
Setelah sampai di depan rumah, Lina mulai menurunkan pisaunya. Ia menyimpan kembali pisau kecil yang ia sengaja bawa.
"Kamu ingat, jangan ada perkataan yang mampu memancing kak Haikal." Ancam Lina.
"Ya, baiklah. Lina," ucap Ardi dengan begitu santai.
Mereka turun dari mobil, yang di mana Haikal tengah menunggu ke datangan mereka berdua.
"Kak Haikal." Ucap Lina. Mendekat ke arah Haikal.
Ardi dengan santainya mendekati Haikal, memegang bahu Haikal memukulnya pelan.
"Hati hati lu."
Haikal merasa heran dengan ucapan yang terlontar dari mulut Ardi.
"Apa maksud dari perkataan, Ardi," gumam hati Haikal.
Lina masih berani memeluk tubuh Haikal, sedangkan Haikal berpikir jika Lina hanyalah seorang adik kecil. Mana mungkin ada perasaan pada wanita yang menjadi adiknya.
"Kamu tidak kenapa napakan, Lina?" tanya Haikal pada Lina.
"Tidak kak, aku hanya takut pada kak Ardi!" jawab Lina pada Haikal.
"kamu tenang ya, Ardi itu tidak akan macam macam sama kamu, Lina, dia anak baik," ucap Haikal pada Lina.
Lina mendengus kesal, Haikal tetap saja membela sahabatnya itu. padahal sahabatnya itu adalah Ancaman bagi Lina.
"Ya sudah sebaiknya sekarang kamu istirahat dulu ya, Kakak mau memesan makanan untuk nanti sore. agar kamu tak perlu capek-capek memasak," ucap Haikal begitu perhatian kepada Lina. padahal Haikal memberi perhatian kepada Lina karena menganggap dirinya itu adalah Adiknya sendiri.
Tapi berbeda dengan Lina, menganggap perhatian yang terlontar dari Haikal adalah sebuah perhatian melebihi seorang adik.
"Andai saja, aku lebih dulu bertemu dengan Kak Haikal." ucap pelan Lina.
Haikal langsung bertanya," maksud kamu, Lina."
"Oh, enggak kak." Balas Lina. Memukul bibirnya.
Haikal langsung melepaskan pelukan Lina, ia mulai bergegas pergi untuk segera membeli makan untuk malam.
@@@@
Saat Haikal berjalan, ada rasa aneh pada hatinya. Dengan perkataan Ardi, ia penasaran dan ingin bertanya langsung. Namun tak enak dengan Lina.
Namun saat di dalam rumah, Ardi melihat Lina tengah menuangkan sesuatu ke dalam gelas yang ia sengaja Siapakan di atas meja.
"Serbuk apa itu?" tanya Ardi pada hatinya.
Saat itu Ardi, berpura pura datang. Dan tak tahu dengan apa yang di lakukan Lina.
"Mm."
__ADS_1
Lina kaget, ia langsung membalikkan wajah ke arah belakang.
"Ardi. Kamu sedang apa di sini."
"Sedang melihat kamu menyiapkan minum."
"Aku berharap jika Ardi tidak melihat apa yang aku lakukan," Gumam hati Lina.
"Hey."
Lamunan Lina seketika membuyar, saat Ardi mengagetkannya.
"Melamun aja."
Lina mengepal kedua tangannya, dia hanya diam meninggalkan Ardi begitu saja.
Ardi langsung menarik tangan Lina, dan membiskan suatu ucapan." Kamu mau pergi kemana adik cantik."
Lina menghempaskan tangannya," bisa tidak. Kamu tidak menyentuhku."
"Hhahah, aku lupa. Adik cantik."
Ardi pergi dari hadapan Lina, dengan tertawa terbahak bahak.
"Dasar sinting." Gerutu Lina.
Suara pintu terbuka, Haikal pulang dengan membawa makanan begitu banyak.
Ardi yang pergi, langsung balik lagi. Memegang perutnya." Wah kebetulan sekali, aku lapar."
Haikal langsung menata makanan di atas meja, di bantu oleh Lina. Sedangkan Ardi dengan santainya hanya melihat kesibukan mereka berdua.
Dinda yang masih merasakan rasa lemas, berusaha untuk bangun. Berjalan ke dapur.
"Mas Haikal."
Panggilan Dinda, langsung terdengar oleh Haikal. Membuat Haikal dengan cepat menghampiri istrinya.
"Dinda, kenapa kamu ke sini. Kalau mau makan nanti aku akan antarkan kepada kamu," ucap Haikal.
"Aku tak mau merepotkan kamu," balas Dinda.
Haikal langsung membopong tubuh Dinda, untuk duduk di kursi.
Lina yang melihat pemandangan itu, langsung mendelik kesal. Dan berucap dalam hati," kenapa selalu ada adegan tak menyenangkan di depan mataku. Ahkk bikin aku kesal saja."
Ardi memperhatikan wajah Lina yang menatap tajam ke arah Dinda dan Haikal, membuat Ardi sengaja mendekat ke arah Lina dan berbisik," kamu cemburu."
Sikut Lina langsung memukul ke arah perut Ardi, membuat rasa sakit tak tertahankan.
"Ahk."
__ADS_1
"Ardi kamu kenapa?" tanya Haikal.
"Oh aku lapar, jadi perutku berisik!" jawab Ardi.
Lina tersenyum kecil melihat Ardi meringis kesakitan karena pukulan dari sikutnya.
"Kurang ajar, wanita licik ini. Aku harus segera memberitahu Haikal, sebelum semua terlambat. sebagai sahabat aku tidak mau melihat rumah tangga yang sudah Haikal bangun hingga saat ini hancur karena ulah Adiknya sendiri, yang ternyata mencintai secara diam-diam." Gumam hati Ardi.
Haikal langsung menyuruh Ardi untuk duduk untuk segera menyantap makanan di atas meja, sedangkan Haikal begitu sibuk menuangkan nasi dan juga sayuran untuk Ia berikan kepada istri. Haikal begitu sangat perhatian kepada sang istri, Iya terlebih dahulu menyuapi istri. sedangkan dirinya yang sudah merasa sangat lapar, berusaha menahan rasa lapar itu. Hanya untuk melihat istrinya makan.
"Makan yang banyak," ucap Haikal. Menyuapi sang istri dengan begitu perhatian.
"Mas tak makan?" tanya Dinda.
"Kamu dulu, nanti kalau Mas udah selesai menyuapi kamu. Mas makan!" jawab Haikal. Perutnya terasa perih.
Dinda yang menyadari akan suaminya yang menahan lapar, menutup mulutnya.
"Ayo, makan. Kenapa mulutnya enggak di buka."
Dinda membalikan sendok yang disodorkan pada mulutnya kepada Haikal.
"Kalau aku makan, Mas juga harus makan, biar seimbang."
Ardi senang dengan kemesraan yang di tujukan Haikal dan Ardi.
Senyuman kebahagiaan, membuatnya ingin merasakan.
Sedangkan Lina, terus saja menatap benci kemesraan kakaknya.
"Cie cie. Mesra banget aku iri lihatnya." Sindir Ardi.
Haikal dan Dinda langsung menatap kearah Ardi dan berkata," Suatu saat kamu juga akan sama seperti kita berdua."
"Amin."
Ardi mulai berusaha merayu Lina yang tengah cemberut karena melihat kemesraan kedua Kakaknya.
Ardi mencubit kedua pipi Lin dan berkata," Kenapa dengan Adik manis ini kenapa cemberut terus."
tiba-tiba saja, lina langsung memukul meja dengan kedua tangannya. Iya berdiri dan pergi begitu saja.
Haikal sangat heran dengan tingkah Lina yang tiba-tiba seperti itu," Lina kamu mau ke mana?" tanya Haikal mulai menghampiri Lina. namun Ardi mencoba menahan Haikal." sudah biar aku saja."
Ardi mulai berjalan menghampiri Lina. yang di mana Lina Tengah duduk dengan menangis terisak-isak, membuat Ardi memberanikan diri mendekati ke arah Lina.
" Kelihatan sekali kamu begitu cemburu terhadap kakakmu sendiri," ucap Ardi.
Lina langsung menghapus air matanya, dengan kedua tangannya, menatap kearah Ardi dan berkata," Sudah cukup kamu jangan terlalu ikut campur dengan urusan ku lagi." Cetus Lina.
" semakin kamu begini, semakin kamu akan sakit hati melihat semua yang ada di depan matamu. Aku Hanya mengingatkan saja, agar kamu sadar diri dan melupakan rasa cinta yang hanya menjadikan kakakmu sendiri terluka." Nasehat Ardi terlontar.
__ADS_1