
Pada akhirnya Sisil mengalah, setelah sang ibu tak membelanya, ia hanya bisa duduk di ranjang tempat tidur memikirkan cara untuk bisa ke luar dari rumah sakit dan bertemu dengan Pak Anton.
Para suster terus mengecek keadaan Sisil, yang di mana Sisil sangat bosan dan malas jika melihat suster melihat dirinya.
"Hah, aku harus berusaha ke luar dari rumah sakit ini."
Tiba tiba sang ibu datang kembali menemui anaknya di dalam ruangan, yang di mana Sisil sedang mengerutu kesal.
"Sisil, bapak ini mau bertemu dengan kamu."
Kedua mata Sisil membulat, betapa kagetnya ia melihat sosok seorang lelaki yang begitu tampan tersenyum kepada dirinya.
"Sisil, ini Ridwan. Dia mau meminta maaf karna sudah menabrak kamu," ucap Bu Ita.
Sisil masih diam membisu setelah melihat lelaki yang menabraknya begitu tampan, "Sisil."
"Iya bu, Sisil sudah maafkan dia kok bu."
Sang ibu tersenyum setelah mendengar tutur kata yang terlontar dari mulut anaknya. Ia sangat senang dengan anaknya yang begitu baik langsung memafkan orang yang sudah menabraknya.
"Terima kasih, kamu sudah mau memaafkanku."
Sisil menganggukan kepala, untung saja saat Bu Ita di usir oleh Sisil ke luar, ia tidak langsung pergi malah bertemu dengan orang yang mau bertanggung jawab karna sudah menabrak istrinya.
"Oh, ya. Bu. Saya mau pulang dulu, biaya rumah sakit sudah saya urus."
"Terima kasih ya. Nak."
"Ibu tak usah berterima kasih dengan saya. Semua sudah menjadi tanggung jawab saya,"
Sisil masih melogo dengan ketampanan lelaki itu, membuat sang ibu membunyarkan lamunan anaknya.
"Jangan melamun kaya gitu, enggak baik."
Sisil menatap tajam ke arah sang ibu, ia kesal karna ibunya sendiri tak bisa membantunya saat ini.
Sang ibu kini duduk, sedangkan Sisil yang melihat ibunya mulai duduk kini berucap.
"Ngapain ibu duduk di sini?"
"Loh, ibukan mau nungguin kamu nak!"
__ADS_1
"Enggak usah, aku enggak suka di tungui ibu. Sebaiknya ibu duduk aja di luar ruanganku."
"Tapi Sil."
"Ibu dengar tidak perkataanku."
"Ya sudah, ibu akan nunggu kamu di luar."
"Nah, gitu donk."
Sang ibu kini keluar dari ruangan anaknya, hatinya berusaha tegar dengan apa yang di lakukan anaknya sendiri.
Sang ibu yang sudah pergi dari ruangan, membuat Sisil langsung menjalankan aksinya. Dimana ia akan kabur dari rumah sakit itu untuk segera menemui Pak Anton.
Seorang pelayan rumah sakit kini datang mengantarkan makanan kepada Sisil, membuat Sisil dengan tiba tiba dari arah belakang membekam pelayan itu dengan sarung tangan.
Pelayan itu kini pingsan, Sisil mulai memakai baju pelayan itu, membuat sang ibu curiga dan menghampiri anaknya.
"Sisil."
Sisil yang tengah memakai baju pelayan mengerutu kesal dengan teriakan ibunya.
Ceklek.
"Sisil, apa yang sudah kamu lakukan nak?" Pertanyaan sang ibu membuat Sisil menempelkan jari tangan pada bibir.
Wanita tua itu kini mengecek keadaan pelayan yang pingsan oleh kelakuan anaknya sendiri." Sisil kamu buat pelayan ini pingsan," bentak sang ibu.
Sisil tak memperdulikan perkataan ibunya, dirinya tetap fokus memakai baju yang baru saja ia lepaskan dari tubuh pelayan pengantar makanan itu
" sudahlah Bu, ini urusanku jangan suka ikut campur."
perkataan yang terlantar dari mulut anaknya itu, membuat Ita dengan lantang dan berani Ingin secepatnya memberitahu para suster dan juga penjaga rumah sakit.
akan tetapi Sisil berusaha menahan ibunya itu, ia tak segan segan melayangkan satu pukulan pada kepala sang ibu yang membuat wanita tua itupun terkulai lemah di atas lantai.
Waktunya Sisil menyusun posisi tidur ibunya dan juga pelayan rumah sakit.
Dengan sekuat tenaga, Sisil menggotong sendiri tubuh pelayan itu untuk di tidurkan di ranjang tempat tidurnya. Akan tetapi tubuh pelayan itu begitu berat, membuat Sisil kewalahan dan dirinya terjatuh beberapa kali.
Tok ... Tok.
__ADS_1
Ketukan pintu membuat Sisil tentulah gugup. Padahal dirinya belum berhasil menyusun ibu dan pelayan itu.
"Siapa coba yang mengetuk pintu."
Biasanya suster langsung masuk saja, tapi orang ini malah mengetuk pintu ruangan Sisil.
"Permisi Nona, saya butuh data anda untuk mengurus biaya rumah sakit."
Pantas saja orang itu mengetuk pintu yang ternyata dia adalah Ridwan, orang yang sudah menabrak Sisil tak sengaja.
Saat itu juga Sisil mulai menjawab dengan berteriak," Maaf kak Ridwan, nanti ibu saya samperin kakak. Sekarang ibu saya sedang menganti pakain saya."
Entah alasan yang masuk akal atau tidak, yang terpenting Sisil sudah untuk mengusir lelaki itu.
"Ya, sudah saya tunggu di ruang adminitasi ya."
"Baik Kak Ridwan. Nanti ibu saya ke sana."
Hening, tak ada jawaban sama sekali. Sisil mulai berjalan perlahan, ia tak meneruskan aksinya untuk menaruh pelayan itu dari tempat tidurnya.
dirinya malah membiarkan pelayan itu tergeletak di atas lantai tanpa memakai busana sedikitpun dari badan, begitupun dengan sang ibu yang tak jauh tergeletak berdekatan dengan pelayan itu.
Sisil yang tak banyak waktu mengurus kedua orang yang tengah pingsan, kini segera bergegas untuk pergi. Iya tak mau waktunya terbang karena mengurus dan menata kedua orang yang menyusahkannya. apalagi saat ia berusaha membopong tubuh pelayan itu, pelayan itu sangat lah berat membuat Sisil kewalahan untuk membopong tubuh meletakan pada Keranjang tempat tidur.
" Sudahlah daripada aku lama mengurus mereka berdua, sebaiknya aku cepat-cepat pergi dari ruangan ini, sebelum para suster datang untuk mengecek keadaan."
Sisil yang berhasil memakai seragam pelayan, kini keluar dengan membawa bekas makan untuk segera disimpan di dapur rumah sakit.
Sisil sedikit gugup dengan apa yang ia lakukan, takut jika para suster mengenali dirinya yang berpura-pura menjadi seorang pelayan.
setelah situasi aman, di mana Sisil tidak melihat salah satu suster yang melewati dirinya. saat itu juga sih Sisil mulai keluar dari rumah sakit dengan berjalan lebih cepat dari biasanya.
" aku harus cepat-cepat menaiki taksi, suster suster di rumah sakit ini mencurigai gerak-gerik.''
hanya saja saat Sisil berjalan lebih cepat dari sebelumnya, salah satu sahabat yang memanggil sebutan nama dari seragam pelayan itu. membuat Sisil tak mempedulikan teriakannya yang terus terdengar.
"Sial, aku harus benar-benar cepat mencari taksi, sebelum orang yang memanggil nama dari pemilik baju ini menghampiriku saat itu juga," ucap Sisil berusaha menutup wajahnya dengan topi yang baru saja ia temukan saat dirinya menaruh bekas makan.
"Rika. Kamu mau ke mana."
teriakan itu semakin terdengar dekat pada kedua telinga Sisil.
__ADS_1
"Ada apa dengan anak itu, di panggil. Kagak jawab."