Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 67


__ADS_3

Lina semakin kesal terhadap sang kakak, semenjak kepulangannya dari villa Ardi. Sang kakak menjadi orang yang keras dan cerewed. Membuat Lina tak tahan dengan sikap sang kakak.


Tok .... Tok ....


Ketukan pintu semakin terdengar keras, membuat Lina tak tahan dengan sikap sang kakak. Ia terpaksa bangkit dari kamar mandi keluar dengan ke adaan kesal.


Brug .... Suara pintu di buka begitu keras, membuat Dinda menatap tajam ke arah sang adik.


"Sebenarnya kakak ini kenapa sih?" tanya Lina. Mendekat ke arah sang kakak.


"Kenapa kamu tanya pada kakak. Kamu tanya pada dirimu sendiri kenapa kakak berubah!" jawab Dinda.


Lina menggigit giginya, merasakan kekesalan yang teramat kesal. Mencaci maki sang kakak dengan sebutan." dasar mak lampir."


Lina pergi dari hadapan sang kakak, dengan tatapan penuh kebencian.


Dinda tak peduli dengan semua itu, dia terpaksa melakukan semua ini karna dirinya tak mau jika Lina semakin menjadi jadi.


Dinda sudah tak mau menjadi wanita yang mengalah, ia ingin bangkit dan mempertahankan rumah tangganya yang masih sebiji jagung.


Apalagi Dinda tengah mengandung sang anak dari Haikal.


Mengusap pelan perut dengan tangan Dinda, kini Dinda berusaha tetap tenang. Menghadapi semua yang terjadi.


"Aku harus tetap tenang dengan pendirianku."


Dinda seakan yakin dengan dirinya, ia berusaha tetap tegas. Tak mau menjadi wanita lemah untuk kedua kalinya.


"Aku harus tegas, jika tidak tegas pada Lina. Mungkin dia akan semakin menjadi jadi, apalagi aku mengigat mimpi itu terus. Membuat aku harus waspada." Gumam hati Dinda.


Lina yang masuk terburu buru, ke dalam kamar. Melemparkan ponselnya ke atas kasur.


"Ahk, enggak Ardi, enggak Kakakku. Semua bikin kesal." Gerutu Lina.


Lina bulak balik ke sana ke mari, memikirkan cara agar dirinya terlepas dari jeratan Ardi. Ia tak mau jatuh dalam pelukan lelaki yang tidak ia sukai.


"Bagaimana caranya agar aku bebas dari jeratan Ardi?"


Terduduk di atas ranjang tempat tidur," oh tuhan. Ini benar benar gila, membuat aku sedikit frustasi."


Dreet .....


Suara ponsel berdetar kembali, membuat Lina melihat isi ponsel itu


(Hai sayang aku rindu.)


" Hah, apalagi si Ardi ini. Bikin gue enek aja."


( Bisa tidak kamu itu berhenti memanggil nama kata sayang, itu membuatku eneg.)

__ADS_1


Lina mebalas isi pesan Ardi, ia merasa tertekan dengan pesan pesan yang memanggilnya dengan kata sayang.


( Loh kenapa kamu marah, aku kan berusaha membuat hati kamu bahagia.)


"Apaan sih, Ardi ini enggak jelas banget. Makin benci aku dengan perkataannya."


Lina memikirkan cara agar dirinya bisa terlepas dari Ardi.


"Dengan cara apa ya. Aku bisa lepas dengan Ardi, apa aku harus mencari lelaki agar bisa mengelabui Ardi. Agar Ardi tak mendekatiku lagi."


(Sayang kenapa tidak balas lagi pesanku.)


Lina yang terus menerus membaca pesan dari Ardi, membuat dirinya semakin tersiksa.


"Aku harus tenang."


@@@@@


Sedangkan di kantor, Ardi tersenyum sendiri. Membuat Haikal yang melihat gelagat sahabatnya langsung mendekat.


"Hey, Ardi. Ketawa ketiwi, kaya orang baru ke luar dari rumah sakit jiwa aja."


"Apaan sih lu."


Haikal menepuk bahu Ardi, membuat Ardi batuk seketika." Apaan sih lu. Tiba tiba saja bikin gue batuk."


"Lu kenapa, cerita la?"


"Ya elah lu."


Ardi sempat terpikirkan untuk bercerita pada Haikal,


"Oh ya, Haikal. Boleh enggak gue deketin Lina?" tanya Ardi pada Haikal.


Haikal mengerutkan dahi," Jadi lu suka ma adik dari istri gue."


Ardi mengusap pelan dagunya dan menjawab," suka sih enggak. Hanya saja cinta."


Haikal, langsung berucap." Cie cie. Ulala."


"Apan sih lu. Cie ulala?"


Haikal tertawa terbahak bahak, senang dengan Ardi yang ternyata menyukai Lina.


"Lu, bantu gue ya. Biar gue bisa dekat sama Lina."


Haikal mengganggukkan kepala," bisa saja. Tentunya, jangan kuatir. Gue pasti bantu lu."


Haikal tak menyangka jika Ardi menyukai Lina, membuat dirinya tenang. Adik dari istrinya di sukai sahabatnya.

__ADS_1


Mengusap pelan dada dan berkata," hah, jika Lina ada yang menyukai. Otomatis Lina bisa jauh dari hadapanku."


"Kenapa lu, benapas seperti itu?" tanya Ardi. Menatap ke arah Haikal, dengan perasaan heran.


"Gue tenang, jika Lina di sukai sama lu. Jadi gue bebas dari Lina yang mengatakan kalau dia menyukai gue!" jawab Haikal.


Ardi tertawa terbahak bahak, mendengar Haikal berkata seperti itu.


"Pantas saja lu begitu setuju pada gue."


"Tentu lah, gue setuju sama lu."


Obrolan itu terhenti saat, sang ibu datang dengan sosok wanita yang entah Ardi tak tahu siapa itu.


Haikal jelas kaget, ia langsung pergi dari ruangan Ardi. Dengan wajah sopan.


"Saya permisi dulu pak." Ucap Haikal pada Ardi.


"Ya."


Setelah Haikal pergi dari ruangan itu, saat itulah sang ibu memulai obrolan pada Ardi.


"Ada apa ibu datang ke sini?" tanya Ardi pada sang ibu.


"Ardi, harusnya kamu suruh ibu duduk. Sebelum kamu bertanya!" jawab sang ibu pada anaknya.


"Oh, ya sudah. Silahkan ibu duduk," ucap Ardi mempersilahakan sang ibu duduk.


Saat itulah sang ibu duduk bersama dengan wanita yang ia bawa, wanita itu menatap genit pada Ardi. Membuat Ardi menyingkirkan pandangannya karna tak suka.


"Wanita genit." Gumam hati Ardi.


"Ada apa ibu datang ke sini?" tanya kembali Ardi.


Ardi duduk mengantikan sang ayah yang sudah 1 minggu pergi ke luar kota. Membuat karisma Ardi terlihat sekali seperti bos.


Wanita yang di bawa sang ibu, merasa senang. Karna bisa melihat langsung lelaki tampan berkarisma bos perusahaan.


"Waw, tak salah ibu berteman dengan orang kaya. Jadi aku bisa leluasa masuk ke lingkungan orang kaya ini," gumam hati wanita itu.


saat itulah sang Ibu langsung berucap kepada anaknya," ibu datang ke sini hanya ingin mengenalkan, Sisil padamu."


ucapan sang Ibu membuat Ardi tak senang, apalagi sang Ibu mengenalkan sosok seorang wanita yang begitu cantik dan juga glamour.


"Jadi, maksud ibu apa?" tanya Ardi.


"Ibu ingin kamu cepat menikah, Jika kamu menikah, ayah kamu pasti akan memberikan seluruh harta warisan kepada kamu!" jawab sang ibu.


" Kenapa Ibu berkata seperti itu, bukanya Ayah belum meninggal!" jawab Ardi.

__ADS_1


Sisil yang Mendengar pembicaraan anak dan ibu, membuat dia tersenyum kecil. Apalagi setelah dirinya mendengar kata warisan.


"Ibu berkata seperti ini, demi kebaikan kamu Ardi. Jika kamu mendapatkan warisan ayahmu. Kamu tidak akan sengsara, ibu hanya ingin yang terbaik untuk kamu agar harta warisan ayah kamu tidak jatuh pada orang lain. Apalagi wanita wanita selingkuhan papah kamu yang cantik cantik itu." Gerutu sang ibu pada anaknya.


__ADS_2