
Kedua mata Pak Anton membulat menatap ke arah para pelayannya.
"Ya elah, kalian ini bagaimana sih."
"Maaf tuan. Kami ...."
Belum perkataan para pelayan terlontar semuanya, Pak Anton kini membentak kedua pelayan itu. " kalian kenapa bisa gagal mengejar satu wanita."
Kedua pelayan itu hanya menundukkan kepala, tak berani melawan atau pun membentah sang majikan.
Pak Anton sangat kesal sekali, ia kini mengusap kasar wajahnya, pergi meninggalkan kedua pelayan itu.
"Kata kamu pak Anton tidak akan marah."
"Ya, mana aku tahu."
Dret ....
suara ponsel Pak Anton kini berdering, satu panggilan dari ponselnya. lelaki tua itu langsung mengambil ponsel yang berada di saku celananya, Iya Menatap layar ponselnya, yang di mana panggilan itu dari Sisil.
"Sisil."
Pak Anton yang sudah berpacaran dengan Sisil, kini mengangkat panggilan teleponnya.
"Halo, ada apa?"
"Halo, sayang. Kok tanyanya ketus gitu!"
"Maaf, aku banyak masalah."
"Hem, pantas saja. Suara kamu ketus gitu. Memangnya masalah apa?"
Sebenarnya Pak Anton sangatlah malas mengangkat panggilan telepon dari Sisil, ia ingin sekali mematikan panggilan telepon dari wanita itu.
"Ya masalah, anakku!"
"Loh, memangnya kenapa dengan anakmu?"
pertanyaan Sisil tentulah membuat Pak Anton kesal. Ingin rasanya ia membentak pacarnya itu, yang banyak bertanya.
"Halo."
"Iya Halo."
"Kok, kamu diam aja sih. Sayang."
"Habisnya kamu banyak nanya," ucap Pak Anton dalam hati.
"Sayang, jawab dong."
__ADS_1
Pak Anton berusaha bersikap seperti biasanya, ia tak ingin memperlihatkan kemarahannya terhadap Sisil, dengan berusaha keras Pak Anton menahan rasa kesal dan juga amarah yang semakin menggebu-gebu dari hatinya.
"Ya, kamu tahu sendirikan Ardi dan Lina. Mereka tengah di hadapi masalah. Oh ya aku mau tidur dulu. Cape, lebih baik kita terusinnya nanti ya."
Tut ....
Pak Anton langsung mematikan panggilan teleponnya begitu saja, Sisil yang masih membutuhkan Pak Anton kini merasa kesal, karena sikap Anton yang akhir-akhir ini berubah kepada dirinya.
Pak Anton kini berjalan menuju pintu kamar untuk segera merebahkan tubuhnya, ia ingin melupakan rasa sakit hatinya, karna sang istri yang tak menganggap dirinya ada.
"Maya, aku sangat mencintaimu." Ucap Pak Anton, perlahan mulai menutup kedua matanya. Untuk segera tidur.
Sedangkan Sisil hanya bisa menahan amarahnya, karna Pak Anton yang tiba tiba cuek kepada dirinya.
"Kenapa dengan lelaki tua itu, tidak biasanya dia cuek terhadapku. Awas saja ya." Ancam Sisil.
Mendengus kesal, rasanya Sisil ingin menjambak rambutnya sendiri, akan tetapi Sisi berusaha menahan segala amarahnya yang menggebu-gebu.
Tok .... Tok ....
"Masuk."
saat itulah sosok seseorang ibu datang ke kamar Sisil.
"Ibu lagi, ada apa sih bu."
Sisil kini melepaskan tangan sang ibu yang menggenggam erat kedua tangannya," Ibu ini kenapa sih, selalu ikut campur urusan Sisil, Ibu tenang aja Ibu tidak akan terlibat dari masalah yang tengah Sisil hadapi saat ini. sebaiknya Ibu fokus saja mengurus nasi gorengan-gorengan ibu itu."
"Sisil, ibu ...."
belum perkataan sang Ibu terlontar semuanya, Sisil kini mendorong tubuh ibunya untuk segera keluar dari kamar. Iya tak mau mendengar lagi nasehat dari wanita tua itu. yang terpenting dirinya bisa pergi dari rumah itu dan tinggal di apartemen yang sudah dibelikan oleh Pak Anton untuk dirinya.
Sisil berusaha tidak membuat ibunya curiga, jika sang Ibu tahu dengan apa yang sudah ia punya dari Pak Anton. ya takut jika sang ibu menyuruh Sisil untuk berhenti berpacaran dengan lelaki tua yang bernama Pak Anton.
sang Ibu benar-benar merasa khawatir dengan anak gadisnya itu, Iya bingung harus melakukan apalagi, agar anaknya bisa berubah dari kesalahannya.
beberapa kali menasehati sang anak, Sisil tetap saja bersikeras dengan apa yang ia perbuat, tanpa ia sadari resikonya yang ia hadapi sangatlah berat.
"Apa mungkin, aku harus menelepon Maya."
Tia memberanikan diri untuk menelpon Maya, karena ia tahu ini adalah jalan satu-satunya, untuk membongkar perselingkuhan anak gadisnya dengan suami Maya.
tidak ada cara lain selain menghentikan perbuatan anaknya sendiri, dia tidak ingin jika Sisil terjerumus dalam dunia yang bisa menghancurkan masa depannya.
Untung saja Tia menyimpan nomor ponsel Maya, yang di mana saat itu Maya memberikan identitasnya saat Tia pertama kali bertemu Maya saat di jalan. Yang di mana dirinya tengah berjualan gorengan.
" tidak ada cara lain untuk mengungkapkan kebusukan anakku, aku harus mengatakan semua ini kepada Maya. sebelum terlambat, aku juga tidak ingin melihat Sisil menderita di kemudian hari karena ulahnya sendiri."
Tia kini mengetik nomor untuk segera menelpon sahabatnya itu, hingga di mana panggilan telepon itu kini tersambung, betapa gemetarnya tangan Tia saat menelpon sahabatnya itu.
__ADS_1
ada rasa ragu dalam hati Tia. akan tetapi Tia berusaha tetap tegar.
"Aku harus berani."
Dreet .... panggilan telepon pun tersambung.
"Halo.*
kini terdengar suara dari sambungan telepon, yang di mana suara itu adalah suara Maya.
" Halo, siapa ini?"
Entah kenapa bibir Tia seakan susah untuk berucap, Iya menelan ludah. demi kebaikan anaknya saat itulah ia mulai berucap kepada Maya dalam sambungan telepon.
"Halo, Maya, ini aku!"
"Tia?"
"Iya, ini aku. Tia!
" Tia, ternyata kamu Menelpon aku juga, Bagaimana keadaan kamu saat ini Tia?"
" aku baik-baik saja Maya, terus gimana keadaan kamu sekarang Maya. jujur saja aku ingin bertemu dengan kamu!"
" aku baik-baik saja Tia, hanya saja saat ini keluargaku dalam keadaan tidak baik."
" Memangnya kenapa dengan keluarga kamu?"
" biar besok saja aku menceritakan semuanya pada kamu, jujur saja aku sudah rindu ingin bercerita masalahku terhadap kamu Tia."
"Ya sudah, besok kita bertemu di taman."
"Baiklah, kalau begitu."
kini panggilan telepon pun terputus sebelah pihak, Tia kini menyimpan kembali ponselnya, agar tidak diketahui oleh anaknya.
jika Sisil mengetahui kalau Tia mempunyai ponsel, bisa bisa ponsel sang ibu akan di rampas paksa oleh anaknya.
" Aku harus menyembunyikan ponsel ini, aku takut jika Sisil tahu aku menyimpan ponsel."
Tok .....
ketukan pintu dari kamar Tia, membuat dirinya sangatlah kaget. dengan Sigap Tia langsung menyembunyikan ponselnya takut jika yang datang itu adalah Sisil.
"Ibu," Teriak Sisil.
benar saja yang mengetuk pintu itu adalah Sisil, Untung saja dia mengunci pintu kamarnya. kalau saja ia lupa mengunci pintu kamarnya bisa-bisa Sisil datang dan melihat ponsel yang tengah ia pegang dari tangannya.
dengan Sigap Tia langsung berjalan menghampiri pintu kamarnya, wanita tua itu langsung membuka pintu kamarnya. Hingga di mana?
__ADS_1