Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 163


__ADS_3

"Yes berhasil, sepertinya sebentar lagi kamu akan kena jebakan Batman dariku, Sisil,"


ceklek ....


Pintu kamar terdengar di buka, dengan terburu-buru Maya langsung menghapus pesan dari Sisil. Ia kini meletakkan kembali ponsel sang suami yang berada di tempatnya.


Pak Anton keluar dengan mengusap-ngusap rambutnya yang basah dengan handuk kecil, ia melihat ke arah istrinya yang tiba-tiba tersenyum.


Pak Anton mendekat ke arah sang istri, lelaki tua itu sengaja mengaitkan handuknya pada leher sang istri.


"Anton, ada apa ini."


Anton menarik sang istri hingga masuk ke dalam kamar, Maya mengira jika Anton akan bertanya tentang apa yang sudah ia lakukan di depan pintu kamarnya. Namun ternyata Anton malah menarik Maya hingga membuat Maya sedikit ketakutan.


Pak Anton dengan terburu-buru Mengunci pintu kamarnya, sedangkan Maya hanya terdiam keluh. Melihat apa yang dilakukan sang suami kepada dirinya.


Maya kini melangkah mundur, saat Anton terus berjalan mendekat dan semakin mendekat ke arah tubuhnya. hingga di mana Maya langsung terduduk di ranjang tempat tidur Anton.


" kamu mau apa, Anton?" tanya Maya yang terlihat gugup saat Anton terus menghampiri dirinya, apalagi Anton terus menatap wajah Maya begitu dalam.


" bukannya hari ini kita harus merayakan acara kebahagiaan kita saat ini, Maya!" balas santun kepada istri tercintanya. tangan Anton tak segan-segan memegang pipi sang istri. mengusap lembut pipi yang sudah lama tak pernah tersentuh oleh dirinya.


" Apa maksud dari Perkataanmu itu," ucap Maya terlihat lugu saat Anton mulai menggodanya.


Anton mulai membisikan sebuah kata-kata pada telinga Maya, tentulah Maya kaget dengan apa yang dikatakan suaminya itu.


Anton mengangkat mengangkat kedua alisnya di hadapan Maya , dengan memperlihatkan Senyum genitnya.


sebenarnya Maya sedikit malu dan juga gugup, karena sudah lama sekali, membuat rasa canggung pada hati Maya.


" Sudahlah, Anton. Kita ini sudah ...."


belum perkataan Maya terlontar semuanya, Anton langsung menutup mulut Maya dengan jari tangannya. tangan kirinya mulai mencari tombol lampu.


" apa dengan cara mematikan lampu, Kamu sudah siap dengan segalanya."


"Ini tidak buruk juga, baiklah."


saat kedua sejoli itu mulai menyatukan cinta mereka kembali, saat itu juga satu teriakan membuat Anton terkejut.


"Ahk."


dengan sikap Anton langsung menyalakan lampu kamarnya lagi, dia melihat ke arah sang istri tercinta yang masih duduk di kasur dengan kain yang sudah terbuka.

__ADS_1


"Ada apa Maya? Kenapa kamu berteriak?"


pertanyaan Anton membuat Maya tersenyum kecil," Maaf Anton, aku sedikit gugup. Hingga aku sadar, ada sesuatu yang menyentuh bawah perutku."


ucapan Maya membuat Pak Anton menepuk jidatnya.


"Maya, Maya."


Kini Anton duduk di samping Maya, menggeleng-gelengkan kepala dan tertawa sembari menyandarkan kepalanya pada kedua p*ha istrinya.


lelaki tua itu menatap wajah istrinya yang masih terlihat ketakutan, tangannya kini mengcubit kedua pipi sang istri dengan berkata," kamu belum siap. Aku akan sabar menunggumu lagi."


"Jangan Anton, aku sudah siap. Hanya saja aku butuh pemanasan agar tidak kaget," ucap Maya tanpa ia sadari, tanganya langsung memukul mulutnya sendiri.


Anton kini kembali bangkit, dan memegang bahu Maya agar bisa berhadapan dengannya.


"Maya, apa benar yang kamu katakan itu."


"Sebenarnya."


"Sebenarnya apa?"


"Aku."


"Anton."


Lelaki tua itu menempelkan jari tangannya pada bibirnya sendiri, pada akhirnya Maya langsung mengerti apa yang di lakukan sang suami.


Hingga 50 puluh menit kemudia. Lampu kamar pun menyala. Maya melihat suaminya berkacak pingang dengan sedikit membungkuk. Membuat dia bertanya.


"Anton, kamu kenapa?"


Terlihat wajah Anton yang meringis kesakitan membuat Maya mengangkat alisnya. Perlahan Anton mendekat ke arah sang istri dan berkata." Pinggangku sakit. Maya."


Maya yang mendengar Anton berkata seperti itu langsung tertawa terbahak bahak.


"Hey, Maya kenapa kamu tertawa seperti itu?" tanya Anton.


"Habisnya baru segitu kamu udah kaya kakek kakek!" jawab Maya. Sembari melayangkan sebuah ejekan kepada Anton.


Anton secara perlahan, meregahkan tubuhnya untuk bisa berdiri tegak." Aduhhh."


semakin Anton berdiri tegak, semakin tawa Maya terdengar begitu keras.

__ADS_1


"Uhuk." seketika Maya batuk karena terus menertawakan suaminya itu, Maya berusaha menepuk pundaknya agar tidak batuk kembali.


"Hem, balasan untuk istri yang mentertawakan suami karna sakit pinggang."


Maya kini terdiam ia menatap ke arah Anton yang berkata seperti itu," apa balasan."


ucapan Anton sungguh membuat Maya semakin tertawa, hingga Maya tak sadar bahwa kedua matanya mengeluarkan air mata Karena terus saja tertawa.


Anton perlahan menatap ke arah sang istri, ia bergumam dalam hatinya," Maya. Aku sangat senang melihat kamu bisa tertawa begitu puas seperti itu, di hadapanku."


Anton kini berusaha duduk untuk bisa memperbaiki pinggangnya yang terasa sakit, saat itulah Anton menatap istrinya yang terus tertawa.


Maya Melambaikan tangannya ke arah wajah Anton, melihat Anton yang terdiam sembari senyum-senyum sendiri menatap wajah Maya.


"Anton, Anton."


tiba-tiba saja Anton tersadar akan lamunannya, Ya kembali bertanya kepada Maya?" ya kenapa."


Maya memajukan Bibir bawahnya, sedikit mengerutkan dahinya dan berkata kepada Anton," Kamu kenapa melamun terus dari tadi. aku mau mandi dulu."


Maya mulai beranjak turun dari ranjang tempat tidur, Ya sudah ingin membersihkan tubuhnya dengan air yang mengalir di kamar mandi.


namun saat langkahnya kini sedikit menjauh dari Anton, tiba-tiba saja Anton berbuat jahil kepada istrinya itu. Anton berusaha meraih selimut yang masih melingkar pada tubuh istrinya itu, hingga di mana tangan Anton gagal meraih selimut itu. hingga di mana ia tersungkur jatuh wajahnya mengenai lantai.


Bruk ....


Maya kini langsung membalikkan badannya ke arah belakang, kaget melihat suaminya sudah berada di atas lantai dengan wajah yang mencium lantai.


Dengan terburu buru, Maya menghampiri suaminya." Ya ampun, Anton kenapan kamu bisa jatuh ke atas lantai seperti ini. Bukanya kamu tadi baik baik saja?"


"Maya."


setelah Maya membantu suaminya untuk berdiri, ia kaget melihat bibir Anton yang bengkak.


"Ya ampun, Anton bibir kamu."


"Sakit Maya."


Maya langsung membantu suaminya untuk berdiri dan duduk di ranjang tempat tidur ," kamu jangan ke mana-mana dulu aku akan ambilkan obat."


di samping tempat duduknya Anton melihat kaca kecil, dia langsung mengambil kaca itu. melihat wajahnya pada cermin.


betapa kagetnya Anton melihat bibirnya yang merah bengkak pada cermin yang tengah ia pegang, yang meraba bibirnya yang bengkak itu dengan telapak tangannya sambil berkata," pantas saja sakit. Ternyata bibirku bengkak seperti ini."

__ADS_1


Pak Anton begitu menyesal karena ia sudah berniat ingin menjahili istrinya sendiri, akibat ulahnya itu. Pak Anton harus menanggung akibatnya sendiri.


__ADS_2