
"Mas, asal kamu tahu. Lina ini mau mencium bibirmu," ucap Dinda. Berusaha menyadarkan Haikal yang terus membela Lina.
Lina menangis, membuat suatu pembelaan untuk dirinya," kakak kenapa selalu menuduhku. Padahal aku bermaksud membangunkan Kak Haikal dengan mengusap pelan jidatnya tidak ada niat mencium bibirnya sama sekali."
"Sudahlah Lina. Jangan banyak alasan, kakak tahu kamu suka sama suami kakak. Kamu mencari simpati Mas Haikal agar selalu membelamu," hardik Dinda.
"Kenapa kak Dinda tidak mempercayai Lina, padahal Lina ini adik kakak sendiri. Kakak begitu tega," rengek Lina. Layangkanya seperti anak kecil yang mengiginkan sesuatu.
"Sudah cukup, air mata palsumu itu Lina. Jangan kamu tampilkan lagi kepolosanmu," ucap Dinda.
Haikal yang tak tahan langsung membentak kembsali sang istri.
"Bisa tidak jangan lagi membuat perdebat, aku pusing dengarnya." Hardik Haikal.
"Mas, aku ini tidak ...."
Belum perkataan Dinda terlontar semuanya, Haikal berlalu pergi menahan rasa kesal pada hatinya.
"Mas, kamu mau ke mana. Dengarkan aku dulu." Teriak Dinda.
Langkah Haikal semakin menjauh, membuat Dinda menahan tangan Haikal.
"Sudahlah kak, jangan di kejar. Biar aku yang mengejar kak Haikal," ucap Lina.
Dinda menghempaskan tangan Lina yang memegang lengannya dan menjawab," sudah cukup Lina. Sudah cukup apa yang kamu lakukan, seharusnya kamu ini ...."
"Seharusnya aku apa kak. Aku ini sudah baik baik loh kak, bilang sama kakak aku mencintai suami kakak, tapi kakak malah marah marah tak jelas," ucap Lina memotong pembicaraan sang kakak.
"Hah, tidak ada wanita yang mau berbagi suami pada wanita lain, apa lagi ini. Berbagi pada adiknya sendiri," balas Dinda.
"Ya ampun kakak, jangan egois. hanya berbagi suami saja. Kakak begitu egois," ucap Lina.
Plak ....
Satu tamparan melayang, pada pipi kiri Lina membuat Haikal yang melihat itu langsung membentak kembali sang istri.
" Dinda, aku tidak menyangka kamu seperti ini pada adikmu sendiri. Seharusnya kamu memberi contoh yang baik untuk adikmu sendiri jangan main kasar seperti ini," pekik Haikal.
"Mas, aku seperti ini. Karna adikku ini kurang ajar. Jika dia tidak kurang ajar mungkin aku tidak akan menamparnya," balas Dinda. Berusaha mecari keadilan untuk dirinya sendiri. Ia bosan menjadi wanita lemah yang selalu mengalah, apalagi kepada adiknya sendiri. Yang tak tahu untung.
"Memangnya adikmu kurang ajar kenapa, sampai kamu menamparnya?" tanya Haikal, ingin tahu. Apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
"Dia mencintaimu, Mas," ucap Dinda.
Haikal sangatlah syok, mana mungkin Lina gadis remaja menyukai suami dari kakaknya sendiri. Itu tidaklah mungkin.
"Lina, apa benar yang di katakan kakakmu?" tanya Haikal pada Lina.
Lina memutar bola matanya, bibirnya seakan kaku. Mana Mungkin dia mengaku kalau dirinya mencintai Haikal. Yang ada Haikal akan mempercayai Dinda kembali.
"Kak Haikal, ya mana mungkin aku mencintai suami kakakku sendiri. Aku hanya menyayangi kak Haikal layaknya sebagai kakak sendiri, apalagi aku baru pertama merasakan di perhatikan kak Haikal, semenjak kepergian ayah dan bunda," ucap Lina. Menjelaskan semuanya.
"Kamu dengar sendirikan, Dinda. Perkataan Lina," ucap Haikal.
"Akubtak menyangka, adikku sendiri tega berkata seperti itu lagi. Padahal aku yang selalu menjaga dia, memperhatikan dia dari kecil hingga dewasa. Tapi sekarang." Gumam hati Dinda.
"Dinda, kalau kamu begini terus. Aku akan ...."
Ardi tiba tiba saja datang, memukul bahu Haikal. Menyadarkan dari perktaannya." Heh, brow tahan amarahmu. Jika kamu salah dalam berucap, aku akan menyesal nantinya."
Haikal mengusap pelan wajahnya, beristigpar menyebut nama yang maha kuasa." Aku lupa."
sekuat kuatnya Dinda, hatinya sebagai seorang istri pastinya terluka dan sakit.
Haikal, mengelus dadanya pelan menahan amarah yang terus menggebu pada hatinya.
"Lina, kamu sudah remaja. Jangan seperti anak kecil. Apa apa merengek, malu lah sama usia, masa mau di perhatikan suami kakakmu," sindir halus Ardi.
Lina mengepal kedua tangannya, kesal dengan perkataan Ardi yang terlontar.
"Kakakmu itu sudah baik, peduli sama kamu. Harusnya kamu menghargai mereka," ucap kembali Ardi.
Lina seakan tak tahu malu, sindiran terus terlontar. Ia tetap saja mendekat ke arah Haikal. Merengek layaknya anak kecil.
"Kak, aku salah."
Haikal mengusap pelan kepala Lina menenangkan rengekan gadis itu." Ardi ini urusan keluarga kami. Jadi kamu jangan ikut campur."
Haikal sudah terlalu percaya pada Lina, hingga ia lupa pada sang istri.
"Hah, Haikal. Kamu ini kepala keluarga, tapi cara berpikirmu itu dangkal." Ucap Ardi. Membawa tas untuk segera pergi dari rumah Haikal.
"Kamu mau ke mana, Ardi," balas Haikal.
__ADS_1
"Aku kan sudah bilang aku hanya menginap di rumahmu semalam, jadi waktunya aku pulang," ucap Ardi. Melabaikan tangan ia berpamitan pada Lina membisikan suatu ucapan," terima kasih untuk semalam. Aku puas."
Deg .....
Lina sempat tak mengerti dengan ucapan Ardi. Membuat ia mengejar lelaki itu hingga ke depan rumah.
"Tunggu."
Ardi berhenti melangkah, membalikkan badan ke arah Lina.
"Kenapa Lina?" tanya Ardi tersenyum tipis.
Lina mulai berjalan mendekati Ardi yang sudah bersiap-siap menaiki mobil, " apa maksud dari perkataanmu itu."
"Tidak ada maksud apa apa. Masa kamu lupa, tadi malam kita sudah ngapain," ucap Ardi.
Lina mencengkram kerah baju Ardi, menekan Ardi untuk berkata jujur." Cepat jawab. Apa yang sudah kamu lakukan padaku tadi malam."
" kenapa kamu malah bertanya kepadaku? Harusnya kamu mengingat semua apa yang sudah kamu lakukan pada aku Lina. Jujur Saja aku begitu menikmati malam tadi saat kamu terus merayuku. ya mau tidak mau ...."
dalam perkataan Ardi terlontar semuanya, Lina semakin mencengkram kerah baju Ardi dengan begitu kuat.
Lina mulai berusaha mengingat kejadian tadi malam, yang di mana Dirinya nya sudah meminum obat yang ia tabur sendiri pada gelas Haikal. yang dimana Gelas itu malah terminum oleh dirinya.
"Kenapa, kamu berusaha mengingat kejadian tadi malam?" tanya Ardi.
"Jangan berani, mengertaku. Atau membohongiku!" jawab Lina.
" membohongimu, untuk apa aku membohongimu Lina. Apa kamu tidak menyadari saat kamu bangun tidur tubuhmu hanya di baluri dengan selimut tebal." ucap Ardi.
"Jadi semalam. Tapi itu tidak mungkin," balas Lina.
" Tidak ada yang tidak mungkin, kalau semua sudah terjadi," ucap Ardi. Membuat Lina semakin panik. Lina seakan ketakutan, dirinya tak menerima akan semua yang terjadi.
Ardi melepaskan kedua tangan Lina yang mencekram kerah bajunya," maaf ya. aku mau pulang dulu. Jika nanti aku ke sini lagi, jangan lupa layanin aku seperti tadi malam. Oke."
Menggigit bibir, masih tak percaya dengan perktaan Ardi. Lina Menekan kembali Ardi.
namun dengan terburu-buru Ardi menaiki mobil.
"Ardi. Jangan pergi kamu." Teriak Lina.
__ADS_1