
"Bapak, ngenyel banget ya. Saat saya kasih tahu, bapak harusnya dengar omongan saya," ucap suster itu membantu Haikal untuk berdiri.
Namun Haikal tetap saja tidak ingin dibantu oleh Suster itu, Iya berusaha berdiri sendiri sembari memegang tembok yang tak jauh dari hadapannya,,"Maaf sus saya bisa sendiri."
ucapan Haikal membuat sang suster merasa tak dihargai, saat itulah ia memajukan bibir bawahnya, sembari melipatkan kedua tangan dengan menggerutu kesal menatap ke arah Haikal yang tengah berdiri secara perlahan.
dengan perlahan dan juga hati-hati, kini Haikal mampu berdiri, Iya berusaha berjalan menemui ruang istrinya. saat itulah sang suster mulai menahan Haikal untuk tidak pergi kemana-mana," Bapak ini mau ke mana?" tanya sang suster dengan perasaan kesal.
Suster itu berusaha berkata dengan sedikit lebih sopan, karena banyak suster yang terlihat memperhatikan dirinya dan juga Haikal.
" Maaf sus jangan halangi saya, Saya mau temui istri saya sekarang juga," ucap Haikal berjalan secara perlahan. tubuhnya sedikit mendorong sang suster untuk menyingkir dan tidak menghalangi jalannya.
Suster itu mengepalkan kedua tangannya, kesal dengan tingkah Haikal. saat itulah sahabatnya datang sembari menyindir sang suster.
" cie. kayaknya kamu lagi jatuh cinta nih sama seseorang," ucapkan sahabat kepada dirinya.
suster yang bernama Lena itu menatap tajam ke arah sahabatnya," jaga ucapan kamu, aku sebagai suster hanya merasa kasihan kepada lelaki itu."
"Hem, kasihan apa kasihan," sang sahabat terus menyindir perkataan suster Lena.
pada akhirnya Lena langsung membekam mulut sahabatnya itu," jangan coba-coba menyindir aku lagi, kalau tidak mulutmu ini akan ku gores dengan pisau tajam."
perkataan Lena membuat wanita itu hanya terdiam, saat Lena mengancam dirinya.
"Aku harus mengikuti lelaki itu," gerutu Lena.
__ADS_1
Sang sahabat yang menatap ke arah Lena, hanya bisa menggelengkan kepalan dan berkata," Hah, si Lena ini keras kepala sekali."
.Lena berjalan dengan tergesa-gesa, untuk menghampiri Haikal yang sudah jauh dari hadapannya. Entah kenapa dirinya begitu khawatir dengan Haikal, seakan dirinya tidak mau melihat Haikal menemui sang istri.
sebenarnya Lena Ini adalah siapa, Kenapa dia begitu perhatian kepada Haikal? apalagi Lena Ini baru pertama kali bertemu dengan Haikal?
@@@@@
Haikal benar-benar berjalan secara perlahan hanya untuk menemui istrinya, Iya tak mau jika Lina sang adik datang sedangkan dirinya tidak ada di dalam ruangan.
" aku harus cepat-cepat sampai sebelum Lina datang," ucapkan Haikal sembari berjalan merasakan rasa sakit di kepalanya.
tiba-tiba saja seseorang memukul bahu Haikal, membuat Haikal jatuh pingsan. seseorang itu langsung menyeret Haikal ke ruangan yang terlihat sepi tanpa seorangpun yang melihatnya.
Entah kenapa orang itu begitu tega memukul Haikal, membawa Haikal dengan menyeretnya paksa ke dalam ruangan. Haikal kini tak sadarkan diri, Iya gagal berjalan menemui sang istri di dalam ruangan.
@@@@@
hingga di mana Lina mendapatkan informasi ruangan Dinda yang tengah dirawat, saat itulah Lina dan juga Ardi mulai datang ke ruangan sang kakak.
mereka berjalan dengan terburu-buru, akan tetapi Ardi Yang merasa aneh di dalam rumah sakit itu. sekilas melihat wajah Haikal.
"Ayo Ardi, kenapa kamu lama sekali jalannya."
Lina seakan kesal dengan jalannya Ardi yang begitu lambat, membuat ia menarik paksa untuk berjalan cepat, Ardi berusaha melupakan apa yang ia lihat.
__ADS_1
"Ahk, mungkin orang itu sekilas saja persis dengan Haikal." gumam hati Ardi.
akhirnya mereka sampai di ruangan Dinda, saat membuka ruangan itu. semua tanpa sepi. tak ada satu orang pun yang menunggu Dinda, membuat Lina kesal." Kemana ka Haikal, Kenapa dia tidak ada di ruangan Kak Dinda,"
Ardi berusaha menenangkan Lina yang terlihat begitu emosi, perlahan tangan Ardi mulai memegang kedua tangan Lina untuk tetap tenang," kamu harus tenang, mungkin Haikal lagi keluar mencari makan."
" ya seharusnya, Kak Haikal itu jangan dulu pergi sebelum kita datang, kalau ada yang terjadi apa-apa dengan Kak Dinda bagaimana," ucap Lina kepada Ardi.
"Hey, kamu Jangan menyalahkan Haikal, bagaimanapun Haikal sudah menyelamatkan kakakmu dan berusaha membawa kakak kamu ke rumah sakit." ucap Ardi berusaha membuat Lina tetap tenang dan tidak menyalahkan Haikal.
"Hah, Sudahlah kamu tetap saja membela kak Haikal, sudah jelas-jelas ka Haikal lalai dalam menjaga Kak Dinda, kalau dia tidak lalai. kemungkinan besar Kak Dinda tidak akan masuk rumah sakit, dengan keadaan kritis seperti ini," balas Lina yang tetap saja menyalahkan Haikal.
Entah kenapa Lina begitu kesal dengan Haikal, apa yang sudah membuat Lina tiba-tiba saja kesal kepada Haikal? bukannya keadaan Lina tadi baik-baik saja saat menelepon Haikal, Tapi sekarang kenapa Lina begitu drastis berubah. apa yang sudah membuat dirinya berubah?
kini Ardi tak mau berdebat lagi, Iya hanya diam dan duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu. sedangkan Lina berjalan menghampiri kakaknya yang tengah terbaring tak berdaya.
kedua matanya mengeluarkan air mata, tak tahan melihat sang kakak yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. tangan kanannya mengusap rambut kepala Dinda Seraya berkata," Kak bangun, ini aku Lina. Aku sudah pulang sekarang Kak."
ucapan Lina tak membuat Dinda terbangun, Dinda tetap saja menutup kedua matanya,." Kak Dinda, cepat bangun dan buka kedua matamu agar bisa melihat adikmu yang ada di hadapanmu ini."
tetap saja Dinda terbaring lemah di atas ranjang tempat tidur. Tak ada suara sedikitpun, hanya ada alat yang terus terdengar di ruangan itu.
Ardi menatap ke arah Lina yang menangis tersedu-sedu, membuat ia merasa kasihan. saat itulah Ardi berjalan perlahan menghampiri Lina, tiba-tiba saja ia memeluk Lina dan berkata," kamu harus tetap tenang dan juga sabar, Apakah kamu pasti akan sembuh. sebaiknya Kamu duduk dulu, aku akan mencarikan makanan untuk kamu Lina, agar kamu tidak merasa lemas."
Lina kini melepaskan pelukan Ardi, mengusap perlahan air matanya yang terus berjatuhan mengenai pipi," Bagaimana aku bisa tenang, keadaan kakakku sangatlah kritis. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi, seakan hidupku ini hancur tanpa kakakku."
__ADS_1
" aku mengerti apa yang kamu rasakan Lina, kesedihanmu terhadap kakakmu sangatlah besar, begitupun dengan kasih sayangmu yang tulus terhadap kakakmu, tapi kamu harus cepat tenang dan tidak larutan dalam kesedihan, agar kondisi tubuhmu tak dwon dan kamu tetap semangat menunggu kakak mu sadar dari masa kritisnya," ucap Ardi.
.Kini nasehat yang terlontar dari Ardi membuat Lina sedikit tenang.