
Lina menutup mulutnya dengan lima jari tangan," Uup salah ya?"
Haikal berusaha menahan amarah, apa yang di lakukan Lina tidak sopan membuat sang paman ingin berbicara empat mata dengan Haikal.
"Haikal, amang hanya ngomong jeung maneh duana."
(Haikal, paman ingin berbicara denganmu berdua)
Haikal menganggukkan kepala, ia melangkah mengikuti langkah sang paman untuk ke luar rumah.
Kedua lelaki itu kini duduk di sebuah kursi kaya depan rumah.
"Jang Haikal, ari maneh aya hubungan jeung adina Alamruh pamajikan maneh?"
(Haikal, kamu ada hungan sama adiknya almarhum istrikamu?)
Haikal tentulah menjawab," hente amang!" ( Tidak paman)
"Terus enta kunaond adikna si Dinda nyebut ngaran ka maneh. kudunamah sopan nyebut Aa, jigah Si Nining ka maneh."
(Terus kenapa adiknya Dinda bilang nama kamu, harusnya sopan, menyebut sebagai Kakak, seperti Nining pada kamu.)
Tentulah Haikal tak mengerti apa yang di katakan Lina pada dirinya, biasanya Lina itu selalu menyebut kakak pada Haikal, tapi saat tadi? Semua pikiran melayang layang pada kepala Haikal, membuat ia pusing.
"Haikal, amang mere beja ka maneh. Tong deket teuing jeung awewe eta, katempona te sarua jeung lanceukna. Mun maneh nekad deket jeung awewe eta amang bakal moal ngaku maneh keluarga deui."
(Haikal, paman ngasih tahu sama kamu. Jangan terlalu dekat sama wanita itu, kelihatnya dia tidak sama dengan kakaknya, Kalau kamu nekad dekat dengan wanita itu, paman tidak akan menganggap kamu keluarga lagi.)
Deg ....
Ucapan sang paman membuat Haikal terdiam seribu bahasa, dari tadi ia tak menjawab pertanyaan sang paman, karna takut salah.
Sang paman menepuk bahu Haikal dan berkata," enya engges, gera sare ges peting. Istirahat di imah almarhum emak maneh. Ken bae awewe etamah di baturan ku si Nining."
( Ya sudah, cepat tidur sudah malam, Istirahat di rumah Almarhum ibu kamu, biarkan wanita itu, tidur ditemanin si Nining.)
"Muhun, amang. Abi bade uwih ayena."
(Iya, paman. Saya mau pulang sekarang.)
Haikal tidak berpamitan kepada Lina, karna sang paman yang terus menyuruhnya untuk pulang. Karna ia tahu di desa beda dengan di kota. Takut jika ada ke salahpahaman.
Apalagi Haikal, membawa wanita malam malam ke kampung. Sang paman takut jika nanti Haikal di cap tidak baik oleh orang orang di kampung.
__ADS_1
@@@@@
Kini sang paman masuk ke dalam kamar anaknya.
"Ning, maneh baturan awewe eta di kamar ie. Mak jeung bapak aya piomongen."
(Ning. kamu temani wanita itu di kamar ini, ibu sama bapak ada yang harus dibicarakan.)
"Muhun, pak."
(Iya, pak.)
Lelaki paruh baya, kini meninggalkan Nining dan juga Lina. Ia mencari sang istri tengah berada di dalam kamar memasukkan pakaian yang sudah ia rapihkan ke dalam lemari.
"Kunaond atuh pak?"
(Kenapa, pak?)
Lelaki tua yang menjadi paman Haikal kini duduk di ranjang tempat tidur, melepaskan peci dan menaruhnya pada laci kayu.
Menghebuskan nafas secara kasar," eta si Haikal, mamawa awewe, dandananna te puguh rupa. Baju te angges dipapake meni te mantes."
( Itu si Haikal, bawa wanita. Dandanya enggak jelas. Baju belum beres sudah di pakai.)
Wanita tua, menghampiri sang suami. Mengelus bahu yang sudah tak terlihat kekar seperti dulu.
(Enggak papa pak, namanya juga anak kota. Pastinya dandananya kaya betigitu. Kan bapak tahu sendiri, itu wanita adiknya almarhum Dinda.)
"Ya bapak ge nyaho, kumaha engke, lamun orang orang desa loba nanya ka bapak kumaha? Bapak kan era. Ibu ge nyaho sorangan orang orang desa lamun nempo dandana seksi. Pastina barakal te resep jiga bapak."
(Ya bapak juga tahu, gimana nanti. Kalau orang orang desa pada tanya ke bapak gimana? Bapak kan malu. Ibu tahu sendiri orang orang desa kalau liat dandanan seksi. Pastinya enggak bakal ada yang enggak suka kaya bapak.)
Wanita tua itu langsung menenangkan suaminya, agar tidak larut dalam pikiran tentang orang orang di desa nanti, jika melihat Lina, wanita yang di bawa Haikal ke rumah sang paman.
"Ges, tong di pikiran wae pak. Ke we masalah dandanamah ibu nungatur, loba baju si Nining iyeh nu pasti bakal mejena diawak awewe eta."
( Udah jangan di pikirin terus, biar masalah dandana Ibu yang ngatur, banyak baju punya Nining . Pasti bakal cukup di wanita itu.)
"Ya engges bu, bapak rek sare. Cape."
(Ya sudah, bu. Bapak mau tidur cape.)
Lelaki tua itu, kini membaringkan badan pada kasur untuk segera tidur, rasa lelah membuat sang paman langsung tertidur dengan nyenyak.
__ADS_1
@@@@@
"Nama kamu siapa?"
Lina bertanya, pada Nining yang terbaring di samping dekatnya.
"Nama, nama saya teh Nining!" jawab Nining, dengan bahasa logatnya yang masih terkesan sunda.
"Oh, Ning. Tadi bapak kamu ngomong apa?" tanya Lina penasaran.
"Bapak? Oh tadi teh bapak ngomong suruh saya tidur sama teteh di sini!" jawab Nining.
"Oh ya, saya boleh tanya sama kamu enggak?"
Saat Lina mulai bertanya kembali, kedua mata Nining seakan tak tahan, merasakan rasa kantuk yang luar biasa.
"Ning."
Hingga terdengar suara mendengkur Nining di samping Lina.
"Ya elah Ni anak sudah tidur ternyata."
Lina yang belum merasakan rasa kantuk, hanya bisa menatap ke arah jendela yang tertutup gordeng, ia penasaran seperti apa pemandangan di desa, jika di lihat tengah malam.
Berjalan dengan pelan pelan, Lina membuka jendela kamar, melihat suasana malam yang terasa begitu jauh berbeda dari suasana di Kota.
Bintang bekalap kelip, memperlihatkan wajah Haikal, halusinasi yang di buat Lina membuat bibir gadis bermambut pendek tersenyum merekah.
Tangan mulusnya ia perlahan angkatkan, menyamakan langit yang ia banyangkan pada lagit malam itu penampakan wajah Haikal.
"Bagaimana tidak hatiku benar benar terpana akan ketampananmu kak Haikal."
Nining kini terbangun dari tidurnya karna merasa banyak nyamuk yang menghampirinya dari tadi.
"Ih. Ini teh kenapa banyak nyamuk."
Gadis berambut panjang ikal itu meraba ke arah samping, melihat jika Lina tidak ada di sampingnya.
"Ke mana si teteh Lina teh?"
Saat Nining terbangun, ia mencari keberadaan Lina. Yang di mana," eleh eleh, si teteh Lina teh ternyata ada di sana, tengah merenung. Malam malam gini, pantas aja ada nyamuk."
Nining turun dari ranjang tempat tidur yang selalu bersuara, karna ranjang itu terbuat dari kayu jati asli dari desa.
__ADS_1
Berjalan ke arah Lina, dimana wanita itu senyam senyum sendiri. Membuat Nining dengan jahilanya mengagetkan Lina.
Satu dua tiga.