
Ardi mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, ia ingin cepat sampai ke tempat yang ia tuju,
" mumpung waktu masih pagi, aku harus cepat sampai ke penjara. untuk mencari bukti di sana."
Tring ...
satu pesan datang dari ponsel Ardi, saat mengendarai mobil, Ardi mulai membuka isi pesan itu dengan tangan yang masih memegang setir.
(Ardi, kamu di mana?)
ternyata pesan itu datang dari Haikal, (Aku mau ke penjara!)
Haikal merasa heran dengan balasan dari Ardi,( untuk apa kamu datang ke penjara?)
Ardi langsung menelepon Haikal pada saat itu juga,
"Halo, Haikal."
"Ardi. Kamu lagi di mana sekarang."
"Aku lagi di jalan."
"Kebetulan sekali, aku ikut denganmu sekarang."
" Sudahlah kamu tak usah ikut, sebaiknya aku saja sendiri ke penjara untuk mencari bukti."
"Tapi ..."
" sudah sebaiknya kamu fokus jaga Dinda, dia sekarang pasti butuh kamu."
"Baiklah, kamu hati hati. setelah kamu menemukan bukti, cepat beritahu aku."
" Baiklah Haikal."
panggilan telepon pun kini dimatikan sebelah pihak, Ardi mulai fokus mengendarai mobil kembali. akan tetapi begitu banyak gangguan pada dirinya.
satu pesan datang lagi, yang di mana sang Ibu mengirim pesan kepada Ardi.
(Ardi apa kamu masih lama.)
"Ya elah, ibu baru juga 20 menit udah ngirim pesan saja."
saat itu juga Ardi langsung menelepon sang ibu.
"Halo, bu. Ada apa?"
"Ardi, sekarang kamu ada di mana?!"
"Ya elah bu, baru juga 20 menit nitip Lina, ibu sudah menelepon menanyakan Ardi di mana!"
"Bukan begitu, ibu hanya ingin ngasih tahu sama kamu, kalau Pras datang menjenguk Lina ke rumah sakit."
"Apah."
__ADS_1
"Kenapa kamu kaget?"
"Enggak bu, Ardi kaget tadi ada orang yang melintas di depan mobil Ardi."
"Oh, ya sudah. Matikan saja teleponnya takut nanti kamu kenapa napa, karna menelepon ibu sambil mengendarai mobil."
"Tunggu bu, Pras datang ia bilang apa sama ibu."
"Pras tidak bilang apa apa, hanya saja ibu kaget saat Pras datang, ia membawa seorang wanita cantik."
"Siapa? calon istrinya kah?"
"Entahlah ibu tak tahu, hanya saja ibu kenal wanita itu!"
"Ibu kenal wanita itu dari mana?"
"Kalau ibu ceritakan pasti kamu kaget."
"Kaget? Kaget untuk apa? Syukur syukur Om Pras sudah punya calon, jadi ia enggak jomblo lagi."
"Kamu ini."
" Jadi siapa ceweknya, bu."
"Ceweknya ialah, Alya."
setelah mendengar nama Alya, Ardi langsung menyampingkan mobilnya, ia memberhentikan mobilnya saat itu juga.
"Alya maksud ibu?"
Ardi tak menyangka jika wanita itu datang kembali, padahal sudah lama Ardi tidak bertemu dengan wanita bernama Alya, semenjak keputusan Alya untuk pergi ke luar negeri bersama dengan ayahnya sendiri. Alya sama sekali tak mengabari Ardi, dia pergi begitu saja dengan membawa sejuta kenangan yang begitu berharga bagi Ardi.
" Apa mungkin, Alya berpacaran dengan om?"
" masalah tentang berpacarannya ibu tidak tahu, hanya saja ibu melihat Alya begitu mesra dengan om mu sendiri, sepertinya mereka berdua punya hubungan yang spesial. emangnya kenapa kamu bertanya begitu? Bukannya kamu sendiri tadi yang bilang, bagus kalau om mu sudah mempunyai pasangan."
Ardi mengusap kasar wajahnya. Jujur saja hatinya sangat sakit ketika mendengar Alya datang kembali.
"Halo, Ardi."
seketika Lamunan Ardi membuyar, saat sang ibu terus memanggil namanya. membuat ia sadar akan pikirannya yang terus memikirkan Alya di masa lalu.
"Ardi."
"Oh ya bu. Ada apa?"
"Kamu melamun, Apa kamu ada hubungannya dengan wanita yang bernama Alya itu?"
Ardi sempat lupa jika sang Ibu tidak mengetahui hubungannya dengan Alya di masa lalu, Ardi sengaja menyembunyikan semua itu, karena ia tak mau jika sang ibu tahu bisa bisa ibunya akan mejodohkannya segera mungkin dengan Alya.
maka dari itu Ardi selalu bersembunyi ketika mau bertemu dengan Alya.
Namun ternyata hubungan yang selama ini dijalani oleh Ardi bersama Alya, seketika Kandas karena keegosan Alya yang selalu menuruti kemauan ayahnya sendiri.
__ADS_1
"Ardi, halo."
"Iya, bu. Kenapa?"
" kamu dari tadi Ibu panggil-panggil tak menjawab, sebenarnya Kenapa dengan kamu?"
" Ardi Nggak kenapa-napa kok Bu, Ya sudah Ardi matikan panggilan teleponnya ya Bu. sekarang hari mau pergi ke tempat tujuan Ardi saat ini juga."
"Ya sudah, kamu hati hati ya nak."
panggilan telepon pun dimatikan sebelah pihak, Ardi kini mulai mematikan ponselnya. ia ingin segera sampai di penjara tanpa gangguan apapun. apalagi gangguan ini tertuju pada Alya, wanita masa lalunya yang sudah lama ia kubur dalam-dalam.
karena dirinya menyadari, sebentar lagi ia akan menikah dengan wanita pilihannya sendiri, yang tak lain ialah Lina. gadis yang sudah menyelamatkan hatinya dari keterpurukan wanita yang sudah lama meninggalkan dirinya.
"Lupakan tentang Alya, aku harus fokus dengan rencanaku saat ini."
Ardi berusaha menenangkan pikirannya di setiap jalan.
setengah jam berlalu, saat itu juga Ardi sudah sampai di penjara.
saat Ardi mulai melangkah masuk ke dalam penjara, ia melihat sang Om dan juga seorang wanita yang ia gandeng.
"Apa itu Alya?"
Ardi berusaha mengurungkan niatnya, untuk tidak meneruskan langkahnya masuk ke dalam penjara, Iya lebih baik menunggu sang Om duluan yang masuk ke dalam penjara. Iya takut jika keberadaannya, membuat dirinya gagal akan mencari barang bukti.
Ardi terpaksa menunggu menatap ke arah Pras dan juga wanita yang omnya bawa.
saat wanita itu membalikkan wajahnya, tiba-tiba saja jantung Ardi berdetak takaruan.
"Alya, benar saja. Wanita itu adalah Alya."
"Ada apa dengan hatiku."
Ardi menahan semua perasaanya yang sudah lama ia pendam, perasaan pada cinta pertamanya." aku tak boleh goyah dengan perasaanku, bagaimana pun aku sudah mempunyai Lina, pendaping hidupku."
Ardi kini terpaksa masuk ke dalam mobil, ia berusaha menenangkan diri di dalam mobil. kedua matanya tak ingin melihat wanita yang selama ini pernah meninggalkannya begitu saja.
@@@@@
Sedangkan di rumah sakit, Lina kini bertanya pada wanita tua yang berada di sampingnya.
"Apa Ardi begitu dekat dengan wanita bernama Alya itu, Bu."
"Entahlah, ibu hanya tahu mereka berteman saja waktu kecil, kalau masalah pacaran mereka tak pernah kelihatan berpacaran. Memangnya kenapa?"
" Mm, Lina hanya."
Belum perkataan Lina terlontar semuanya, sang ibu kini menunjuk Lina dengan mengajaknya bercanda." kamu cemburu ya, Nak. Ngaku saja."
Candaan sang ibu mertua membuat Lina tentulah malu," Apa sih bu, Lina hanya bertanya saja. Soalnya."
" Soalnya kenapa? Ngaku aja cemburu."
__ADS_1
"Enggak kok bu!"
Wanita tua itu mengusap pelan rambut Lina dan memeluk gadis itu, serta berkata," kamu jangan kuatir, Ardi lelaki yang setia."