Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 40


__ADS_3

"Memangnya kalau hati aku terbuat dari batu, kamu mau apa?" tanya Lina pada Ardi.


"Aku mau meng hancurkannya dengan palu!" jawab Ardi. Tertawa terbahak bahak.


Lina merasa ucapan Ardi tak membuatnya tertawa, malah membuatnya kesal.


"Sudah tetawanya."


Ardi mengusap pelan kepalanya dan berkata," dedek cantik. Kenapa sih jutek amat."


Lina dengan sepontan menyingkirkan tangan Ardi yang memegang kepalanya," jangan sekali kali lagi kamu berani menyentuh kepalaku."


Ardi mengerutkan dahi dan berkata," oke."


Lina masih terteguh heran, entah Ardi mau membawanya ke mana. Karna perjalanan yang ia rasakan begitu jauh.


"Sebenarnya kita mau ke mana?" tanya Lina.


"Sebentar lagi sampai!" jawab Ardi.


@@@@@


Sedangkan di dalam rumah, Haikal masih menemani sang istri yang tengah beristirahat, ia hampir lupa dengan Ardi.


"Aku lupa, jika di rumah ini ada Ardi."


Kini Haikal, mulai berjalan mencari keberadaan Ardi. Yang ternyata tak ada di rumah.


Dreet ....


Suara ponsel terdengar bergetar, yang ternyata itu adalah Ardi.


Ardi mengirimkan sebuah pesan, yang bertuliskan.


( Aku bawa dulu adikmu.)


"Ternyata mereka berdua ke luar. Ya sudah lah, lumayan biar Lina dan Ardi bisa dekat." Ucap Haikal. Rasa kuatirnya mulai hilang.


@@@@@


"Kenapa kamu senyam senyum begitu?" tanya cetus Lina pada Ardi.


"Oh ya, aku tadi habis mengirim pesan untuk kakak kamu!" jawab Ardi. menatap sekilas ke arah Lina.


seketika kedua mata Lina membulat, kaget dengan jawaban yang terlontar oleh Ardi.


"Kamu mengirim pesan apa kepada kak Haikal, awas saja jika kamu mengirim pesan yang aneh aneh," cetus Lina.


Ardi mencubit pipi Lina, membuat Lina memukul bahu Ardi.


"Adik manis, aku mengirim pesan pada kakakmu. Kalau aku mau mengajak kamu jalan jalan. Jadi jangan kuatir."


Lina melipatkan kedua tangannya kesal dengan lelaki yang berada di sampingnya.


"Kenapa juga ada laki laki semacam dia."


Ardi tesenyum tipis," aku harus bisa menguak semua yang tengah di rencanakan Lina. Untuk Haikal."


Setengah perjalanan, akhirnya sampai juga di tempat tujuan. Ardi menghentikan mobilnya. Dengan sigap ia mulai turun dari dalam mobil.


Membuka pintu mobil, Lina keluar. Dari dalam mobil, ia pertama kali melihat pemandangan yang belum pernah ia lihat. Kedua mata Lina berkaca kaca.

__ADS_1


"Kamu terkejut," ucap Ardi. Melihat ke arah wajah Lina.


"Kamu suka?" tanya Ardi.


Lina masih tetap saja diam, melihat suasana di depan mata.


"Indah."


"Kamu bilang apa?" tanya Ardi. Pada Lina.


"Tidak, aku tidak bilang apa-apa!" jawab Lina berbohong. Dirinya seakan gengsi dengan apa yang di ucapkannya.


"Sudahlah bilang saja, jangan gengsi." sindir Ardi.


"Sudahlah aku mau pulang," ucap Lina. Sebenarnya hatinya ingin sekali menikmati pemandangan yang di perlihatkan Ardi.


"Kamu tidak mau menikmati suasana ini, apa kamu tidak akan menyesal," balas Ardi.


Hati Lina benar benar ragu, antara ingin dan malu.


"Hem."


"Sudah aku mau pulang, buang buang waktu. Hanya melihat pemandangan jelek seperti ini."


"Baiklah."


Lina mulai masuk kembali ke dalam mobil, ia membayangkan jika orang yang membawanya ke tempat indah itu adalah Haikal. Mungkin dia akan betah dan menikmati pemandangan.


"Kenapa kamu melamun, apa kamu tengah memikirkan Haikal?" tanya Ardi.


Deg .....


"Hah, aku hanya bercanda. Kamu terlihat begitu kesal. Sudahlah jujur saja. " tekan Ardi.


"Cepat turunkan aku dari sini," ucap Lina.


"Turunkan, oke aku akan menurunkan kamu di sini. Jika kamu bisa pulang sendiri," balas Ardi. Menghentikan mobilnya secara mendadak.


Lina yang mendengar ucapan Ardi seperti itu, membuat dirinya seakan takut jika ia tidak bisa menemukan jalan pulang.


"Kenapa kamu diam saja Lina, cepat turun." Ucap Ardi sedikit bernada tinggi.


Lina mulai membuka pintu mobil, ia seakan takut.


"Ayo turun. kenapa kamu takut," tegas Ardi.


"Sudahlah, lupakan aku mau pulang," ucap Lina. Merasakan rasa malu.


Kedua pipi Lina memerah, ia malu dengan keinginan nya untuk turun dari dalam mobil.


Saat itulah Ardi turun dari dalam mobil, membuka pintu mobil.


"Ayo turun."


"Lupakan ucapanku tadi, aku mau pulang."


Ardi tertawa terbahak bahak, melihat wajah Lina yang ketakutan. Membuat Lina berdiri. " Kamu malah tertawa."


"Ya ampun Lina, ekspresi mukamu itu lucu."


Lina merasa sangatlah kesal, dirinya seakan dipermainkan oleh Ardi yang terus menekannya untuk berkata jujur tentang apa yang iya rahasiakan.

__ADS_1


Ardi dengan terburu buru, masuk lagi ke dalam mobil.


"Ardi, apa sebenarnya tujuan kamu."


"Aku hanya ingin menyadarkan kamu dari perbuatanmu yang tidak baik."


"Perbuatan, apa maksud kamu."


"Kamu masih belum mengaku juga, Lina. Sudahlah dari tadi aku tanya kamu malah berbelat belit."


"Cukup, aku sudah bilang dari tadi kamu jangan ikut campur urusanku."


"Baiklah kalau kamu tidak mau mengaku, aku ...."


Ardi mulai mendekat ke arah badan Lina, membuat Lina ketakutan." Apa yang mau kamu lakukan kepadaku."


"Menurutmu."


Senyum terpancar, begitu sinis. Membuat Lina semakin ketakutan.


Ia langsung menyingkirkan tubuh Ardi.


"Ayolah, kamu akan menikmatinya."


Lina merogok saku celananya, ia membawa sebuah pisau kecil.


"Jangan macam macam kamu, aku bisa saja menusuk dadamu."


"Waw, ternyata adik manis ini. Begitu hebat membawa pisau kecil untuk melawan."


"Sudah cukup Ardi, jangan main main denganku."


Ardi mulai menjauhi Lina, ia dengan pelan pelan mulai menyingkir dari badan Lina. Mengendarai mobil, Lina masih saja memegang pisau, untuk berjaga jaga. Jika sewaktu waktu Ardi melakukan hal tak pantas kepadanya.


"Ternyata wanita ini lebih licik dari pada apa yang aku bayangkan, dia membawa pisau untuk menjaga dirinya. Aku harus berhati hati jika tidak aku yang akan terluka," gumam hati Ardi.


"Bisa tidak kamu membawa mobil lebih cepat sedikit," bentak Lina.


"Baiklah," ucap Ardi.


Menjalankan mobil dengan begitu cepat.


"Heh, Ardi. Aku tidak suka dengan kamu yang terus menekanku, jika kamu menekanku. Kamu akan tahu akibatnya nanti."


" Oke. Lina cantik."


Ardi masih bisa bercanda dalam ke adaan Lina yang masih marah dengan memegang pisau menyodorkan ke leher Ardi.


"Aku tidak akan segan segan, memotong leher kamu ini, Ardi."


"Wow, aku tak menyangka jika kamu senekad ini. Hanya karna cinta."


"Diam, kamu Ardi. Yang merasakan itu aku, kamu hanya bisa menilai dari sisi keburukanku saja."


"Aku tidak menilai, hanya saja yang kamu lakukan salah. Mencintai lelaki yang menjadi suami dari kakakmu. Apa kamu tidak berpikir kedepannya, kamu akan menjadi wanita jahat."


"Itu bukan urusanmu, yang terpenting aku bahagia. Kamu tak usah kuatir tentang kakakku pelan pelan aku bisa menyingkirkan dia dari bumi ini."


"Lina kamu kejam."


"Aku punya alasan dari semua itu."

__ADS_1


__ADS_2