Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 162 Pengakuan


__ADS_3

Mereka berdua saling menatap satu sama lain, tersenyum bahagia. Sampai di mana sala satu penjaga rumah sakit menepuk bahu Pak Anton.


"Permisi Pak, ini rumah sakit. Di larang berpelukan di depan umum," ucap sang penjaga rumah sakit.


Pak Anton mengabaikan ucapan sang satpam, membuat satpam itu berpura pura batuk.


"Ehem."


Bu Maya menyadari kedatangan satpam itu, membuat ia perlahan melepaskan tangannya dari pelukan erat Pak Anton.


"Jangan lepaskan tanganmu, Maya." ucap Pak Anton.


"Anton di belakangmu," bisik Maya.


Anton tetap saja memeluk sang istri, dengan pelukan yang begitu erat. Ia mengabaikan sang satpam yang terus menepuk bahu kirinya.


sedangkan Maya berusaha keras melepaskan tangan Anton yang terus memeluk badannya. hanya saja Anton tetap saja memeluk erat tubuh istrinya itu.


"Anton, di belakangmu ada satpam," ucap Maya.


setelah mendengar kata satpam dari Maya, saat itulah Anton perlahan melepaskan tangannya yang masih memeluk sang istri.


lelaki tua itu kini membalikkan badan menatap ke arah Pak satpam," Selamat siang pak."


satpam itu tersenyum Seraya memperlihatkan keramahannya terhadap Pak Anton yang memberi salam kepada dirinya," Selamat siang juga pak."


Pak Anton kini bertanya kepada satpam itu dengan wajah yang sedikit terlihat malu," Ada apa ya Papa datang ke sini?"


" Kebetulan saya datang ke sini hanya ingin memberitahu Bapak dan juga Ibu, sebaiknya Bapak dan Ibu berpelukannya di rumah saja ya, di sini rumah sakit jadi kurang baik Kalau bapak dan ibu memperlihatkan kemesraan kalian berdua di sini!"


Pak Anton menggaruk belakang kepalanya yang tak terasa gatal, "Maaf kan saya dan istri saya pak."


Kini Pak Anton mengajak Maya untuk pergi dari hadapan satpam itu," tunggu pak, bu."


Ucapan satpam itu membuat Pak Anton bertanya," ada apa lagi pak?"


" Sandal anda ketinggalan, pak!"

__ADS_1


jawaban Pak satpam membuat Pak Anton langsung melirik ke arah kedua kakinya, entah Sejak kapan lelaki tua itu melepaskan kedua sendalnya. Maya yang melihat ke arah kaki sang suami kini menepuk PE lan perut suaminya itu," Anton Kenapa kamu sampai tidak pakai sendal seperti itu, apa jangan-jangan tadi saat kamu meluk aku kamu lepaskan Ya sandal kamu itu?" tanya pelan Maya.


Anton tersenyum kecil di hadapan sang istri, saking senangnya iya sampai mencopot kedua sandalnya itu, apalagi saat memeluk sang istri.


"Kebiasaan aneh kamu itu terulang kembali, bikin malu saja," gerutu Maya.


Anton langsung mengambil sandalnya, Di tangan Satpam yang terlihat gagah itu. dia mengucapkan kata terima kasih pada satpam sudah memberitahunya akan sandal yang hampir saja ketinggalan.


Maya yang sudah mengetahui kejujuran sang suami kepada dirinya, kini memberanikan diri memegang tangan sang suami dengan begituan erat.


pegangan tangan Maya tentulah membuat Anton sangat terkejut, seakan ada aliran listrik yang menyetrumi tubuhnya saat itu.


Anton melirik ke arah sang istri tersenyum lebar, iya langsung memegang tangan istrinya itu dengan begitu erat pula.


saat mereka berjalan ke arah mobil, saat itulah panggilan telepon terus saja bergetar, terasa pada saku celanan lelaki tua itu.


Untung saja ponsel Pak Anton hanya bergetar, jika berbunyi mungkin Maya akan bertanya siapa yang menelepon dari tadi.


Pak Anton yang penasaran merogok saku celananya untuk mengambil ponselnya, memperlihatkan sedikit layar ponselnya itu.


ternyata yang terus menelepon dari tadi adalah Sisil.


kini Pak Anton dan juga Bu Maya bergegas untuk segera pulang ke rumah.


tidak butuh beberapa waktu yang lama untuk pulang ke rumah, mereka akhirnya sampai di rumah.


Pak Anton yang sudah tak sabar ingin segera mandi, terburu-buru keluar dari mobil untuk segera masuk ke rumah.


Pak Anton membuka pintu hingga ia tak sadar meletakkan ponselnya begitu saja. Maya yang baru saja turun menggerutu kesal saat masuk ke dalam rumah.


" Kebiasaan kalau pulang ke rumah, suka buka baju di mana saja. dasar laki-laki."


Bu Maya yang berjalan ke dalam rumah, perlahan mengambil setiap helai baju yang berantakan di dalam rumah karena ulah suaminya sendiri.


" ke mana coba pelayan di rumah. tidak ada satupun pelayan rumah yang membuka pintu saat majikannya datang, mereka harus aku kasih pelajaran."


saat Bu Maya berjalan ke arah pintu kamar, saat itu juga ia melihat ponsel suaminya yang terus bergetar.

__ADS_1


"Ponsel Anton."


ponsel itu terus saja bergetar membuat Maya penasaran. Siapa yang terus menelepon pada ponsel suaminya.


Maya mulai meraih ponsel suaminya, yang berada di atas meja. kedua matanya membulat saat dirinya melihat panggilan telepon bertuliskan pada layar itu.


"Sisil."


" mau apa lagi dia menelepon suamiku?"


Maya melihat ke arah kamarnya, ia berharap jika Anton masih berada di kamar mandi. agar dirinya bisa mengangkat panggilan telepon dari Sisil.


saat itulah jari tangan Maya mulai mengetik layar panggilan dari Sisil," halo sayang, akhirnya kamu mengangkat panggilan teleponku juga. sedang kamu sedang apa sih?"


Maya tersenyum, saat mendengar suara Sisil dari sambungan telepon suaminya.


"Halo sayang, kenapa kamu diam aja. Aku kangen banget sama kamu, Sudah beberapa hari ini kita tidak pernah ketemu. Apa kamu sudah lupa padaku? sayang aku sekarang berada di rumah sakit, kamu ke sini ya cepat. aku butuh saat ini juga."


Maya tersenyum kecil Seraya menutup mulutnya dengan telapak tangan, ia berencana mengerjai Sisil. walau sebenarnya dirinya tak yakin jika Rencananya akan berhasil.


akan tetapi dia mulai mencoba," halo sayang. Kenapa kamu enggak jawab juga. Ada apa sih dengan kamu ?"


Maya mulai mematikan ponsel suaminya yang masih terhubung dengan panggilan telepon Sisil, saat itulah rencananya dimulai.


Maya mulai mengirim beberapa pesan kepada Sisil.


setelah Maya berhasil mengetik pesan yang akan Ia kirim kepada Sisil, saat itu juga Maya tersenyum kecil dan berucap pelan sembari Menatap layar ponselnya," Mampus kamu Sisil."


hanya dengan satu klik saja, pesan pun terkirim. Maya seakan senang dengan apa yang ia lakukan, dengan terburu-buru Maya langsung menghapus pesan yang ia kirim terhadap Sisil.


"Beres, tingal menunggu besok pagi."


Tring ....


Sisil membalas pesan dari Maya, yang di mana Sisil menganggap bahwa yang mengirim pesan itu adalah Pak Anton.


(Oke sayang.)

__ADS_1


setelah melihat balasan dari Sisil, Maya serasa ingin tertawa terbahak-bahak, ya berhasil membuat satu jebakan untuk gadis yang sudah pernah ia percayai dulu.


__ADS_2