di depan wajahnya.
__ADS_1
@@@@
Sedangkan di dalam rumah, Dinda sangatlah kuatir dengan keadaan Lina. Karna dia belum pulang juga.
"Kenapa hatiku tak karuan begini, Lina sebenarnya kamu ke mana sih." Ucap Dinda
Bulak balik ke sana ke mari. Menunggu sang adik pulang.
Sampai di mana suara pintu terdengar.
Tok ... tok ...
Dengan sigap Dinda langsung menghampiri pintu depan rumah, dia langsung membuka pintu depan rumah itu. berharap jika Lina sang Adik pulang. namun saat pintu Dinda buka, ternyata itu adalah Haikal.
"Mas Haikal, aku kira Lina. Mas Lina belum pulang juga, aku sangat kuatir dengan keadaanya," ucap Dinda pada Haikal.
" kamu harus tenang Dinda, Lina pasti baik-baik saja, dia sudah dewasa mungkin dia sedang mencari suasana tenang," balas Haikal tak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengan Lina.
"Aku berharap juga begitu, Mas. Hanya saja hatiku saat ini benar benar tak tenang, Seperti ada yang terjadi pada Lina adikku Mas," balas Dinda.
"Sudah, kamu jangan kuatir. Aku yakin Lina baik baik saja, sekarang kamu tenangi dulu hati kamu, buang rasa cemas mu itu," ucap Haikal.
Haikal langsung merangkul bahu Dinda, mencoba menenangkan semua keresahan pada hatinya.
"Maafkan aku Dinda, sudah berbohong padamu. Sebenarnya Lina di culik, dan sekarang Ardi tengah mencari keberadaan Lina." Gumam hati Haikal.
Haikal mencoba menenangkan Dinda membawa Dinda masuk ke dalam kamar, Haikal menyuruh Dinda untuk segera beristirahat dan melupakan semua rasa cemas dalam hati dan juga pikirannya.
"Kamu harus tenang. Jangan pikirkan apa apa lagi."
"Mas, aku ...."
Haikal langsung menempelkan Jari tangannya kearah bibir Dinda dan berkata," sekarang kamu istirahat. Aku akan buatkan makanan kesukaan kamu."
Haikal mulai berjalan, tapi Dinda mencoba menahan tangan Haikal dan berkata," mas biar aku saja. Aku takut kamu lelah habis pulang bekerja."
Haikal menampilkan sebuah senyuman di depan sang istri dan menjawab perkataan Dinda." kamu tenang aja. Aku enggak cape kok, aku kan suami kuat."
"Apa kamu yakin, mas?" tanya Dinda yang tak enak hati melihat suaminya yang berniat memasak.
Haikal mengusap pelan wajah Dinda dan berkata," tak usah kuatir. ya Sayang."
__ADS_1