
Ardi mengira jika lelaki tua itu tidak akan mencari anaknya ke dalam kamar. Namun ternyata Sang Bapak melihat ke arah kolong ranjang tempat tidur, membuat Ardi mengusap kasar wajahnya.
Sedangkan Haikal menyenggol bahu sang sahabat, mengedipkan mata. Memberikan sebuah kode, Ke mana perginya Nining?
lelaki berbadan kekar dengan bola mata coklatnya membisikan ke arah telinga Haikal, bisikan dari lelaki itu membuat Haikal tentulah kaget.
Dan benar saja sang Paman langsung mencari anaknya di dalam kolong tempat tidur.
"Nining, ternyata maneh aya didie."
(Nining, ternyata kamu ada di sini.)
Nining pada keadaan berjongkok begitu kaget dengan ucapan ayahnya sendiri, Iya menutup mulut dan berusaha keluar dari kolong ranjang tempat tidur.
Gadis desa itu berusaha menghampiri Sang Bapak, yang tengah dilanda amarah, melihat anak gadisnya berada di kamar lelaki yang bukan muhrimnya.
Ardi menggaruk belakang kepalanya, jika lelaki tua itu bisa langsung menemukan tempat persembunyian Nining.
Hingga di mana satu pukulan hampir mengenai Nining, hanya saja pukulan itu mampu di tahan oleh Ardi.
Terlihat wajah kesal, dan kebencian pada raut wajah sang bapak kepada anaknya dan juga Ardi.
sedangkan Haikal, hanya bisa terdiam mematung. melihat kejadian yang tak pernah ia bayangkan.
lelaki tua itu membalikkan badan untuk segera pergi dari rumah Haikal, akan tetapi ia berucap kepada Haikal," Haikal, bawa kedua jelama eta ka imah."
(Haikal bawa kedua orang itu ke rumah.)
Haikal mengagumkan kepala, mengerti dengan ucapan pamannya.
sang Paman kini mulai pergi ke rumah, dengan wajah gelisah dan kesal. wanita tua yang menjadi istrinya kini melangkah menghampiri sang suami.
"Bapak, arek di payieun keun kopi moal kuibu?"
(Bapak, mau dibikinin kopi nggak sama ibu.)
wanita tua itu tampak heran, melihat sang suami yang terus diam tak menjawab perkataannya, biasanya jika ditawari untuk dibuatkan kopi. sang suami dengan Sigap menjawab iya.
Tapi sekarang istrinya melihat sang suami hanya diam, sesekali memijat depan kepalanya.
"Bapak."
"Bapak."
__ADS_1
Hinggal satu pukulan dilayangkan oleh sang istri pada bahu suaminya, membuat lelaki tua itu tentulah kaget. Lamunannya kini membuyar, setelah pukulan yang di layangkan sang istri.
"Ibu, sok ngararewaskeun wae."
(Ibu, suka bikin kaget saja.)
Sang istri mengerutkan dahinya, melihat keanehan pada wajah sang suami. Tidak terlihat marah ataupun sedang kesal. Yang terlihat dari raut wajah suaminya adalah kesedihannya.
"Sok, atuh ngomong. Bapak teh kunaond?"
(Bicara pak, bapak kenapa.)
Terlihat sekali wajah gelisahnya, membuat Dia seakan malas menceritakan apa yang sudah terjadi.
Tiba-tiba Nining dan juga Haikal datang, Mereka berdiri menghadap sang paman yang masih memijit-mijit depan kepalanya.
wanita tua yang berada di samping suaminya, merasa heran dengan kedatangan Haikal dan juga.
" lo tumben kalian pada ke sini?" tanya sama ibu Nining, senyum terukir pada bibirnya. Tidak ada rasa kekesalan sedikitpun dari hati Sang Ibu untuk Ardi.
Nining yang mulai menghampiri sang ibu, kini tiba-tiba dibentak oleh sang bapaknya.
"Cicing. Ulah nyamper keun ka indung maneh."
Nining menundukkan kepala setelah dibentak oleh sang bapak, tak ada ucapan sedikitpun terlontar dari mulut tebal gadis desa itu.
Iya hanya bisa menitipkan air mata, menyesali dirinya yang tak pernah menuruti apa perkataan Sang Bapak.
"Bapak teh kunaond, make ngabentak si Nining. Salah naond Si Nining?"
( Bapak kenapa, segala ngebentak Nining. Memangnya Nining salah apa.)
lelaki tua itu menatap ke arah samping kiri, yang di mana istrinya tengah berdiri bertanya. seperti memberi kode agar tidak banyak bertanya.
Haikal berusaha menenangkan pamannya sendiri, agar tidak larut dalam kekesalan. karena semua yang terjadi adalah kesalahpahaman.
saat mulut Haikal mulai berucap, membela Ardi dan juga Nining. saat itu juga lelaki tua yang menjadi Paman Haikal berdiri mendekat ke arah Nining dan juga Ardi.
" Kamu teh jangan mengecewakan anak saya."
lelaki tua itu memukul-mukul pelan bahu Ardi.
Ardi yang mendengar perkataan itu tentulah sok dan kaget, perkataan lelaki tua itu seakan menyetujui bahwa Ardi dan Nining bisa menyatu.
__ADS_1
Padahal di mata Ardi Nining adalah seorang anak kecil, yang ia anggap sebagai adik sendiri, bukan sebagai pasangan hidup.
karena dalam hatinya masih ada nama Lina, yang belum bisa pudar begitu saja.
Nining yang mendengar ucapan sang bapak, tersenyum senang. seakan ini peluang besar untuk dirinya. bisa lebih dekat dengan Ardi.
walau kemungkinan kecil Ardi bisa menerima Nining, karena Nining tahu jika Ardi sangat mencintai Lina.
cinta yang benar-benar rumit.
lelaki tua itu kini melangkah pergi menjauhi Ardi dan juga Nining,
sedangkan sang Ibu menghampiri anaknya yang terlihat tersenyum senang, walau sebenarnya dalam hatinya banyak menyimpan rasa penasaran.
"Ibu kira tadi bapak kamu mau marahin kamu. Tapi nyatanya malah ngedukung kamu."
"Iya, Bu."
Haikal kini mendekat ke arah Ardi dengan tatapan seriusnya, sang sahabat mulai bertanya," memang lu Ardi punya hubungan sama keponakan gue?"
Ardi menghilangkan kepala Seraya menjawab," ini hanya kesalahpahaman saja."
" jika semua bukan kesalahpahaman, Apa Aa Ardi mau sama Nining?" tanya Nining dengan keberanian yang ia miliki.
Terlihat Nining masih menundukkan pandangan karna rasa malunya masih melekat.
Ardi sekilas menatap ke arah Haikal, dan juga ibu Nining. Perlahan Ardi mulai mendekat ke arah Nining, mengusap pelan kepala Nining dengan begitu lembut.
"Ning, kamu ini masih kecil. Aa Ardi ini cuman nganggap kamu sebagai adik saja."
Deg ....
wanita tua itu begitu kaget dengan jawaban yang terlontar dari mulut lelaki yang dicintai anaknya, Padahal anaknya begitu berharap sekali terhadap lelaki kota dengan wajah tampannya pemikat hati anaknya.
Haikal tentunya mengerti dengan perkataan, karena Ardi bukan sembarang orang yang bisa mencintai wanita begitu saja.
sang Ibu berusaha mendekat ke arah anaknya, merangkul dengan kasih sayang. Iya tahu penolakan itu begitu sakit untuk anaknya, maka dari itu sang Ibu mulai membisikkan perkataan dengan pelan." Ya sudah sebaiknya Nining istrihat dulu ya."
"Aa Ardi, Gimana caranya Nining teh bisa ada di hati Aa Ardi. Nining teh pengen ngebuat hati Ardi tidak sakit lagi saat bersama Teteh Lina. Nining teh benar-benar suka sama Ardi tulus." ucap Nining.
Akan tetapi Ardi menganggap semua itu hanyalah kepolosan dan juga rasa cinta Nining sesaat. Karna ia tahu jika menginjak masa-masa remaja, cinta kadang berganti ganti, tidak saat menginjak masa dewasa. cinta itu akan tetap utuh dan tak mau berpaling kemanapun.
"Aa Ardi, jawab atuh, Nining teh bener bener suka."
__ADS_1