
"Bisa tidak beri Ardi kesempatan agar Ardi bahagia," ucap Ardi Kepada kedua orang tuanya.
Dreet ....
Suara ponsel Ardi bergetar saat dirinya tengah menasehati kedua orang tuanya agar sadar.
Ardi langsung mengangkat panggilan telepon yang ternyata dari Lina, dirinya berusaha bersikap tenang saat mengangkat panggilan telepon dari Lina.
"Halo, Lina."
Lina merasa tak enak hati, karena tak membalas pesan dari Ardi, saat itulah ia menjelaskan Kenapa dirinya tidak sempat membalas pesan dari Ardi.
"Maaf, aku tidak membalas pesanmu semalam. Karna kebetulan sekali aku sibuk, membantu kak Dinda."
Ardi merasa tenang, setelah mendengar jawaban dan juga penjelasan dari Lina.
"Tak perlu minta maaf, aku maklumi kok."
mendengar jawaban Ardi yang seperti itu, Lina pada akhirnya bertanya kepada Ardi." Bagaimana? Apa kedua orang tuamu sudah setuju, dan apa benar kamu akan datang ke rumah sekarang."
"Keluargaku sudah setuju, sekarang aku ada di jalan untuk menuju ke rumah kamu."
Deg ....
betapa kagetnya hati Lina, setelah mendengar Ardi sudah berada di jalan menuju ke rumah dirinya.
"Jangan bercanda, Ardi?" tanya Lina. Tak mempercayai perkataan Ardi.
"Aku serius, Lina. Untuk apa aku berbohong!" jawab Ardi. Tentu saja Lina merasa panik.
"Jadi, sekarang kamu akan datang ke rumahku bersama keluargamu?" tanya Lina sekali lagi pada Ardi.
"Iya, benaran!" jawab Ardi.
Ardi menggigit jari jemarinya, membuat rasa gugup pada hati dan juga pikirannya.
"Halo, Halo."
beberapa kali Ardi memanggil Lina di dalam sambungan telepon, tetap saja Lina tidak menjawab ucapan Ardi.
"Ada apa dengan, Lina." Gumam hati Ardi.
"Halo. Lina."
"Iya, Halo."
"Kamu kenapa?"
"Enggak aku hanya ...."
"Hanya apa?"
__ADS_1
"Hanya gugup sedikit."
Ardi langsung tertawa terbahak bahak, setelah mendengar Lina berucap bahwa dirinya gugup.
Kedua orang tua Ardi tak percaya dengan apa yang mereka lihat, di mana Ardi tertawa seperti orang yang benar benar bahagia, karna sudah lama mereka berdua tak pernah melihat tawa Ardi.
"Kamu lihat Ardi, semenjak kita sering berdebat, aku tidak pernah melihat Ardi sebahagia itu. Seakan kita sudah menghilangkan kebahagiaan Ardi," ucap lelaki tua yang menjadi ayah Ardi.
Sang ibu, hanya terdiam mengabaikan ucapan suaminya, ia lebih fokus melihat jalanan dari jendela mobil.
"Kamu dengan tidak aku ngomong, pantas saja kita tidak pernah bahagia karna setiap aku bicara kamu tidak pernah mendengarkannya," gerutu ayah handa Ardi.
"Aku sudah tak peduli, hatiku sudah terlalu sakit dengan perlakuanmu yang senang senang dengan wanita cantik di luar sana. Tanpa kamu sadari hatiku hancur," balas ibunda Ardi.
Perlahan lelaki tua itu melihat air mata jatuh mengenai pipi, membuat ia memberanikan diri untuk segera mengusap air mata itu. perlahan tangannya mulai mengangkat memegang kedua pipi istrinya, sudah lama iya baru pegang kembali.
Pipi bersih mulus yang biasanya terlihat oleh lelaki tua itu, kini berubah menjadi pipi yang terlihat mengerut dan terdapat bintik hitam yang jumlahnya sedikit.
"Jangan pernah pegang pipiku, aku tak sudi." Cetus wanita tua itu pada suaminya.
Ayah handa Ardi, kini mulai menatap ke arah jendela, berusaha untuk tidak memperdulikan wanita yang berada di sampingnya. Ayah handa Ardi sudah tak tahu harus berbuat apa lagi, sebenarnya ia sangat mencintai sang istri. akan tetapi dirinya juga sudah lelah melihat keegoisan istrinya, dia lebih senang dengan wanita-wanita cantik yang selalu membuat dirinya bahagia. tidak seperti istrinya yang selalu mengomel dan membentak dirinya ketika satu kesalahan dilakukan oleh dirinya sendiri.
Ardi mulai mengobrol kembali dengan Lina di dalam sambungan telepon.
"Halo, Ardi kenapa kamu jadi ketawa."
"Habisnya kamu lucu."
"Serius."
"Udah ah, aku mau siap siap. Takut kalau kamu tiba tiba nongol."
"Nongol, emang aku tuyul."
"Ya tuyul, tuyul gombal."
Ardi kembali lagi tertawa, setelah mendengar lelucon dan terlontar dari mulut Lina.
"Ya sudah, kamu siap siap gih. Mandi yang bersih."
"Apa sih, aku sudah mandi."
"Yang benar?"
"Iya. Masa aku bohong, aku mandi hanya sikat gigi dan cuci muka!"
"Itu buka mandi kali, yang ada cuci muka doang. Ih bau."
"Bau, enggak donk. Wangi."
"Wangi kembang bagkai."
__ADS_1
"Jahat banget kamu Ardi."
"Ya, maaf."
"Ya sudah aku mau memberi tahu kak Dinda, biar kita siap siap saat kamu datang bersama keluargamu ke rumahku."
"Oke."
"Tapi tunggu ...."
"Kenapa?"
"Apa orang tuamu akan menyetujui pernikahan kita, jika mereka tahu tentang diriku dan keluargaku yang miskin dan tak punya apa apa?!"
"Kamu ini ngomong apa, memangnya cinta di ukir dari miskin tidaknya?"
"Ya emang enggak sih, hanya saja setiap orang tua itu beda beda. Ada yang ...."
Belum perkataan Lina terucap semuanya, Ardi langsung Memotong pembicaraan wanita itu dengan berbicara," ya sudah. kamu cepat di siap siap, bentar lagi aku sampai loh."
"Oh iya ya. Ya sudah aku tutup dulu, mau siap siap soalnya."
"Oke."
panggilan telepon pun dimatikan sebelah pihak, yang di mana lina langsung menaruh ponselnya dan bergegas mencari keberadaan kedua Kakaknya.
Lina berteriak memanggil kedua Kakaknya, membuat sang kakak keluar dari dalam kamar dan sedikit membentak sang adik." apa sih Lina. Berisik tahu."
Lina langsung mengatakan tentang Ardi dan juga kedua orangtua Ardi yang akan datang saat ini untuk melamar Lina.
Haikal yang mendengar ucapan Lina, seakan tak percaya. membuat Haikal langsung bertanya kembali kepada adiknya." apa benar itu, Lina?"
Lina menganggukkan kepala di hadapan Haikal," benar kak. Masa aku bohong."
setelah mendengar jawaban dari Lina, saat itulah Haikal langsung menelepon Ardi yang di mana ia masih tak yakin akan kedatangan Ardi yang akan membawa kedua orang tuanya ke rumah untuk melamar Lina.
"Apa benar yang di katakan, Lina?" ucap Ardi.
saat itulah Dinda mulai bergegas pergi ke dapur, Iya segera mungkin memasak untuk menyambut kedatangan kedua orang tua Ardi yang akan melamar adiknya.
"Aku harus masak sekarang juga." ucap Dinda. yang begitu sibuk memotong setiap bahan demi bahan untuk menyambut kedatangan kedua orang tua Ardi.
Lina yang terus saja ditanya oleh Haikal, karena Ardi akan datang bersama kedua orangtuanya, membuat Lina langsung meninggalkan Haikal begitu saja. Lina bergegas berjalan ke arah dapur untuk membantu sang kakak yang tengah sibuk memasak sendirian.
sang kakak malah mengusir Lina. Iya menyuruh Lina untuk bersiap-siap berhias dan memakai baju yang lebih sopan, agar saat kedua orang tua Ardi datang.
Lina sudah bersih dan wangi, agar kedua orang tua Ardi merasa senang dengan Lina.
"Tapi, kak. Aku ingin bantu kakak."
"Sudah kamu pergi saja berhias agar kedua orang tua Ardi senang dengan pernampilan kamu Lina."
__ADS_1