
Pada akhirnya Lina mengalah, ia segera bergegas pergi masuk ke dalam kamar, untuk bersiap-siap menghias diri dan juga mengganti pakaiannya. saat Lina membuka lemari pakaiannya, ia merasa sedih. Karna pakaianya itu tidak ada yang begitu anggun terlihat kumuh dan jadul.
"Haduh, kenapa sih. Tidak ada pakaian yang bisa aku pakai, menyedihkan sekali."
Lina duduk di sisi ranjang tempat tidur, ia melihat ke arah cermin. Menepuk jidatnya," aku lupa. Bukanya kemarin Ardi membelikan baju untukku."
Lina langsung mengobrak abrik semua barang barang yang di beli oleh Ardi, yang di mana ia belum sempat melihat semua barang barang itu.
Baju yang terlihat indah dan juga perhiasan membuat Lina tak percaya jika Ardi mampu membelika Lina semua yang ia suka.
"Ardi dia begitu baik."
Lina langsung memilih pakaian yang sudah dibelikan Ardi, dia mencoba dan saat itulah pakaian yang ia pilih begitu cocok pada tubuhnya. membuat ia sedikit PD dan mulai berani untuk bisa menghadapi kedua orang tua Ardi.
menarik nafas dan mengeluarkan secara perlahan, saat itulah Lina berusaha untuk tetap tenang. Iya kini berjalan menemui sang kakak yang tengah sibuk memasak, yang di mana saat ia berjalan Haikal begitu terpana melihat Lina yang sangatlah berbeda. adiknya itu terlihat dewasa dan juga anggun.
"Lina, itu kamu?" tanya Haikal. Tak tahu ia harus memuji atau malah terpana melihat kecantikan Lina dengan hiasan yang begitu simpel.
"Ya, kak Haikal!" jawab Lina.
Haikal menatap terus menerus Lina tanpa ia sadari. Membuat Dinda yang berencana mengambil piring melewati mereka berdua, di mana Haikal begitu fokus tanpa ia tahu jika istrinya berada di belakang punggung Haikal sendiri.
Lina berusaha Melambaikan tangan kearah wajah Haikal, agar kakaknya itu berkedip.
Lina tak mau jika nanti sang kakak akan salah paham lagi, karna kini Lina sudah sadar dan tak mau mencoba mendekati Haikal.
Tuk ....
satu pukulan yang dilayangkan Dinda kini melayang pada kepala suaminya, yang di mana Haikal begitu fokus menatap ke arah wajah Lina.
Haikal langsung meringis kesakitan, iya mengusap kasar rambut kepalanya yang begitu terasa sakit karena pukulan yang dilayangkan oleh Lina dengan piring.
"Mm, sakit?" tanya Dinda.
Haikal berusaha menatap pada sang istri, iya mulai memegang kedua bahu sang istri dengan tangannya." Maafkan mas. Mas cuma kagum dengan Lina yang memakai pakaian mewah ini."
__ADS_1
mendengar jawaban dari sang suami, membuat Dinda kesal ia memalingkan wajahnya dengan kedua bibir yang mengkerut dan melipatkan kedua tangannya.
"Dinda maaf, mas tidak ada maksud apa-apa terhadap adik kamu."
" Baikalah, Dinda maafkan mas. Hanya saja Dinda tak suka jika kamu seperti itu pada adikku."
ucapan Dinda membuat Haikal langsung menuruti apa yang dikatakan istrinya, Lina mendekat ke arah sang kakak dan berkata," Bagaimanakah penampilanku saat ini?"
Dinda menatap dari ujung kaki hingga ujung kepala pada adiknya, membuat dia langsung mengacungkan kedua jempol nya.
" kamu begitu cantik adikku."
tentu saja Lina begitu senang dengan jawaban sang kakak, membuat Gadis itu langsung memeluk sang kakak dan berterima kasih.
pelukan itu kini terlepas, saat suara pintu terdengar diketuk beberapa kali.
membuat kepanikan terukir dari wajah sang adik.
"Ayo Lina, kamu ikut untuk menyambut kedatangan kedua orang tua Ardi."
"Kak, aku belum siap.. Bertemu kedua orang tua Ardi, aku gugup."
Permohonan dari Lina.
mau tidak mau Dinda harus menemui kedua orang tua Ardi sendirian, karena Lina yang begitu gugup, membuat dirinya seakan malu untuk bertemu langsung dengan kedua orang tuanya Ardi. apalagi keluarga Ardi adalah orang kaya yang begitu terpandang.
"Ya sudah kakak, akan temui mereka. kamu Lina di sini cepat rapikan makanan yang akan Kakak sediakan untuk keluarga besar Ardi agar mereka bisa menikmati masakan sederhana yang dibuat oleh kakak." Perintah Dinda pada adiknya Lina.
lina langsung menuruti apa yang diperintahkan kakaknya, ia berusaha untuk bisa fokus.
Dinda berusaha merapikan bajunya yang terlihat begitu Kumuh dengan kedua tangannya, agar dirinya tak mempermalukan Lina dengan penampilan Dinda yang begitu terlihat sekali berantakan.
Saat Dinda mulai menghampiri pintu, saat itu pula gedoran pintu terus terdengar.
Tok .... tok ....
__ADS_1
Di luar Ardi kesal dengan perilaku ibunya sendiri, yang terus saja mengetuk pintu rumah Lina. membuat Ardi langsung berucap kepada sang ibu,* bu. bisa tidak ibu berhenti mengetuk pintu."
sang Ibu langsung menurunkan tangannya yang terus saja mengetuk pintu rumah Dinda.
"Habisnya pemilik Rumah ini begitu lama membuka pintu, dia tidak tahu apa kita sudah lama menunggu di luar, mana daerahnya begitu kumuh, dan bau," ucap sang ibu. Membuat kekesalan Ardi semakin bertambah.
"Ya tuhan kenapa coba ibu tidak bisa mengontrol perkataanya," gumam hati Ardi.
sang ayah yang selalu membela Ardi, kini membalas ucapan istrinya," sabar, orang sabar itu di sayang tuhan. Kalau orang enggak sabaran itu cepat ...."
Tentu saja, Ardi kesal dan marah membuat ia langsung menghentikan perdebatan kedua orang tuanya lagi.
Ardi sudah merasa bosan, setiap di rumah dan di dalam perjalanan. dia selalu mendengar perdebatan demi perdebatan kedua orang tua mereka.
Membuat ia langsung berkata," ibu ayah."
namun saat Ardi mulai menasehati kedua orang tuanya. saat itu juga Dinda mulai membuka pintu, membuat Ardi mengurungkan niatnya untuk menasehati lagi kedua orang tuanya.
"Sudah sampai?" tanya Dinda menyambut kedatangan keluarga Ardi.
Ardi menampilkan senyumannya yang ramah terhadap Dinda, begitu pun dengan ayahnya. Tapi tidak untuk sang ibu yang hanya mendelik kesal, membuat Dinda mengerutkan dahi.
"Kenapa dengan ibunya Ardi, menatapku seperti musuh begitu." Gumam hati Dinda.
mereka bertiga langsung masuk ke dalam rumah, saat itu juga sang ayah duduk dengan begitu santainya, tanpa Melihat rumah yang begitu sempit. sang ayah tetap saja enjoy dan dan menghargai keputusan anaknya, tidak dengan sang ibu yang terus menatap ke sana ke mari, membuat wanita tua itu seakan enggan untuk duduk di kursi yang sudah terlihat kusam.
"Bu, ayo duduk." Bisik Ardi.
sang ibu malah bergidik ngeri, saat Ardi terus memaksa wanita tua itu duduk di kursi.
"Bu, ayo."
Ardi terus menekan sang ibu dengan berucap pelan, membuat sang ibu dengan terpaksa duduk di kursi yang ia anggap kursi itu begitu kumuh dan tidak layak untuk diduduki.
"Mimpi apa aku semalam, sampai aku duduk di kursi kumuh ini." Gumam hati ibunda Ardi.
__ADS_1