
Sedangkan di rumah, Ardi tengah tertidur pulas. Ia berusaha menenangkan hati dan pikiranya karna bosan mendengar pertengkarang kedua orangtuanya. Kedua matanya terbuka.
sesekali Ardi menatap ke layar ponselnya, yang di mana Lina terus saja meneleponnya beberapa kali.
"Lina, tumben sekali dia meneleponku saat ini." Ucap Ardi.
Namun ternyata Ardi membiarkan ponselnya terus berdering, ya tak mau berbicara dengan siapapun. Dirinya ingin menghabiskan malam ini sendiri tanpa diganggu oleh siapapun atau berbicara.
"Maafkan aku Lina, karna tak menganggkat panggilan teleponmu." Ucap Ardi.
Ardi kini kembali menutup kedua matanya, untuk segera tidur. Melupakan semua masalah yang ada pada keluarganya.
hingga tiba pagi menjelang, Ardi bangun melihat jam di dinding. membuat ia mengusap kasar wajahnya, ternyata Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi.
melihat layar ponsel, Lina ternyata Menelpon Ardi hingga 50 kali. hingga suatu pesan datang di pagi hari, membuat Ardi langsung membaca isi pesan itu.
( Temui aku di taman, seperti biasa)
tumben sekali Lina mengajak Ardi untuk bertemu, biasanya Ardi yang selalu menyuruh Lina untuk bertemu. tapi sekarang se akan berbalik.
"Lina, ada apa dengan dia?"
saat itulah Ardi mulai membalas pesan dari Lina ( baiklah. Aku akan ke sana sekarang juga.)
pesan pun terkirim, saat itulah Lina langsung membalas pesan Ardi dengan cepat.
( sebentar lagi aku akan sampai di taman. Jadi cepat datang.)
Ardi tersenyum dengan jawaban Lina, seakan sesuatu Kebahagiaan akan datang pada dirinya.
saat Ardi mulai bersiap-siap untuk menemui Lina, pada saat itulah sang Ibu menghampiri anaknya.
"Ardi kamu mau ke mana?" tanya sang ibu kepada Ardi.
"Ibu, aku mau pergi!" jawab Ardi kepada sang ibunda.
"Dari pada kamu pergi, lebih baik kamu antar ibu ke restoran sebentar," ucap sang ibu menyuruh ke pada Ardi.
__ADS_1
"Ya sudah. Sekalian aku juga mau bertemu dengan pacarku," balas Ardi.
Deg ....
Baru pertama kali, sang ibunda mendengar anaknya berkata tentang pacar.
"Maksud kamu Ardi, pacar?" tanya sang ibu yang tak percaya dengan ucapan anaknya.
"Ya, bu. Seorang pacar, dan sebentar lagi aku akan menikah! Jadi ibu tak usah repot repot menjodohkan aku dengan wanita lain yang aku tak suka!" jawab Ardi.
wanita tua itu hanya terdiam saat mendengar perkataan anaknya, yang mengatakan bahwa Ardi sudah mempunyai seorang pacar.
"Ya sudah ayo, katanya ibu mau ikut denganku sekalian," ucap Ardi.
Saat itulah sang Ibunda langsung mengikuti langkah anaknya untuk menaiki mobil dan segera berangkat pergi menuju restoran.
Di dalam mobil menuju perjalanan ke restoran, wanita tua itu terus memikirkan anaknya.
"Ibu kenapa diam saja, biasanya ibu selalu bawel?" tanya Ardi kepada ibunda.
"Ibu hanya diam karna ibu heran dengan cepat kamu bisa mempunyai seorang pacar. Apa kamu sengaja menyewa seorang wanita, kamu tidak mau jodohkan dengan wanita pilihan ibu," ucap sang ibu kepada anaknya.
"Ya sekarang Ibu percaya saja kepada kamu," ucap sang ibunda.
" Bagaimana kalau aku mengajak pacarku untuk pergi kerestoran, sepertinya akan menarik jika aku mempertemukan pacarku dengan wanita pilihan ibu," balas Ardi pada sang ibunda.
" Baiklah kalau begitu, Ibu sangat setuju dengan perkataan. Ibu nanti akan menilai sendiri wanita yang mana yang cocok denganmu," ucao sang ibunda.
" Ibu boleh saja menilai wanita mana yang cocok denganku. tapi Ibu harus ingat, cinta itu tidak bisa dipaksakan dan juga harus memilih," balas Ardi.
sang Ibu hanya bisa menuruti perkataan anaknya, Ardi dengan fokusnya mengendarai mobil hingga pada akhirnya mobil itu berhenti di sebuah taman.
yang ternyata Lina. Tengah menunggu dari tadi pagi. Ardi dengan Sigap langsung keluar dari dalam mobil, menghampiri Lina yang tengah duduk di taman sembari melirik kesana kemari mencari keberadaan Ardi.
"Ardi, ke mana dia." Gumam hati Lina.
Ardi tiba-tiba saja mengejutkan Lina dari belakang, yang dimana Lina tengah duduk sendiri menunggu kedatangan Ardi.
__ADS_1
"Ahk."
Lina menjerit dan menatap ke arah belakang. Ardi malah tersenyum dan tertawa dengan senangnya.
"Ardi kamu ini."
Lina memukul-mukul bahu Ardi, tanpa sadar. membuat Ardi langsung memegang kedua tangan Lina. kedua mata mereka Langsung menatap satu sama lain. merasakan kedekatan yang terasa berbeda.
"Ayo kita pergi," ajak Ardi pada Lina.
Lina mengerutkan dahinya dan bertanya?" pergi ke mana."
Ardi langsung memegang tangan Lina, membawa Lina masuk ke dalam mobil.
Lina hanya pasrah saja dengan ajakan Ardi pada saat itu.
setelah sampai di dalam mobil, Lina melihat wanita tua duduk di samping kiri Ardi. membuat Lina langsung menyapa wanita tua itu dan memberi hormat kepada wanita tua itu.
sang ibunda Ardi, hanya bertingkah cuek kepada Lina. kedua mata ibunda Ardi menatap dari ujung kaki hingga ujung kepala penampilan Lina yang begitu terlihat gemuk dan Tak Menarik, saat dilihat oleh kedua mata ibunda Ardi.
" dari mana anakku menemukan wanita kumuh ini, Kenapa anakku bisa tertarik dengan wanita sederhana dan juga tak menarik seperti dia." Gerutu hati sang ibu.
Ardi melirik sekilas kearah sang ibu, Ardi tahu jika sang Ibu tak menyukai penampilan Lina yang begitu terlihat kumuh dan juga tak menarik di depan mata.
saat itulah Ardi memulai obrolan di dalam mobil, untuk bisa mendekatkan Lina dengan ibunya sendiri. walaupun itu tak mudah, namun Ardi akan berusaha.
"Lina, kenalkan ini ibuku," ucap Ardi kepada Lina.
Lina mencoba menampilkan senyumannya yang ramah, menganggukkan kepala memberikan rasa hormat kepada sang ibunda Ardi. akan tetapi sang ibunda benar-benar tak memperdulikan keramahan Lina untuk dirinya.
untuk menyapa Lina pun yang seakan enggan, ibunda Ardi lebih baik dia menatap perjalanan menuju restoran untuk segera bertemu dengan Sisil, wanita yang akan ia jodohkan untuk anaknya.
"Lina, penampilan kamu begitu kumuh. Apa kamu tidak mempunyai baju lagi, Aku tak suka melihat penampilan mu yang begitu terlihat kampungan," ucap sang ibunda Ardi dengan lantangnya kepada Lina.
Lina melirik pada penampilannya sendiri, memang Lina itu terlihat kumuh. karena Iya jarang sekali membeli baju, apa lagi berdandan.
"Lina, Jangan pernah dengarkan perkataan ibuku, dia terlalu memformalin tasikan penampilan daripada hati," ucap Ardi.
__ADS_1
membuat Lina tak menjawab perkataan Ardi dan juga ibunya. dia lebih baik diam dan mendengarkan semua ocehan yang terlontar dari mulut wanita tua yang menjadi ibunda Ardi.
"Kamu ini bagaimana sih, mata kamu ini kelilipan apa sih Ardi," gerutu sang ibunda. Di dalam mobil.