
" Jadi kamu yang sudah, membuat masalah. mengeluarkan kami dari pekerjaan kami ini," cetus kedua pelayan itu pada Sisil.
"Ya, benar sekali. Aku yang sudah membuat kalian di pecat," balas Sisil.
mereka berdua seakan tak menerima dengan apa yang dilakukan Sisil.
"Kurang ajar sekali kamu." ucap salah satu pelayan itu menunjuk wajah Sisil.
Sisil hanya tersenyum kecil dan menjawab," makanya jangan suka gosipin kehidupan orang lain. Jadinya kan begini, terima nasib sendiri."
Kedua pelayan itu seakan tak bisa menahan amarah, mereka langsung menghampiri Sisil. Dan mulai mengacak rambut Sisil, untung saja Sisil langsung terselamatkan oleh satpam yang berjaga di mall itu.
"Kalian jangan asal cambak rambut orang, sebaiknya kalian cepat pergi." Tegas satpam itu kepada mereka berdua.
kedua gadis yang sudah tidak bekerja lagi di mall itu, kini menaruh dendam kepada Sisil. mereka tak menerima perlakuan Sisil, suatu saat nanti mereka akan membalaskan dendam mereka kepada Sisil.
" awas aja kamu wanita matre. Tunggu pembalasan kami berdua, sekarang kamu bisa bersenang-senang, tapi suatu saat nanti kamu akan tahu akibatnya. karena sudah membuat kami menderita seperti sekarang." Gerutu hati mereka berdua.
Sisil melihat dari kejauhan, kepergian mereka berdua. Melambaikan tangan mengucapkan perpisahan terakhir.
"Itulah pelajaran yang pantas untuk mereka berdua."
Kini Sisil melanjutkan belanjaanya yang sempat tertunda, dirinya terus memilih milih baju dengan harga fantastik.
"Bagaimana sudah selesai?" tanya lelaki tua yang menjadi Ayah Ardi.
"Sudah, sayang!" jawab Sisil. Tersenyum senang.
" setelah ini kamu mau kemana, saya akan antarkan kamu sampai kamu puas membeli keinginan kamu," ucap lelaki tua itu.
"Yang benar sayang?" tanya Sisil. seakan tak percaya dengan tawaran lelaki tua yang bersama dirinya.
"Ya donk, apa pun yang kamu inginkan akan aku kabulkan. asalkan kamu mau menuruti apa kemauan ku," ucap lelaki tua itu.
Sisil menyetujui apa yang dikatakan lelaki tua itu, tanpa Ia berpikir panjang. yang terpenting dirinya bisa membeli sesuatu yang ia inginkan.
saat itulah Sisil mulai meminta perhiasan kepada lelaki tua yang menjadi pacarnya, tentu saja lelaki tua itu mau menuruti keinginannya. Bagi Ayahanda Ardi membeli barang barang seperti itu hanya hal kecil yang mudah.
__ADS_1
Karna harta kekayaannya yang berlipat ganda dan tak terhitung. kini mereka mulai melanjutkan perjalanan menuju toko perhiasan yang disukai Sisil.
@@@@@@
Sedangkan di dalam mobil, ibunda Ardi sangat menghawatirkan Sisil yang di tinggalkan dirinya sendirian. dirinya merasa kesal kepada sang anak yang sudah menarik paksa tangannya untuk pulang bersama.
wanita tua itu menatap ke arah jendela kaca mobil, membuat Ardi yang tengah fokus mengendarai mobil menyadari ibunya sendiri sedang melamun.
"Ibu kenapa?" tanya Ardi yang tengah mengendarai mobil.
Sang ibunda hanya menjawab dengan nada kesal," pikirkan aja sendiri."
Lina yang mendengar jawaban ibunda Ardi hanya bisa diam dan menatap sekilas ke arah Ardi dan ibunya.
"Kenapa sih mereka itu seperti bukan keluarga, bertengkar terus tiap hari." Gerutu hati Lina.
Saat ibunda Ardi menatap ke arah jalanan, wanita tua itu seperti melihat sosok wanita yang ia kenali. membuat ibunda Ardi langsung menepuk bahu anaknya untuk segera menghentikan mobil.
"Ardi cepat berhenti dulu sebentar," ucap sang ibu yang begitu rusuh menyuruh anaknya.
"Apa sih bu, tanggung," balas Ardi.
"Ahk, sakit bu. Ibu ini apa apaan sih, dasar nenek tua," balas Ardi.
Lina yang melihat perdebatan mereka tak kunjung usai, langsung berteriak." Diam."
Anak dan ibu itu langsung diam tanpa berkata. Mereka saling memalingkan wajah satu sama lain.
saat itulah Ardi langsung menghentikan mobilnya, membuat ibunya sendiri turun dari mobil. tanpa berucap satu patah kata pun.
" Dasar nenek tua itu, mau ke mana coba dia." Gerutu Ardi.
Lina mengusap pelan bahu Ardi dan berkata," bisa tidak kamu lebih mengalah pada ibumu sendiri, kasihan dia."
Ucapan Lina mambuat Ardi tersenyum dan menatap ke arah Lina. Tangan kanannya mengusap pelan rambut kepala Lina dan berkata," ya aku akan berusaha sayang."
Lina mulai menyuruh Ardi untuk turun dari mobilnya, menghampiri sang Ibunda yang takut terjadi apa-apa. awalnya Ardi menolak, karena ia malas menemui ibunya sendiri.
__ADS_1
Akan tetapi Lina terus memaksa, ia tak mau jika ibunda Ardi kenapa napa.
"Cepat kamu temui ibumu." Paksa Lina.
dengan rasa malas saat itulah Ardi mulai turun dan menemui ibunya, yang di mana ibunya Tengah mengobrol dengan pedagang gorengan.
entah Sejak kapan ibunya Ardi mengobrol dengan pedagang yang biasanya ia tak suka, membuat Ardi semakin penasaran dan mendekat ke arah ibunya sendiri.
" Tia, apa itu kamu?" tanya sang ibunda Ardi. Seakan mengenal wanita itu.
Tia berpura-pura tak mengenal sahabatnya itu, dia menutup wajahnya berusaha untuk menghindar dari hadapan sahabatnya yang mengenal dirinya.
"Tia ini aku, sahabat kecil kamu. Apa kamu lupa kepadaku?" tanya ibunda Ardi.
"Maafya saya tak mengenal kamu!" jawab wanita penjual gorengan itu.
"Tia kenapa kamu malah menyebunyikan wajah kamu, aku kangen dengan kamu. Apa kamu tidak mau mengenalku lagi."
Ucapan ibunda Ardi membuat, wanita penjual gorengan itu berusaha untuk pergi dari hadapanya.
"Maaf saya mau keliling, sepertinya anda salah orang." Ucap wanita penjual gorengan itu.
wanita penjual gorengan itu langsung terburu-buru pergi dari hadapan ibunda Ardi, wanita itu tak mau jika dirinya diketahui menjadi tukang gorengan oleh ibunda Ardi.
"Tia kamu mau ke mana?"
ibunda Ardi langsung menahan tangan wanita penjual gorengan itu," kamu mau ke mana, Tia."
" Maaf saya mau jualan lagi, anda jangan mencoba menahan tangan saya," balas Tia.
"Tia, Kamu jangan pergi dulu. Aku ingin berbicara dengan kamu, Aku ingin tahu kenapa kamu menjadi seorang penjual gorengan ke mana suami kamu. Bukannya kamu itu pengusaha," balas Ibunda Ardi.
saat itulah penjual gorengan itu langsung menghempaskan tangan ibunda Ardi, ia dengan terburu-buru pergi, meninggalkan ibunda Ardi yang masih terus menanyakan tentang keadaannya yang tiba-tiba saja menjadi wanita penjual gorengan di pinggir jalan.
"Tia."
ibunda Ardi mencoba mengejar wanita penjual gorengan itu, dia sangatlah penasaran dengan sosok wanita penjual gorengan itu. begitu sama dengan wajah sahabatnya yang di mana. Iya mendengar bahwa sahabatnya itu sudah meninggal dunia.
__ADS_1
"Tia, tunggu. Pasti itu kamu Tia."
wanita penjual gorengan itu berlari pergi meninggalkan ibunda Ardi, yang terus berteriak-teriak memanggil namanya. Sedangkan Ardi langsung menahan sang Ibu agar tidak mengejar wanita itu lagi.