
" Siapa yang tega melakukan semua ini." Gerutu Ferdi, melihat bekas cambukan dengan kedua matanya.
Perlahan tanganya mengusap bekas cambukan itu," ini seperti baru, Alya mendapat cambukan ini di perkirakan baru tadi."
Kedua orang tua Alya masuk ke dalam kamar, ia melihat pengobatan Ferdi, membuat kedua mata mereka membulat
"Ada apa Ferdi?"
Lelaki yang memakai baju putih itu kini memperlihatkan bekas cambukan dari kaki Alya kepada kedua orang tuanya.
"Tante, dan Om lihat ini?"
Marcel tentulah sangat marah ketika melihat bekas luka yang baru ia lihat pada kaki anaknya.
"Ini tidak bisa di biarkan."
Sang mami mendekat ke arah Alya, mengusap pelan rambut anaknya." Alya, siapa yang tega melakukan semua ini?"
air mata kini jatuh mengenai pipi Renata. Membuat ia merasa semakin bersalah.
Seharusnya dulu ia menuruti apa pekataan Alya. Marcel mendekat ke arah sang istri, memegang punggung istrinya itu." Kamu tenang saja Renata, aku akan membuat orang yang sudah menganiaya Alya mati di tanganku."
Mendengar ucapan dari sang ayah, Alya perlahan membuka kedua matanya, ia melihat sang papa tengah marah begitupun dengan mami menangis di sampingnya.
"Mami, papi."
Renata mulai menghapus air matanya, berusaha tenang di depan Alya.
"Mami kenapa menangis?"
Renata memperlihatkan ukiran senyumanya dibibirnya untuk sang putri tercinta.
"Mami tidak menangis, mami hanya kelilipan saja."
Alya berusaha bangun dari tidurnya, ia perlahan mendudukan tubuh, hingga.
__ADS_1
"Aw."
Ada rasa sakit tak tertahankan, pada tangan Alya. Di mana tangan nya sudah selsai di jahit.
Ferdi menjelaskan tentang luka yang berada pada tangan Alya," itu luka sayapan pisau, dimana Alya di serang oleh seseorang. Luka itu terlihat cukup besar, makanya saya jahit."
Alya terlihat benci dengan apa yang dikatakan Ferdi, dirinya tak mau jika nanti kedua orang tuanya banyak bertanya.
"Ferdi, jangan sok tahu kamu. Luka ini akibat ulahku sendiri."
Alya ternyata berkata bohong kepada kedua orang tuanya. Ia kejahatan Pras. Takut jika mami dan papinya menjadi korban.
Ferdi tak mau ikut campur, yang terpenting ia sebagai dokter sudah menjelaskan semuanya.
Lelaki tua yang menjadi ayah Alya, mendekat. Berusaha menatap kedua manik bola mata anaknya. Ia tahu jika Alya sedang berbohong.
"Alya, cepat katakan. Siapa orang yang sudah berbuat tak pantas kepada kamu?"
Pertanyaan sang ayah membuat Alya menundukkan pandangan.
"Alya, cepat kasih tahu kami. Biar kami menyelidiki siapa orang itu, kamu tak usah takut. Papi dan mami akan menjaga kamu."
"Ayo, Alya katakan. Di sini ada Mami." Sang mami meraih tangan Alya, memegangnya dengan penuh kasih sayang. pertanyaan yang terus menekan membuat Alya Bimbang.
Alya dikelilingi dengan rasa kebingungan, Sekuat apapun sehebat apapun mereka. Tidak akan sanggup mengalahkan Pras, lelaki terkejam yang baru ditemui Alya di dunia.
kedua mata saling menatap antara Alya dan juga sang mami." Alya. Jika kamu terus menyimpan rahasia ini, mami akan terus menyelidiki semuanya sampai kamu mengungkap yang sebenarnya. Tolonglah Alya Katakanlah jangan kamu simpan sendirian, itu akan membuatmu tertekan."
Alya menggelengkan kepala bibirnya benar- benar membukam.
Renata menatap ke arah Marcel, yang dimana sang suami memberi suatu kode, agar membiarkan Alya berpikir sejenak. Karena bertanya di saat Alya tengah tertekan tidak akan membuahkan hasil.
Memegang tangan Alya, melembutkan hatinya. Sang mami kini pamit keluar kamar bersama Marcel, tapi tidak dengan Ferdi ia berdiri menatap ke arah Alya.
"Kenapa kamu tidak ikut ke luar bersama kedua orang tuaku, Mm."
__ADS_1
Ferdi tersenyum kecil setelah mendengar Alya mengatakan hal yang seakan mengusir Ferdi saat itu.
"Aku kan seorang dokter yang masih menangani kamu, sebagai pasienku. Memangnya kenapa?"
Alya membuang muka seakan tak suka dengan apa yang dikatakan ferdi, ia cenderung diam dan tak menjawab lagi.
Sedangkan Ferdi mendekat dan memeriksa jahitan yang baru saja selesai." Jahitanya sudah rapi."
"Ya sudah jika sudah rapi. Ngapain Masih ada di sini, cepat pergi."
"Tidak akan."
Alya mendengar Ferdi berkata seperti itu, membuat dia tentulah kesal, di mana telunjuk tangannya menunjuk ke arah pintu keluar kamar agar lelaki yang berprofesi dokter itu segera menyingkir dari hadapan Alya.
Wanita bermata sipit itu tidak suka, melihat lelaki yang tidak iya sukai berada di sampingnya. Iya Lebih baik sendiri, merasakan rasa sakit akibat siksaan yang diberikan Pras untuk dirinya.
Ferdi malah diam tak mendengar perkataan Alya." Cepat kamu pergi dari hadapanku." Teriak Alya.
Ferdi malah tersenyum dan berkata," mm. Sudahlah Alya aku tahu Siapa orang yang sudah membuat kamu sampai seperti ini."
"Sudahlah, jangan sok tahu kamu Ferdi. Sebaiknya kamu pergi dari hadapanku sekarang atau aku akan mengusir kamu secara paksa."
"Kamu mau mengusirku bagaimana pun, aku tak peduli."
Alya benar-benar dibuat Kesal oleh lelaki yang berada di hadapannya itu, membuat ia berusaha beranjak berdiri dari tempat tidur.
Perlahan hingga kedua kakinya kini menyentuh keramik, sedangkan Ferdi yang melihat Alya kewalahan untuk berdiri. kini menghampiri dan berusaha membantu Alya.
Akan tetapi Alya malah menepis bantuan yang disodorkan Ferdi untuk dirinya, dia malah mendorong tubuh Ferdi, hingga lelaaki yang menjadi dokter itu tersungkur jatuh ke atas lantai.
Alya kini berteriak kembali," cepat pergi dari sini atau aku akan berteriak memanggil mami dan papi, cepat?"
" Sudahlah Alya akui saja. Siapa orang yang sudah membuat kamu begini, aku hanya ingin membantu kamu saja, kalu mungkin itu berat danntak mudah, tapi aku yakin kita bisa menyelesaikannya dengan keterbukaan, tidak dengan cara seperti ini. Untuk apa kamu menyembunyikan kejahatan Pras? Semua tidak akan membuat hidupmu tenang, yang ada Pras akan semakin menjadi jadi dan membuat dirimu hancur begitupun dengan kedua orang tuamu."
Ferdi kini meneruskan perkataanya lagi," aku tidak berkata bijak tentang hakmu, hanya saja aku merasa kasihan terhadap kamu yang memang sekarang kamu menjadi korban dari kekerasan fisik yang di lakukan Pras."
__ADS_1
"Kamu tidak usah ikut campur dengan masalahku saat ini, mengetahui masalahku hanyalah diriku sendiri, yang bisa menyelesaikan masalahku hanyalah diriku. Jadi Sudahlah tak usah bersimpati dan sok ingin mendekatiku, aku tahu kamu itu ingin menikahikah denganku kan, kamu masih berharap cinta kepadaku. Bukanya kamu sudah tahu jika aku tidak mencintaimu, kenapa kamu masih berharap."
Ferdi mulai beranjak berdiri, tersenyum kecil di hadapan Alya, di saat Alya seakan menasehatinya," aku tak peduli, jika kamu tak mencintaiku yang terpenting aku bisa membantu kamu saat ini, dan juga kedua orang tuamu. Jika semua itu sudah aku lakukan, jangan takut Alya, aku akan langsung pergi dari kehidupan kamu, aku tidak akan lagi mengharap cinta kepadamu."