
"Iya ayah, Ardi juga berniat begitu, karena Ardi percaya pada Lina, kalau Lina bukan wanita yang sering mengkonsumsi obat-obatan terlarang."
"Bagus, kalau begitu. Ayah akan tetap dukung kamu, Ardi."
"Terima kasih, ayah."
panggilan telepon pun terputus sebelah pihak, saat Lina memanggil nama Ardi. saat itulah Ardi mulai menghampiri Lina yang terus memanggil namanya.
"Ardi."
"Ardi."
Ardi melihat keringat dingin terus bercucuran dari jidat Lina, membuat Ardi mengusap perlahan keringat yang terus bercucuran itu," Lina, bangun sayang. Ini aku."
Tiba-tiba saja Lina terbangun dari tidurnya, saat tangan Ardi yang terus mengusap-ngusap kedua pipi Lina.
"Ardi."
Lina langsung memeluk erat tubuh Ardi, merasakan rasa takut," kamu kenapa."
Ardi langsung memeluk balik tubuh Lina, mengusap perlahan kepala rambutnya.
"Kamu bermimpi, Lina?"
Lina langsung menangis terisak-isak, ia perlahan menjawab pertanyaan Ardi," aku bermimpi, ada orang yang akan membunuhku."
Deg ....
Ardi mencium pelan kepala rambut Lina, berusaha menenangkan ketakutan yang Lina rasakan.
"Ardi, aku takut jika semua itu adalah pertanda."
ucapan Lina tentulah membuat Ardi membantah hal itu," mimpi itu hanyalah sebuah bunga tidur, jadi kamu jangan pikirkan mimpi buruk itu."
. Lina hanya menganggukkan kepala, berusaha mengerti dengan apa yang dikatakan Ardi kepada dirinya.
"Sekarang kamu tidur lagi, ya."
perlahan Ardi mulai melepaskan pelukannya dari tubuh Lina, sedangkan Lina masih tetap memeluk erat tubuh Ardi.
"Ardi, aku takut."
Ardi dengan terpaksa melepaskan tangan Lina yang memeluk tubuhnya, kedua tangan Ardi memegang pipi Lina. mata mereka saling bertatapan," jangan pernah katakan takut, aku di sini akan selalu ada untukmu, Lina."
perlahan Lina berusaha melupakan mimpi buruk yang datang kepada dirinya, yang menarik nafasnya mengeluarkan secara perlahan. kini Lina mulai merasakan tenang," sekarang kamu sudah tenangkan, sayang?"
__ADS_1
pertanyaan Ardi, membuat air mata Lina kini berhenti mengalir. Lina berusaha kuat dan tidak takut dengan segala hal.
"Sekarang kamu tidur lagi, karna sekarang masih malam." Ucap Ardi.
Ardi mulai melepaskan kedua tangannya yang memegang kedua pipi Lina, saat itulah Lina membaringkan tubuhnya.
Ardi berusaha tersenyum di depan Lina, kalau sebenarnya hatinya juga merasakan rasa sakit ketika melihat calon istrinya seperti orang yang depresi.
entah obat terlarang apa yang sudah diminum Lina, hingga Lina menjadi seorang wanita yang penakut, dan juga sering berhalusinasi akan dirinya yang terus ditakut-takuti.
perlahan Ardi mulai mengusap kepala rambut Lina, hingga di mana Lina terhadap tidur.
"Lina, aku akan tetap berada di sampingmu. Kamu jangan takut."
.
@@@@@
pelayan yang bernama Nia kini berhasil kabur, mereka yang diperintahkan oleh Pak Anton gagal menangkap Nia.
entah apa yang akan mereka katakan, jika mereka tidak berhasil menangkap Nia, orang yang sudah mengacaukan segala hal di rumah. apalagi nia sudah membuat Lina seperti orang depresi.
"Sial, kita tidak berhasil menangkap Nia."
"Iya benar, betapa cepatnya ia lari."
"Aku lelah."
"Ya sudah, sebaiknya kita katakan kepada Pak Anton, kalau Nia berhasil lolos."
"Tapi."
"Sudah, pak Anton pasti akan mengerti."
kedua pelayan yang mengejar Nia kini kembali lagi ke rumah, mereka sudah kelelahan mengejar Nia.
"Yes, akhirnya mereka tak mengejarku lagi, waktunya aku pergi ke rumah tuan Pras." Ucap Nia bersembunyi di belakang mobil.
Nia langsung menelepon, sopir yang diperintahkan oleh Pras. untuk menjemput dirinya segera, saat itulah Nia hanya menunggu 20 menit saja. yang di mana Sopir itu ternyata sudah berada di hadapannya.
Nia Kini menaiki mobil itu untuk segera menemui Pras, Ya sudah berhasil dengan pekerjaan yang diperintahkan Pras. saat itulah, tinggal di mana Nia menikmati hasil jerih payahnya yang akan dibayar oleh Pras untuk dirinya.
di dalam mobil rasanya Nia tak sabar menerima uang yang akan dijanjikan Pras untuk dirinya, ia membayangkan bahwa uang itu akan membuat hidupnya bahagia.
Karena setelah Nia menerima uang itu, ia akan pergi jauh dari kota yang ditempati keluarga Pak Anton.
__ADS_1
setelah sampai di Cafe, di mana pemilik Cafe itu adalah Pras.
Nia dengan bangganya langsung menghampiri Pras yang tengah duduk di meja dengan menikmati kopi hangat buatannya sendiri.
Nia dengan tersenyum lebar menghampiri sang tuan, " permisi tuan, sesuai janji aku sudah membuat kekacauan di rumah pak Anton. dan membuat Lina masuk ke rumah sakit."
Pras yang tengah mengaduk-ngaduk kopi favoritnya itu, kini berdiri menghampiri Nia yang begitu senang akan pekerjaannya yang menurut dirinya telah berhasil.
Pras menatap lekat ke arah Lina, dan berkata kepadanya," bagus."
Palk ...
tiba-tiba saja satu tamparan dilayangkan oleh Pras untuk Nia.
membuat Nia seketika kaget dan memegang pipi kanannya, tangannya bergetar hebat begitupun dengan kakinya.
" kamu tahu kenapa aku tampar kamu?"
pertanyaan Pras tidak membuat Lina benar-benar mengerti, saat itulah Nia mulai mengerutkan kedua alisnya dengan bertanya?" Saya tidak mengerti tuan, Kenapa tiba-tiba saja saya ditampar begitu saja oleh tuan."
Pras tersenyum sinis di hadapan Nia, dirinya kini melipatkan kedua tangannya, membelakangi Nia dengan berkata," bodoh. kamu tidak tahu kesalahan kamu sendiri."
"Tuan, Saya benar-benar tidak mengerti apa yang dikatakan tuan, menurut saya pekerjaan saya itu sudah selesai, Saya sudah menjalankan apa yang diperintahkan tuan dengan baik."
" kamu sebut pekerjaan kamu itu baik, kamu itu salah, Nia."
" Memangnya letak kesalahan saya di mana, tuan."
Pras yang sudah kesal dengan Nia yang terus melawan perkataannya, kini membalikkan badan ke arah Nia, menunjuk wajahnya dengan jari tangan dengan berkata," semua rencanamu itu tidak ada yang berhasil, kamu sudah membuat aku malu.'
"Malu, maksud tuan."
Pras langsung memperlihatkan rekaman video dan juga suara kepada Nia, Nia yang melihat rekaman itu tentulah kaget dan semakin ketakutan.
" sekarang kamu sudah mengerti di mana letak kesalahan kamu sendiri?"
Nia langsung menundukkan pandangan, tak berani menatap sang tuan yang tengah marah menggebu-gebu kepada dirinya. Iya tak tahu jika ternyata rencananya sudah terekam oleh orang lain.
apalagi rekaman itu sangatlah jelas, sehingga Nia benar-benar terkecoh dari semua rencananya sendiri. impiannya untuk mendapatkan uang kini gugur, Nia hanya bisa ditarik paksa oleh para suruhan Pras. entah Nia akan dibawa ke mana oleh para suruhan itu.
"Tuan, saya akan berusaha memperbaiki semuanya," teriakan Nia bergeming di kedua telinga Pras. akan tetapi Pras berpura-pura tuli, tidak mengasihani Nia saat itu. Iya begitu tega dan kejam menyuruh suruhannya untuk menyeretnya.
"Tuan, saya mohon, jangan ...."
Kini teriakannya tak terdengar kembali, entah kedua suruhan itu membawa Nia ke mana? membuat suasana di cafe itu sangatlah menyeramkan dan juga menegangkan.
__ADS_1