
Lina menatap pemandangan itu, tersenyum senang. Alya mendapatkan lelaki yang tulus mencintainya, dan juga menerima kekuranganya.
"Betapa beruntungnya kamu Alya."
Pemandangan itu kini, dikejutkan dengan seorang dokter yang keluar dari ruang oprasi, membuat Alya bertanya dengan keadaan Pras.
"Bagaimana keadaan Pras, dok?"
"Oprasi berjalan lancar, hanya saja keadaan pasien memburuk!"
Mendengar kabar itu, Alya menangis, Ferdi kini berusaha menenangkan sang pujaan hati, Pras dikeluarkan dari ruangan oprasi.
Memasuki ruangan yang kini di tempati Pras, Alya mendekat, oksigen masih terpasang, begitupun infusan.
Entah kenapa Alya ingin sekali, mengusap pelan rambut Pras. Membuat lelaki itu seketika bergerak perlahan.
"Pras kamu sadar?"
Hanya gerakan mata saja, tidak dengan tangan dan mulut, seperti susah di gerakan. "Pras, ini aku Alya. "
Perlahan air mata keluar, dari kedua mata Pras, bibirnya seperti ingin mengatakan sesuatu.
Ferdi yang berada di samping Alya kini menyuruh, Alya untuk meberikan kode lewat tangan.
Akan tetapi, Pras malah mengagetkan Alya. Tiba tiba saja tubuh Pras mendadak bergetar, seperti sesuatu akan terjadi padanya.
"Pras. Kamu kenapa? "
Ferdi yang di buat panik menyuruh dokter datang, ia memecet bel dimana para suster datang menangani Pras.
"Ada apa ini? "
" Suster, pasien tiba tiba mengalami kejang. "
Dokter datang, sedangkan para suster menyuruh Alya dan juga Ferdi untuk keluar dari ruangan.
"Kami akan tangani dulu pasien, sebaiknya kalian keluar dulu. "
Alya dan Ferdi hanya bisa menunggu kepastian Dokter dengan keadaan Pras yang sekarang.
"Mudah mudahan Pras baik baik saja. "
Alya tetap berhati baik dan mendoakan kesembuhan Pras walau pun ia sempat di perlakukan tidak baik oleh Pras, siapapun lelaki yang mendapatkan Alya pastilah sangatlah beruntung.
__ADS_1
Pantas saja Ferdi begitu sangat mencintai Alya, Iya tak peduli status Aliya yang sekarang, bagi Ferdi cinta itu menerima apa adanya.
Lina kini menghampiri mereka berdua, di mana Lina membawakan minuman dan juga makanan yang sudah ia beli dari luar rumah sakit.
"Aku membawakan makanan untuk kalian, kebetulan sekali tadi Ardi metelakirku. Karna dia tahu aku tidak mempunyai uang. "
Lina menyuruh Alya minum, agar perasaan wanita itu tenang.
"Ayo minum. "
Gadis berbulu mata lentik itu kini mengambil air pada botol yang disodorkan oleh Lina, yang membuka perlahan tutup botol itu dan meminum. hingga di mana dokter datang mencari nama Alya.
" Apa di sini ada nama Alya ? "
Alya yang habis saja meminum pada botol, kini mendekat ke arah sang dokter dan berkata, " saya, dok. "
"Pasien ingin bertemu dengan anda."
Alya kini memasuki ruangan Pras, dimana lelaki itu membuka mata dan menatap ke arah Alya.
"Pras."
"Alya."
"Al-y-a."
Alya mendekat ke arah Pras dan berkata. " Kamu menyebut namaku Pras? "
Pras berusaha menampilkan senyumanya pada Alya.
"Pras, kamu tahu tidak, sebentar lagi aku akan menjadi seorang ibu dan kamu ayahnya. Pras aku minta maaf gara gara aku kakimu tak bisa berjalan. Tapi kamu tenang saja. Aku akan mengurusmu karna ulahku. "
Begitu polosnya perkataan Alya, membuat Pras berucap, " jangan bodoh Alya. Kamu akan kelelahan mengurusku dan bayi kita. "
"Lihat wanita yang aku cinta, dia masih menampilkan keramahanya. Setelah apa yang aku lakukan padanya. Aku menyesal telah membuat Alya terluka akan fisik dan hatinya. " Gumam hati Pras.
"Hey, Pras. Setelah kamu menikahiku, kamu janji tidak akan menyakiti orang orang lagi, kasihan mereka. "
Alya seakan membuat Pras ingin berubah. "Bodoh. Setelah ini aku tidak akan menikahi kamu, aku akan pergi selamanya. "
Alya membulatkan kedua matanya, " Pras, tidak baik kamu berkata seperti itu. ".
" Ini kenyatanyaan Alya, aku berharap saat aku tak ada kamu mempunyai penganti ayah dari anak kita. "
__ADS_1
"Stop pras, jangan katakan itu lagi. Kamu pasti bisa bertahan. "
"Tidak Alya, aku sudah banyak melakukan kesalahan. Mungkin ini waktunya aku pergi dari dunia ini. "
"Pras, jangan katakan itu lagi. Aku mohon, sejahat apapun kamu. Aku tahu ada sisi baik dalam hatimu. "
Pras tertawa pelan, " aku minta maaf karna aku kamu menderita, Alya. "
Kedua mata Alya berkaca kaca, tersirat air mata kekecewaan dan kesedihan yang mendera.
"Kamu jangan bersedih Alya, banyak yang menyayangimu Kamu bisa bahagia tanpaku. "
Alya menangis dengan perkataan Pras saat itu, hingga dimana Maya datang dengan kursi rodanya. Padahal keadaan Maya belum setabil, tapi wanita tua itu memaksakan diri.
"Tate Maya. "
Alya terkejut dengan kedatangan Sang Tante yang tiba tiba berada di belakang badanya.
Begitupun dengan Pras, ada penyesalan yang begitu dalam pada lubuk hatinya, karna sudah melukai kakak tercintanya.
"Pras, kamu harus bertahan. "
Bukan kejahatan di balas lagi dengan kejahatan. Maya menganggap semua hanya kesalah pahaman, hinga menyebabkan pertumpahan darah yang hampir merenggut nyawa.
"Kak Maya, maafkan Pras. Pras salah, Pras egois."
Kata maaf kini terlontar dari mulut lelaki yang dianggap begitu jahat, bagi semua orang dan juga keluarganya. Maya berusaha memaafkan adiknya, walau sebenarnya hatinya merasa kesal. tapi dengan cara memaafkan hal yang terbaik, daripada harus balas dendam. Membuat kebencian tiada ujungnya.
" Kakak sudah memaafkan kamu, jadi kamu tak usah kuatir Pras. Seorang kakak tidak akan menanam dendam kepada adiknya. Karna aku sangat menyayangimu dari dulu. "
Setelah kata penyesalan terlontar dari mulut Prans, saat itulah badan Pras tiba-tiba merasakan Hawa yang tak biasa. Seperti detik detik kematian menjemput, Alya yang memegang tangan Pras kini berucap. " Pras."
Kata kata syhadat dilantunkan oleh Ferdi di mana ia mendengar teriakan Alya. Dengan terburu buru mendekat dan membisikan kata kata syahadat itu.
Dokter datang dengan mengecek keadaan Pras, berharap jika Pras dapat di tolong kembali..
Detik detik terakhir kini datang juga, Pras sudah tiada, dokter mengatakan kalimat inalilahi wainalilahi rojiun.
Membuat Alya menangis histeris. Pras sudah tak sanggup dengan keadaanya karna peluru menebus dada bidangnya, membuat ia tak bisa betahan kembali.
Ferdi berusaha menenangkan Alya, sedangkan Maya menangis histeris. Hatinya hancur seketika melihat kepergian Pras. Balas dendam Pras tak sampai pada akhir, ia malam merengut nyawa di saat dirinya berbuat kejam terhadap Ardi.
"Pras, aku tahu kamu itu orang baik, karna kamu terlalu menuruti perkataan Burhan kamu menjadi orang yang rugi. Menbalaskan dendam seorang teman malah membuat hidup Pras tak bahagia, ia yang seharunya menjadi seorang ayah dari wanita yang sangat ia cintai dan menerima keadaanya. Kini malah pergi disaat takdir menjemput. " Gumam hati Haikal. Melihat kematian Pras di depan matanya.
__ADS_1