
"Sudah cukup. Bisa tidak kalian itu tidak bertengkar sehari saja, aku lelah cape mendengar kalian yang terus bertengkar. Sebenarnya kalian itu sayang tidak suka kepada Ardi anak kalian sendiri," gerutu Ardi membuat kedua orang tua-nya terdiam.
sang Ibu langsung memegang bahu anaknya," Ardi."
"Apalagi bu, Ibu mau salahkan Ayah lagi atas pertengkaran yang kalian buat?" tanya Ardi dengan menahan rasa kesal dalam hatinya yang mengebu gebu.
"Bukan begitu, Ardi," balas sang ibu.
" Bukan begitu bagaimana? Seharusnya kalian itu intropeksi diri, cobalah menyadari kesalahan masing-masing, yang selalu saling menyalahkan satu sama lain, kalian ini adalah orang tua. Orang tua yang harus mencontoh baik kepada anaknya, bukan malah memperlihatkan pertengkaran kalian. Ardi kesal dengan ibu dan ayah, yang selalu egois memikirkan kehidupan dan kesenangan tanpa memikirkan perasaan Ardi sebagai seorang anak," ucap Ardi.
ibu dan ayah saling menatap satu sama lain, mereka seakan mencerna perkataan anaknya sendiri.
"Sekarang, Ardi hanya minta satu permintaan ayah dan ibu. Tolong restui pernikahan Ardi dengan wanita pilihan Ardi sendiri. Ardi ingin merasakan rasa bahagia bersama wanita pilihan Ardi, Ardi sudah tidak mau diatur-atur lagi oleh ibu dan ayah. Ardi cape dan lelah," gerutu Ardi.
"Ardi, ibu begini karna ibu sayang pada kamu," ucap sang ibu.
"Sayang, jika memang Ibu menyayangi Ardi. Kenapa ibu malah menekan Ardi untuk menikah dengan Sisil, wanita matre itu," cetus Ardi.
"Ardi, Sisil itu wanita baik baik, ibu ...."
belum ucapan sang Ibu terlontar semuanya, saat itulah Ardi mulai bergegas pergi. membuat sang ayah langsung menghentikan langkah kaki anaknya.
"Ardi, tunggu sebentar nak."
Ardi berdiam diri dan bertanya pada sang ayah," ada apa, ayah?"
"Sebenarnya, ayah sangat menyetujui pernikahan kamu dengan wanita pilihan kamu. Jadi ayah besok akan menemui keluarga calon istri kamu!" jawaban sang ayah membuat hati Ardi seakan senang.
"Terima kasih, ayah. Untuk ibu, jika ibu tak setuju, sebaiknya ibu tak usah memperlihatkan wajah ibu lagi di depan mataku," cetus Ardi.
sang Ibu tak menyangka jika Anaknya Langsung berkata seperti itu, membuat rasa kecewa pada hati wanita tua itu," Ardi kamu tega berbicara seperti itu pada ibumu sendiri."
"Sudahlah bu, bukan aku tak tega. Tapi ibu sendiri yang sudah tega, terus menekanku terus menerus," balas Ardi.
__ADS_1
lelaki tua yang menjadi suami ibunda Ardi, kini mulai membisikan suatu kata-kata pada telinga istrinya," asal kamu tahu, pilihanmu itu dan juga keinginanmu itu akan hilang sekejap mata, karna Ardi yang selalu menurut padaku."
wanita tua itu tak ingin kalah dengan suaminya, Ya berusaha untuk bisa menaklukan hati anaknya. walaupun terasa berat tapi wanita tua itu akan terus berusaha, Karena itulah jalan satu-satunya dirinya untuk bisa berpisah dengan sang suami.
Dengan terpaksa, ibunda Ardi mulai menyetujui. Apa yang sudah direncanakan Ardi untuk besok," Ardi. Ibu akan menemui calon istrimu itu."
"Apa ibu yakin?" tanya Ardi.
Sang ibu menelan ludah dengan keterpaksaan, dirinya mulai bersikap lembut dan menghampiri Ardi, yang tengah menahan emosi karena perkataannya yang tak pernah membuat hati Ardi tenang.
"Ardi, maafkan ibu. Ibu sudah yakin!" jawab sang ibu.
" Baiklah kalau begitu, Aku berharap besok Ibu tidak membuat kekacauan saat menemui calon istriku," ucap Ardi.
wanita tua itu langsung menatap ke arah suaminya, mendelik kesal berusaha untuk bisa mengambil hati Ardi, walau dalam keterpaksaan dirinya.
saat itulah Ardi mulai berjalan menuju pintu kamar, ya sudah mendengar jawaban kedua orang tuanya, yang sudah setuju jika besok menemui calon istrinya.
" akhirnya kedua orang tuaku mau menemui Lina, walaupun terlihat dari kedua mata mereka seakan enggan. Jika datang ke rumah Lina, yang terpenting aku bisa membuktikan kepada Kak Dinda kalau aku benar-benar serius terhadap Lina," ucap Ardi di dalam kamarnya.
( Besok aku akan membawa kedua orang tuaku, membuktikan kepada kak Dinda kalau aku serius padamu. )
pesan terkirim Ardi mulai menunggu balasan dari Lina.
hingga beberapa jam kemudian, Ardi yang sudah menunggu dari tadi balasan pesan dari Lina. Membuat ia terlelap tidur.
@@@@
Sedangkan dengan ibunda Ardi, ia tampak resah dan gelisah. Mendengar Ardi yang akan serius dengan Lina.
"Aku harus memikirkam cara agar bisa menggagalkan keseriusan Ardi pada Lina. Tapi bagaimana caranya." Ucap Ibunda Ardi, memikirkan cara agar bisa memisahkan Lina dan juga anaknya.
Ibunda Ardi yang tengah berpikir kini terpikirkan akan Sisil, wanita yang ia sukai untuk dijodohkan pada anaknya.
__ADS_1
"Sisil, aku harus menelepon gadis itu."
Ibunda Ardi langsung menelepon Sisil, berharap agar Sisil mengangkat panggilan teleponnya.
Beberapa kali ibunda Ardi menelepon Sisil, tetap saja Sisil tidak mengangkat panggilan dari wanita tua itu.
"Sisil ayo angkat, ini penting sekali."
sudah kesepuluh kalinya ibunda Ardi menelpon Sisil, akan tetapi Sisil tidak mengangkat panggilan telepon dari ibunda Ardi.
Saat itulah ibunda Ardi, malah terduduk memikirkan hari esok yang akan menemui Lina calon istri yang sudah dipilih oleh anaknya sendiri.
Ibu Lina langsung meletakkan ponselnya ia merebahkan tubuhnya merasakan ketidaknyamanan dalam hatinya.
@@@@@
Sisil ternyata sengaja tidak mengangkat panggilan telepon dari wanita tua itu, Iya sudah tidak mau lagi berurusan dengan wanita tua itu. Iya lebih fokus dengan suami dari wanita tua itu, agar bisa menikmati semua yang ia inginkan dengan begitu instan.
"Maafkan aku tante. Aku sudah tidak mau berurusan lagi dengan tante. Karna sekarang tante sudah tak berduit, jadi sekarang aku berusaha mendekati suami tante yang begitu tajir melintir."
satu pesan datang. Sisil dengan rasa gembira nya langsung membuka isi pesan itu, yang ternyata isi pesan itu dari lelaki tua yang menjadi Ayahanda Ardi.
( Besok kalau tidak sibuk kita jalan jalan.)
betapa senangnya Sisil melihat isi pesan dari Ayahanda Ardi, membuat ia tertawa kegirangan. Iya tak sabar untuk menunggu hari esok, jika dirinya sudah berniat untuk berbelanja kebutuhan dan juga alat-alat make up yang sudah mulai menipis dan habis.
"Besok belanja."
Sisil mulai membalas isi pesan dari Ayahanda Ardi dengan tersenyum lebar Menatap layar ponsel. ( Oke sayang. )
entah apa yang dipikirkan Sisil saat ini, Iya lebih memilih ayah Ardi dari pada anaknya sendiri. Kini Sisil di gelapkan dengan harta dan kekayaan dari lelaki tua itu.
sampai ibunya sendiri pun ia tak pedulikan, Iya menjadi wanita egois semenjak kepergian ayahnya yang meninggalkan hutang begitu banyak. Membuat Sisil berani mengait seorang lelaki tua.
__ADS_1
"Yang penting aku bahagia, dompet terisi dan kebutuhan terpenuhi. Ngapain cape cape ngejar si Ardi itu, enggak ada hasilnya." Ucap Sisil.