
Pada akhirnya Ferdi sudah sampai di rumah Ardi. Ia memutuskan untuk menemui Ardi karena ia tahu jika Ardi dan Pras mereka ikatan keluarga.
Ferdi mulai memarkirkan Mobilnya di depan rumah mewah milik Ardi, perlahan Ia membuka pintu mobil berjalan hingga di mana seorang satpam datang.
"Apa ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya seorang satpam penjaga rumah Ardi yang terlihat begitu panik ketika melihat Ferdi.
"Saya ingin bertemu dengan Ardi. Apakah dia ada di sini!?" Ferdi langsung menjawab perkataan satpam itu yang di mana, sang satpam menggaruk belakang kepalanya yang tak terasa gatal. Dia juga kebingungan karena semenjak kepergian Ardi dari kemarin sang majikannya itu tidak pulang-pulang.
"Sebenarnya saya juga tidak tahu kepergian tuan muda dan juga Nyonya, sudah dua hari ini mereka tidak ada di rumah." Ucap Satpam Penjaga rumah Ardi.
Hingga di mana salah satu pelayan datang melihat percakapan satpam dan juga Ferdi
"Ada apa ini?" pertanyaan mulai dilayangkan oleh pelayan rumah Ardi.
" Tuan ini mau mencari keberadaan Tuan Ardi dan juga Nyonya Maya!" satpam Penjaga rumah menjawab perkataan sang pelayan.
Pelayan itu kini menatap ke arah Ferdi dari ujung kaki hingga ujung kepala melihat penampilannya yang begitu gagah.
"Maaf tuan, tuan siapanya Tuan Ardi ya?" tanya sang pelayan. Dengan hati penuh keraguan, wanita itu tak berani mengatakan di mana kepergian Ardi dan juga Sang Nyonya
"Saya Ferdi sahabat Ardi dan juga Pras!" jawaban Ferdi membuat kedua bola mata pelayan itu membulat ketika mendengar nama Pras. Lelaki yang sudah menjadi buronan polisi, semua pelayan tahu setelah mendengar percakapan yang tak sengaja mereka dengar.
kegugupan mulai terlihat dari raut wajah sang pelayan.
"kenapa? kenapa kamu terlihat gugup seperti itu. Saat melihatku dan aku menyebut nama Pras, apa ada yang salah dengan nama itu?" Dari awal melihat sang pelayan, Ferdi sudah menyadari kegugupan pelayan di rumah Ardi.
__ADS_1
"Maaf sebelumnya tuan. Bukan saya lancang mengatakan keberadaan mereka pada tuan, hanya saja Tuan Ardi dan juga Nyonya Maya sekarang tengah dalam masalah!" pelayan yang awalnya tak ingin mengatakan semua kejujuran itu, kini terpaksa karena mereka juga takut terjadi apa-apa dengan Ardi dan juga Nyonya mereka sendiri.
"Masalah. Maksud kamu? Masalah apa?" Ferdi semakin ingin tahu dengan penjelasan pelayan di rumah Ardi. Hingga ia terus bertanya dan menekan sang pelayan.
"Maaf tuan sebenarnya." Sang pelayan itu, kini tak meneruskan perkataannya, ia melirik ke arah satpam di mana satpam itu melarang membicarakan sang Nyonya Dan juga tuan Ardi. Dengan memberikan kode wajah marahnya.
Ferdi melihat pelayan itu ragu, dan ketakutan jika mengatakan apa yang sebenarnya terjadi dengan Tante Maya dan juga Ardi.
"Sebenarnya apa yang mereka tengah sebunyikan, kenapa dia berhenti menjelasakan tentang Ardi dan Tante Maya," Gerutu Ferdi.
"Ayo katakan. Kenapa kalian tidak meneruskan perkataan kalian? Apa kalian takut jika aku adalah orang jahat?" tekan Ferdi kepada pelayan dan juga satpam di rumah Ardi.
Satpam itu menundukkan kepala hingga di mana pelayan itu dengan beraninya mengatakan keberadaan Ardi dan juga keberadaan sang nyonya yang sebenarnya.
"Apa kamu tahu kepergian mereka?" tanya Ferdi dengan rasa penasaran, dengan penjelasan yang di ceritakan sang pelayan.
"kami hanya tahu, Tuan Ardi dan juga Nyonya Maya pergi ke sebuah villa." jawab sang pelayan sembari menundukkan kepala, perasaannya sedikit lega setelah mengungkapkan majikannya yang tak kembali kembali.
"Apa kamu tahu alamat Villa itu ada di mana?" tanya Ferdi, ia berniat menyusul Ardi dan Nyonya masa. Begitu pun dengan Pras, ingin tahu masalah apa yang tengah mereka hadapi, dan apakah masalah mereka ada kaitanya dengan penyikaan Alya?"
Karna Ferdi tak ingin pulang dalam keadaan kosong, ia ingin tahu dengan jelas, apa yang sudah terjadi dengan Alya dan hubungan Ardi begitu pun Pras.
Sang pelayan kini merogoh saku celananya, mengambil sebuah lembaran kertas yang baru saja ia tulis saat mendengar percakapan antara sahabatnya dan juga sang tuan," Saya hanya mencatat alamat ini, saya juga sebenarnya memohon kepada Tuan agar Tuan bisa menemukan Nyonya Maya dan Tuan Ardi, karena sudah dua hari ini mereka tidak balik-balik ke rumah, saya kuatir sekali tuan."
Ferdi langsung meraih ketas putih itu, ia melihat alamat yang tertera pada kertas putih.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu? Saya akan mencari mereka ke tempat ini!" jawab Ferdi, membuat sang pelayan merasa senang.
Percakapan mereka terhenti, mendengar suara klakson mobil berbunyi, ternyata Ardi sudah datang dengan mobil mewahnya. Dia turun dari mobilnya, melihat wajah Ferdi membuat kedua matanya membulat dan senyuman terukir pada wajahnya.
" Ferdi lu ada ke sini?" tanya Ardi, sudah lama mereka baru bertemu lagi. Semenjak Ferdi menerusakan kuliahnya di luar negri untuk meraih cita citanya sebagai seorang dokter.
Melihat penampilan Ferdi yang sekarang membuat Ardi tentulah bangga, sahabatnya sukses menjadi seorang dokter.
Ferdi berusaha bersikap Santai di depan Ardi,
walau sebenarnya hatinya kini ingin segera langsung bertanya tentang masalah yang tengah dihadapi Ardi dan juga Prans sahabatnya di waktu kecil dulu.
Ia tidak ingin menunda-nunda perkataannya dan juga pertanyaan yang sudah ia siapkan untuk bertanya ke hadapan Ardi.
Ardi langsung menyuruh Ferdi untuk masuk ke dalam rumah hingga di mana mereka berjalan beriringan menuju pintu rumah.
keakraban begitu jelas terlihat oleh kedua mata, mereka bercanda gurau Saat memasuki rumah. sang pelayan dengan terburu-buru mengambil minuman untuk disediakan pada Ferdi yang sudah lama datang.
Saat kebersamaan itu mulai terasa redup, saat itulah Ferdi mulai bertanya menyanyakan keberadaan Tante Maya dan juga Pak Anton yang tak terlihat oleh dirinya. Ardi terdiam sejenak kedua matanya menunduk terlihat sekali rasa sedih pada wajah Ardi saat itu.
Ferni yang memang selalu usil dari dulu, kini memukul punggung dan sahabat membuat lamunan Ardi seketika membuyar.
"Lu Kenapa sih, dari tadi melamun terus kayak beban hidup lu itu berat. Ada masalah apa? Cobalah cerita biar gue tahu semua masalah lo dan tentunya gue nanti bisa bantu lo. Ar."
Perkataan Ferdi membuat mulut Ardi yang diam kini menceritakan semuanya.
__ADS_1