Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 64


__ADS_3

Dinda yang tengah membereskan rumah, masih terpikirkan oleh mimpi yang semalam. Yang di mana dirinya menyelamatkan sang adik, malah di bunuh.


Dinda terus memikirkan arti dari mimpi semalam, ya tak mau jika mimpinya menjadi kenyataan. Apalagi sang adik menjadi pembunuh.


"Ya tuhan, kenapa aku malah memikirkan mimpi itu lagi. Padahal aku berusaha melupakan semua mimpi itu." Gerutu Dinda.


Dinda tak meneruskan pekerjaannya yang masih menumpuk, dirinya malah duduk di kursi, memijit kepalanya yang terasa sangat sakit," kepalaku begitu terasa sakit berdenyut. sepertinya aku harus meminum obat sekarang juga."


Saat Dinda mulai melangkahkan kakinya menuju ke dapur, suara klakson mobil terdengar di luar. membuat dirinya langsung melihat ke arah luar," siapa? Pagi pagi begini?"


Dinda mulai membuka gordeng jendela, ia melihat di balik jendela mobil yang melaksoni rumahnya.


"Mobil ya, seperti tak asing."


Mobil yang berhenti di depan rumah Dinda, kini terbuka pintunya. terlihat sosok seorang wanita turun dari mobil itu, membuat Dinda mengerutkan dahinya. menyidik nyidik orang yang turun dari mobil itu.


"Siapa wanita itu?" Tanya Dinda dalam hati.


setelah wanita itu turun dari mobil, wajahnya kini menghadap ke arah rumah Dinda. yang di mana Dinda langsung terkejut," Lina."


Tiba-tiba saja hati Dinda seakan tak ingin menghampiri Lina, semenjak Dinda bermimpi sang adik yang akan membunuhnya.


Lina mulai berpamitan kepada Ardi, untuk segera masuk ke dalam rumah.


Tok ..., tok ....


Beberapa kali Lina melayangkan ketukan pintu, Dinda tidak segera datang membuka pintu dan menyambut adiknya. Ada apa dengan Dinda?


"Kak Dinda, ini aku Lina." Teriak Lina sembari mengetuk pintu beberapa kali.


Tok .... Tok ....


"Ke mana ya, Kak Dinda. Kenapa lama sekali?" Tanya Lina pada hatinya.


Dinda masih berdiri di balik jendela, hatinya seakan berat ingin menemui Lina.


entah apa yang dirasakan Dinda pada saat itu.

__ADS_1


"Kenapa aku seakan berat ingin menemui adikku sendiri, apa karna aku masih memikirkan mimpi semalam?" gumam hati Dinda.


Tok .... Tok ....


Ketukan pintu semakin terdengar keras, lamunan Dinda membuanyar, membuat ia dengan terpaksa menghampiri adiknya.


Perlahan tangan kanan Dinda mulai membuka pintu rumah, yang di mana Lina menunggu dengan wajah kesal.


"Kakak ini gimana sih, aku dari tadi nunggu kakak di luar. Kenapa kakak begitu lama sekali membuka pintu?" pekik Lina dengan penuh amarah.


Dinda hanya terdiam menatap sang adik, yang marah kepadanya.


"Kenapa kakak diam, harusnya kakak meminta maaf kepadaku," hardik Lina. Yang seakan tak puas memarahi adiknya sendiri.


Lina terlalu lancang terhadap Dinda, membuat Dinda dengan tak sadar diri. Menampar sang adik.


Plakkk .....


Tamparan tangan Dinda benar benar melayang pada pipi Lina dengan begitu sangat cepat, membuat rasa sakit yang tak tertahankan di hati Lina.


"Kakak ini apa apaan sih."


"Asal kakak tahu, aku tak pulang ke rumah. Di culik," bentak Lina.


Dinda berusaha mengendalikan diri agar emosinya tak meluap luap, apalagi setelah mendengar perkataan Lina yang dirinya telah diculik. begitu sama seperti mimpi semalam, Dinda seperti orang yang Waspada. Akan Lina, yang di mana di dalam mimpinya Lina tega membunuh Dinda.


"Sebenarnya kakak ini kenapa?" tanya Lina.


Lina merasa heran dengan tingkah kakaknya yang tiba-tiba berubah menjadi kejam, dia mengerutkan dahi menatap ke arah kepala hingga ujung kaki.


Dinda berusaha bersikap tenang melipatkan kedua tangan," Kakak Tidak kenapa-napa itu mungkin hanya karena perasaan kamu saja." cetus Dinda.


Dinda mulai pergi dari hadapan Lina, tidak ada kata-kata sapaan atau kata-kata kuatir dari hati Dinda untuk sang adik. membuat Lina sedikit marah.


"Kenapa dengan wanita itu, biasanya saat aku pergi seharian dia akan menghuatirkan aku tapi ini." Gumam hati Lina.


tiba-tiba saja perut karena merasa keroncongan, cacing-cacing di perut mulai meminta jatah untuk segera makan. saat menuju perjalanan ke rumah, Lina menolak ajakan Ardi yang mengajaknya untuk makan di restoran.

__ADS_1


karena ia tak mau terlalu lama mengobrol dengan lelaki yang tidak ia sukai, apalagi lagi saat ini Lina dihadapkan dengan rasa bimbangan, yang di mana ia harus menuruti keinginan Ardi. untuk menikah dengannya.


Lina mulai mengacak rambutnya yang terasa kesal jika mengingat perkataan Ardi yang mengajaknya untuk menikah.


" daripada aku pusing mikirin pernikahan, lebih baik sekarang aku pergi ke dapur untuk segera makan." Gurutu Lina.


Lina berjalan dengan begitu cepat ke arah dapur, ia tak sabar ingin sekali menyantap makanan mengisi perutnya yang terasa sangat lapar.


"Semoga saja makanan hari ini, Wah."


Membuka tudung saji, kedua mata Lina membulat, mulutnya menganga seakan kaget.


"Mana makanannya? Hanya piring kosong saja."


kesal bukan main yang dirasakan Lina, ia melemparkan tudung saji itu ke lantai. membuat Dinda sedikit kaget dan segera mendekat ke arah adiknya.


"Lina, kamu ini apa apaan, kenapa kamu lepar tudung saji itu," hardik Dinda.


sekarang Dinda berusaha lebih keras lagi kepada adiknya, agar Lina tidak berani melawan dan juga semenah menah di dalam rumah Haikal.


"Aku ini lapar kak, Kenapa Kakak tidak menyediakan makanan untukku. sampai di atas meja ini begitu kosong," pelik Lina.


" salah sendiri kenapa kamu kabur dari rumah. Jadi Kakak lupa untuk menyediakan makanan untuk kamu, ya, mau tidak mau kamu harus memasak sendiri," ucap Dinda bersikap santai.


"Kakak, ini tidak mengerti perasaan adiknya sendiri apa? Kakak aku ini lapar. aku pergi dari rumah itu hanya ingin menenangkan diri, Kenapa aku tidak pulang ke rumah lagi. Aku ini dibekam oleh orang yang tidak ku kenal, orang itu langsung membawaku ke sebuah tempat yang susah untuk aku kabur," jelas Lina.


"Sudah ceritanya?" tanya Dinda.


Lina membulatkan ke dua matanya, saat Dinda hanya melontarkan dua kata saja.


"Kakak ini gimana sih, harusnya kakak ini peduli pada Lina. Bukan mengabaikan Lina seperti ini," ucap Lina tak tahan dengan perubahan kakaknya sendiri.


"Sudahlah, jangan banyak basa basi. kakak cape dengar kamu ngomong, kalau kamu memang benar-benar lapar, cepat sana kamu masak sendiri. Asal kamu tahu ya. Kakak ini bukan pembantu kamu yang bisa kamu suruh suruh. untuk masalah peduli yang kamu katakan tadi, Kakak sudah tidak peduli lagi pada kamu. Karna kamu sendiri yang mulai dari awal, memusuhi kakak," cetus Dinda.


Deg ....


Lina tak menyangka jika Dinda bisa berubah derastis, tak lagi peduli pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Kakak Dinda berubah?"


__ADS_2