
Lina masih menangis, sendirian di ruangan yang begitu sepi. Hingga di mana Iya mendengar suara ibunda Ardi, membuat kedua tanganya mengusap air mata yang mengalir mengenai kedua pipinya.
Wanita berambut pendek, dengan mata berkaca kaca, berusaha berdiri walau dengan tangan yang masih terikat oleh tali tambang. Iya berusaha mencari sebuah pisau tajam ataupun benda tajam yang bisa membuat tangannya lepas dari ikatan tali.
Sampai akhirnya, Lina kini terbebas dari ikatan tali yang mengikat tangannya, ia berusaha mencari jalan keluar untuk pergi dari ruangan sepi tanpa satu orangpun yang menemani.
Suara teriakan kini terdengar kembali, pada kedua telinga Lina, dimana Alya terus meneriaki Pras akan sadar dari kesalahnya.
"Kenapa di ruangan ini tidak ada jendela." Gerutu Lina.
Saat itulah Lina mulai membuka pintu ruangan. Dimana ia melihat Pras memegang kedua kepalanya. Terlihat ia kesakitan dengan ucapan yang terus terlontar dari mulut Alya.
"Diam kamu." Hardik, Pras. Memegang pisau, melayangkan pada tubuh Alya.
"Tidakkkkkkk ...."
Lina menutup wajahnya dengan telapak tangan, ia tak mau melihat aksi Pras.
Nafas berburu seakan jiwa tak terkendali, "Tante Maya, bangun tante."
Mendengar suara Alya, Lina kembali membuka kedua tanganya. Betapa kagetnya, Tante Maya yang terkena pisau tajam itu.
Darah mengalir, mengenai pipi Alya yang menangis, hatinya rapuh," Alya, jadi bukan Alya melainkan Tante Maya, ibunda Ardi."
Lemas, benar benar lemas badan Lina saat ini, ia terduduk di atas lantai, dengan tangan bergetar.
"Tante Maya."
Lina seakan tak kuasa mendekat ke arah Alya dan tante Maya, hatinya lemah.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Dada bergetar tak karuan, menyaksikan kekejaman Pras.
"Hentikan Pras, kamu melukai Tante Maya. Kakak kamu sendiri."
Teriakan Alya membuat Lina menutup kedua telinganya, kejam, benar benar kejam yang di perbuat oleh Pras.
"Hentikan Pras."
"Dia harus mati dia harus mati."
Tante Maya di tusuk oleh pisau beberapa kali. membuat Lina yang menyaksikanya hanya bisa diam. Ia takut, benar benar takut.
Sedangkan Alya berusaha menahan tangan Pras yang terus memainkan pisau, untuk menusuk pada badan Maya.
"Hentikan." Teriak Lina, tak tahan dengan apa yang ia lihat.
Pras kini menatap ke arah teriakan itu, Lina yang sudah ketakutan. Berusaha berlari, untuk menyelamatkan diri.
"Lina, lari ke mana kamu?"
__ADS_1
Lina berusaha berlari, hingga para penjaga menghentikan langkahnya.
"Lepaskan aku."
Pras dengan bersimpun darah, pisau tajam yang ia gengam masih melekat pada tangan kananya.
"Jangan Pras, jangan lakukan itu. Sadar, kamu sudah membunuh Tante Maya."
Tawa mengema, Pras mengabaikan teriakan Lina, ia lebih memilih amarahnya dan juga dendam yang membara.
Tak peduli apapun yang ia lakukan, Pras tetap pada tujuannya. Yaitu balas dendam.
"Mati kamu, Lina."
Jeritan Lina kini berhenti di kala ia tak merasakan tusukan pisau tak menebus tubuhnya.
kedua mata yang menutup kini ia buka perlahan. Melihat Pras ternyata sudah terkulai lemah di depan matanya.
Para penjaga mulai menahan Alya yang ternyata memukul Pras dari arah belakang.
"Lina, cepat pergi dari sini."
Teriak Alya, berusaha memukul para penjaga di Vila itu.
Lina berusaha kabur, melewati para penjaga yang berada di hadapan.
Badan Lina malah tertahan, dan membuat ia susah bergerak, Pras tersadar berusaha meraih pisau yang tak jauh dari hadapanmu.
"Pras."
Menjauhkan pisau dari hadapan Pras.
Kepala yang sudah bersimpun darah, membuat Lina tak segan menginjak kepala itu tanpa rasa kasihan.
"Ahkkk."
Teriakan Pras membuat para penjaga syok, mereka berusaha membantu sang majikan untuk segera di beri penanganan.
Akan tetapi Alya berusaha membuat para pelayan itu menyingkir, ia ingin Pras mati
"Jangan mendekat, atau aku akan membuat lelaki ini mati."
Sedangkan Lina, berusaha menendang lutut kedua penjaga yang memegang kakinya. Hingga kedua penjaga tak berdaya lagi.
@@@@@
Sedangkan sang suruhan, merasa kuatir dengan keadaan Sang Nyonya.
"Kenapa Nyonya belum juga mengabari saya?" Ada rasa tak tenang pada hati sang suruhan.
Cemas takut terjadi apa apa dengan Maya, membuat sang suruhan terus menelepon ponsel Maya.
__ADS_1
Tetap saja, Maya tak mengangkat panggilan sang suruhan.
Rasa kuatir kini melanda, apa nanti jika sang tuan Anton tahu, jika Nyonya Maya belum kembali.
Dreet ....
Ponsel bergetar, tanda panggilan masuk.
suruhan Maya, kini mengangkat panggilan telepon yang berdering pada ponselnya.
"Tuan Anton menelepon?"
"Halo, Adnan. Di mana Nyonya sekarang?" Pertanyaan pada sambungan telepon membuat Adnan menelan ludah, karna dari tadi Nyonya Maya belum mengabari dirinya.
"Halo, Adnan. Kamu dengar tidak?" Sang Tuan, terdengar sedikit marah dikala Adnan tidak menjawab ucapan tuanya, ia bingung. Apa yang harus ia katakan.
"Bagaimana aku mengatakan semuanya, pada tuan. Nyonya belum juga kembali semenjak masuk menemui adiknya, tuan Pras." Gumam hati Andnan.
"Halo, Adnan."
"Iya Halo, tuan."
"Dimana Nyonya?"
Saat itulah Andan mulai menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Nyonya Maya tidak keluar juga dari rumah Pras.
"Saya sudah berusaha menemani Nyonya masuk ke vila Tuan Pras, tapi tetap saja Nyonya besikukuh, tidak mau saya antar. Dan sampai sekarang tak ada lagi kabar dari Nyonya."
"Apa? Maya belum mengabari kamu lagi, Adnan."
"Iya Tuan, saya kuatir terjadi apa apa dengan Nyonya, karna beberapa kali saya menelepon Nyonya, tak ada jawaban sama sekali."
"Ya sudah saya akan ke sana sekarang, kamu share lokasinya."
"Baik tuan."
Perasaan Anton kini bercampur aduk antara kuatir dan takut, karna sudah hampir seharian ini Maya tidak memberinya kabar.
Sebelum berangkat menemui sang istri ke vila, Anton mengirim pesan pada Ardi.
(Nak. Papah akan ke vila di mana Pras sekarang berada, papah akan menjemput ibu kamu yang nekad pergi sendirian menghadapi Pras adiknya sendiri.)
Pesan masi ceklis, mungkin Ardi sibuk dengan masalahnya.
"Maya, kenapa kamu nekad sayang. Mudah mudahan Maya tidak kenapa napa."
Di dalam mobil menuju perjalanan ke Villa. Pak Anton benar-benar kuatir, ia tak bisa berpikir dengan jernih, karena mengingat sang istri yang belum memberi dirinya kabar, dan juga suruhannya yang merasa heran jika Maya tidak keluar keluar dari villa Adiknya sendiri.
Anton takut jika Pras sampai tega menyakiti Maya, karena ia tahu jika lelaki bernama Pras itu nekat melakukan apa saja asal dirinya menang.
"Maya, aku benar benar kuatir terhadap kamu, mudah mudahan Pras adik kamu tidak nekad melakukan hal tak terduga pada kamu."
__ADS_1
(Papah, kenapa papah izinkan mamah pergi sendirian, papah ini gila ya.)
Balasan dari Ardi.