Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 35


__ADS_3

membuka pintu kamar, Dinda tak melihat ada seseorang yang mengintip di balik pintu kamarnya.


"Apa aku berhalusinasi ya."


saat itulah Dinda mulai menutup kembali pintu kamarnya, untuk segera tidur dan mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lemas.


Hingga pagi menjelang, tak terasa Dinda hampir kesiangan. dia bergegas pergi ke dapur. dan ternyata semua makanan sudah tersusun begitu rapi diatas meja makan.


"Kakak Dinda, ayo makan."


Haikal sudah ada di belakang Dinda, dengan tampilan yang begitu rapi.


"Wah, sarapan sudah siap. Memang adikku ini hebat."


Lina tersenyum dengan terpaksa. Karna mendengar Haikal berkata adik.


"Ya sudah ayo kita makan."


Mereka duduk bersamaan, menyantap masakan Lina.


"Lina, kamu jaga rumah. Kami berdua mau, ke rumah sakit," ucap Haikal


Kepada Lina.


Saat itulah Lina menatap ke arah Dinda dan berkata," kakak sakit. Kenapa kakak tidak bilang. Biar Lina yang mengantar ke rumah sakit."


" Sudah kamu tak usah repot repot Lina. Kak Dinda ingin di atar oleh Kak Haikal," balas Dinda.


Lina menundukkan pandangan, saat Dinda berkata seperti itu.


Setelah sarapan selesai, kini Dinda dan Haikal mulai pergi ke rumah sakit.


Untuk segera mengontrol keadaan Dinda.


@@@@


Setelah sampai di rumah sakit.


Tiba tiba seseorang menubruk tubuh Dinda, membuat Dinda sedikit meringis kesakitan.


" Aw."


" Ya ampun, maaf Mbak."


Haikal langsung membantu sang istri untuk berdiri." Dinda. kamu tidak kenapa napakan."


Dinda kini menatap orang yang tak sengaja menabrak tubuhnya, hingga orang itu kaget. Melihat wajah Dinda.


"Kamu Dindakan?" tanya lelaki itu.


"Kamu, Hans!" jawab Dinda menunjuk wajah Lelaki itu.


Haikal yang melihat pemandangan itu, mendengus kesal.


"Hem."


Tatapan Dinda dan Hans kini berpaling ke tempat lain, " sudah saling menatapnya." Cetus Haikal.


"Maaf, kenalkan saya Hans." Tangan kanan Hans langsung menjulurkan ke arah Haikal.

__ADS_1


"Haikal suami Dinda."


Jabatan tangan ini hanya sebentar, Haikal langsung menarik tangan sang istri untuk menyingkir dari hadapan Hans.


"Dinda, tunggu." Teriak Hans.


Namun Haikal tak mempedulikan teriakan itu, dia berjalan. Dengan menarik tangan istrinya.


"Mas, sakit. Kamu ini," ucap Dinda. Kesal dengan Haikal, yang tiba tiba menarik tangan Dinda.


Dinda menatap ke arah suaminya, terlihat sekali wajah Haikal begitu kesal.


"Kamu cemburu, Mas?" tanya Dinda.


Haikal memalingkan wajah," siapa yang cemburu."


Dinda tersenyum senang melihat wajah Haikal yang begitu kesal," ah. Gengsi ya."


"Enggak juga." Cetus Haikal.


saat itu juga Haikal langsung menarik tangan istrinya lagi untuk segera menemui dokter.


Setelah masuk ke ruangan, betapa kagetnya Haikal. Melihat lelaki yang menabrak istrinya berada di ruangan pemerikasaan.


"Dia lagi, untuk apa dia ada di ruangan pemeriksaan."


"Dinda, kita bertemu lagi," ucap Hans yang ternyata seorang dokter yang berada di rumah sakit itu.


"Hans, kamu jadi seorang. Dokter?" tanya Dinda kepada Hans.


"Iya, Dinda!" jawab Hans.


Haikal Semakin kesal dengan kedekatan Hans dan istrinya.


"Hem."


"Oh, ya. Bagaimana bisa di mulai pemeriksaanya?" tanya Haikal pada dokter itu.


"Oh, ya. Ayo!" jawab Hans.


Kini Dinda mulai di periksa, oleh Hans.


Hingga sebuah senyuman di layangkan beberapa menit kemudian.


"Gimana keadaan istri saya?" tanya Haikal yang tak sabar mendengar berita dari dokter.


"Selamat untuk kamu Dinda dan juga Pak Haikal, kalian akan menjadi seorang ibu dan juga ayah!" jawab Dokter Hans.


Dinda dan Haikal begitu senang dengan jawaban yang terlontar dari mulut sang dokter.


"Terima kasih, Dok."


Hans terus menatap ke arah Dinda, sudah lama ia tak bertemu dengan Dinda. Dan sekali bertemu Dinda sudah mempunyai seorang suami dan akan menjadi seorang ibu.


"Dinda, ternyata aku terlambat." Gumam hati Hans.


"Ya sudah, dok kami mau pamit dulu." Ucap Dinda.


Dinda dan Haikal pulang dalam ke adaan bahagia, setelah mendengar kabar bahwa Dinda hamil.

__ADS_1


Di dalam mobil, Haikal mulai meminta maaf kepada sang istri.


"Maafkan Mas, ya Dinda. Kemarin mas tak mempercayai akan kamu yang sakit."


Dinda yang mempunyai hati lembut, kini menjawab," Dinda sudah maafkan mas."


"Terima kasih, sayang.


Satu ciuman dilayangkan dari bibir. Haikal pada kening sang istri.


Ia merasa menyesal karna seharian tak mempedulikan sang istri.


Di dalam rumah.


Lina seakan panik, karna Dinda dan Haikal tak kunjung pulang ke rumah," sebenarnya Kak Dinda itu sakit apa sih, Kenapa begitu lama sekali mereka pulang."


Tok ... tok ....


suara pintu terdengar di ketuk, membuat Lina bergegas membuka pintu rumah.


"Kak Dinda. Kalian sudah pulang." Sambut hangat dari Lina.


"Ya, kami sudah pulang," ucap Haikal.


"Jadi, apa kata dokter. Kak Dinda tidak kenapa napakan?" tanya Lina. Berpura pura baik di hadapan Dinda.


"Kak Dinda hamil, Lina!" jawab Dinda.


Deg .... mendengar berita kebahagiaan sang kakak membuat hati Lina merasa kesal, Iya seakan tak mau melihat kakaknya hamil anak dari Haikal.


"Wah, selamat ya. Kak."


berpura-pura tersenyum bahagia, walau sebenarnya hatinya begitu kesal. mendengar berita tentang kehamilan Kakaknya sendiri.


"Ya sudah, ayo. kakak cepat masuk dan cepat istrirahat. Kakak harus jaga bayinya baik baik." Ucap Lina. Dengan begitu perhatian.


"Terima kasih, Lina. Kamu memang adik yang baik," balas Haikal.


Lagi lagi, Lina mendengar Haikal menyebut lagi kata kata adik.


"Adik. Kak Haikal, selalu mengatakan itu." Gerutu Lina.


Lina langsung membantu sang kakak masuk ke dalam kamar, untuk segera beristirahat.


"Kakak jangan cape cape biar, Lina saja yang mengejakan pekerjaan rumah." Ucap Lina dengan terpaksa.


Haikal tersenyum senang mendengar Lina begitu sayang kepada kakaknya sendiri.


"Lina, Dinda begitu beruntung mendapatkan seorang adik seperti kamu, baik dan mampu menjaga Kakaknya sendiri," puji Haikal.


Saat pujian itu terlontar dari mulut Haikal. Dinda sedikit tak suka, karna pada kenyataanya Lina tidak seperti yang di bayangkan Haikal.


"Andai saja suamiku, mempercayai perkataanku, mungkin dia juga akan bersikap tak peduli pada Lina." Gumam hati Dinda


Lina mulai berjalan ke luar, ia tak mampu melihat kemesraan Dinda dan Haikal. yang membuat hatinya sakit.


Dengan tergesa gesa masuk ke dalam kamar dan berkata," Hah. Kenapa mereka malah bermesraan kembali."


Air mata Lina seketika keluar perlahan membuat ia mengusap kasar air mata yang terus mengalir mengenai kedua pipi.

__ADS_1


Hati Lina begitu sakit sekali, bagaimana tidak. Baru pertama kali saat usianya menginjak dewasa ia malah memendam perasaan pada lelaki yang menjadi suami kakanya.


"Apa aku salah sudah menyukai suami kakaku. Aku juga ingin mendapatkan perhatian dan kasih sayang. Layaknya kak Dinda."


__ADS_2