
Haikal mulai meraba kasur yang berada di sampingnya, " ke mana Dinda?"
lelaki berbadan kekar itu langsung terbangun mencari keberadaan istrinya," Dinda."
Haikal beberapa kali mencari keberadaan Dinda di dapur dan juga di kamar mandi, tapi ia tak menemukan keberadaan Dinda saat itu juga.
Haikal mulai melangkahkan kakinya ke arah ruang tamu, yang ternyata istrinya Tengah mengintip sesuatu yang entah Haikal tak tahu.
"Sedang apa, Dinda di sana," ucap Haikal. perlahan dirinya mulai menghampiri sang istri.
memegang bahu, Dinda tiba-tiba saja kaget dengan keberadaan suaminya yang sudah ada di belakang punggungnya.
"Mas Haikal, kamu bangun." Ucap Dinda.
"Kamu sedang apa di sini, malam malam begini?" tanya Haikal pada istrinya.
Dinda menempelkan telunjuk tangannya pada bibirnya," Husst."
"Ada apa?" tanya Haikal pelan.
Dinda langsung menarik tangan sang suami, masuk ke dalam kamar." Mas, aku lagi ngintip Lina."
"Mengintip Lina, untuk apa?" tanya Haikal.
saat itu, Dinda langsung menceritakan kejadian di mana Dirinya berada di dapur, setelah menceritakan kejadian itu. Haikal langsung tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa kamu malah tertawa, Mas," ucap Dinda memukul bahu suaminya.
"Ya, habisnya kamu lucu sih, Din," balas Haikal masih dengan tertawa.
"Kamu ini, aku cerita serius. Malah di sebut lucu," ucap Dinda mencubit bahu Haikal.
"Aw," rengek Haikal.
"Sakit Mas," ucap Dinda menyindir sang suami. Yang merengek kesakitan bekas cubitan Dinda.
"Kamu udah berani cubit aku, ya. Sini biar mas cubit balik," balas Haikal. Membuat Dinda tertawa.
"Ayo, aku kelikitik kamu," ucap Haikal mengerjai sang istri.
"Ampun, Mas geli." Teriak Dinda.
@@@@@
di tengah kesakitan yang dirasakan Lina, Lina mendengar suara Dinda dan juga Haikal tengah teratawa bahagia, mereka tengah bercanda di jam malam. Membuat hati Lina sangat terluka.
"Di saat aku tengah kesakitan begini, mereka masih bisa bercanda dan bahagia tertawa berdua. Awas saja nanti, aku akan membalas semua kebahagian mereka dengan derita," ucap Lina.
Ia segera mungkin, meminum obat pereda rasa nyeri. berharap jika obat itu langsung menyembuhkan rasa sakit dari punggung dan juga pinggangnya.
__ADS_1
"Setelah aku meminum obat ini, aku berharap jika obat ini bisa menyembuhkan rasa sakit yang aku rasakan."
setelah meminum obat itu, Lina Langsung tertidur. menunggu hari esok, mempersiapkan tubuhnya untuk tidak merasakan rasa sakit.
namun saat Lina berusaha untuk tidur, suara Dinda dan Haikal terdengar begitu jelas pada kedua telinganya. membuat niatnya untuk tidur kembali sirna.
"Mereka, aku harus memberi pelajaran. Tahan Lina. Kamu harus tahan, biar besok kamu bisa menyusun rencana."
Lina mulai menutup kedua telinganya dengan bantal, memaksakan kedua matanya untuk terlelap tidur. pada saat itulah ia mulai tertidur dengan begitu pulas.
@@@@@
Sedangkan di dalam rumah Ardi.
Ia menatap layar ponsel yang tertera poto Lina di dalam ponselnya, Ardi mempoto Lina di mana Lina tidak memakai kain sehelai pun.
"Lina, aku tak menyangka, kamu ini masih gadis. tapi bisa mencintai suami kakakmu sendiri." Ucap Ardi.
Ardi terus saja mengerjai Lina, entah apa tujuannya. Iya begitu senang saat mengerjai gadis yang menjadi adik dari Dinda.
"Bahagia itu sederhana, Lina. Kamu sudah terjerat pada tanganku." Ucap Ardi.
Pada pagi hari, Ardi sengaja mengirim sebuah Foto Lina tanpa busana. Ke nomor Lina.
"Lina, setelah kamu melihat foto Kamu sendiri yang tanpa busana. aku tak tahu nanti. Apa tanggapan kamu kepadaku," ucap Ardi tersenyum licik.
foto pun terkirim, tinggal Lina membuka ponselnya dan melihat foto-fotonya tanpa busana.
@@@@@
Lina kini terbangun di pagi hari.
Ia melihat ponselnya, penuh dengan pesan. Yang Di mana pesan itu adalah sebuah foto dirinya tanpa busana.
Kedua matanya membulat kaget dengan apa yang dia lihat, " foto. Aku tanpa busana."
Kaget bukan main, " Kenapa bisa. Fotoku. Ardi."
Lina tampak marah besar, ia langsung menelepon Ardi.
Dreet ....
Kini ponsel pun terhubung.
"Halo. Adik manis, akhirnya kamu bangun juga." ucap Ardi dalam sambungan telepon.
"Sudah cukup, kamu mengirim pesan dan foto fotoku. Sebenarnya apa mau kamu, Ardi," balas Lina.
"Mau aku, masa kamu tak tahu. Apa kemauanku," ucap Ardi.
__ADS_1
Lina seakan hilang kendali, dirinya tak tahu harus bagaimana lagi. Ardi sudah menguasai semua yang ada pada diri Lina.
"Sudah, cukup. Omong kosongmu itu, cepat katakan apa kemauan kamu. Ardi?" tanya Lina.
"Apa kemauanku. Aku mau anak kita kamu terus urus di dalam perutmu!" jawab Ardi.
"Anak kita, maksud kamu anak kita apa? Jangan ngarang kamu Ardi. Sudah cukup kamu membuat sebuah drama macam sampai untukku," ucap Lina.
"Drama, tidak ada drama. Sudah kubilang dari dulu, semua kenyataan. Kamu harus menerima semuanya, agar kamu tahu. Aku itu akan selalu ada menganggu hidupmu."
Tawa Ardi terdengar nyaring, membuat Lina mematikan ponselnya. " Ahk, sialan Ardi benar benar keterlaluan."
Lina kembali merebahkan tubuhnya pada kasur," Bagaimana ini, kenapa Ardi mempunyai fotoku tanpa busana. Ini benar benar keterlaluan."
Tring ....
(Bagaimana, sayang. Apa kamu suka dengan koleksiku?)
" Pesan dari Ardi lagi, sialan dia benar benar kurang ajar."
(Sebenarnya apa kemauan kamu Ardi, kenapa kamu membuat aku perlahan menjadi gila.)
Ardi malah membalas pesan Lina dengan sebuah emojik tertawa.
(Aku tidak membuat kamu gila, aku hanya ingin melihat kamu bahagia kok.)
Balasan Ardi begitu santai tapi menakutkan, Lina mengusap kasar wajahnya. Kini hidupnya tak tenang, dibayangi sebuah ketakutan, yang terus dikirimkan oleh Ardi kepada dirinya.
"Lama lama aku bisa gila, jika Ardi terus menerorku. Aku harus bagaimana."
Tok .... tok ....
ketukan pintu mengagetkan Lina.
"Lina, ayo sarapan pagi."
suara Dinda kini terdengar kembali, yang di mana Dinda mengajak Lina untuk segera sarapan pagi.
"Aku tidak mau."
"Kenapa tidak mau, nanti kamu bisa sakit, Lina."
" kalau aku bilang tidak mau ya tidak mau, Kenapa sih kamu terus saja memaksaku."
Dinda tak berani menjawab amarah sang adik, saat itu juga ia pergi meninggalkan pintu kamar adiknya.
Dinda mulai duduk berhadapan dengan Sang suami.
"Wajah kamu cemberut lagi kenapa?" tanya Haikal yang tengah menikmati nasi goreng yang dibuat oleh Dinda.
__ADS_1
"Lina tidak mau sarapan, aku kuatir dengan badannya. Kalau dia sakit bagai mana!" jawab Dinda. menampilkan wajah cemas.
" Sudahlah kamu tak usah memikirkan adikmu itu yang egois. dia itu sudah gede dia itu udah punya pikiran sendiri, jika dia tidak mau makan biarkan saja. yang sakit juga dia yang merasakan sendiri juga dirinya sendiri. Jika dia sakit ya karena ulahnya sendiri. yang bandel." Ucap Haikal. Membuat Dinda merasa semakin sedih.