
Ardi kini mengajak Haikal untuk pergi ke sebuah Vila milik ibunya, Vila itu sudah lama tak dikunjungi Ardi saat ia dewasa sekarang, karna rasa malas melihat Vila yang jauh dari tempat ramai dan juga dikelilingi hutan. Membuat ia hanya mengenang masa indah kedua orangtuanya.
Menaiki mobil, Ardi termenung disetiap jalanan yang dilalui. Ia menyenderkan kepala pada kaca mobil dengan membayangkan wajah sang ibunda tercinta.
"Apa ibu akan selamat? Atau ...."
Pikiran Ardi sudah tak nyaman dengan bayang bayangan sang ibu seakan tiada, membuat air mata kembali menetes.
"Apa boleh seorang lelaki menangis?"
Itulah yang ada dibenak sang lelaki berbola mata coklat dengan bibir tipisnya, menampilkan perpaduan merah alami.
Sedangkan Haikal masih dengan stir mobilnya, ia tak tahu harus melakukan hal konyol apa lagi, agar bisa membuat sahabatnya tersenyum kembali.
Memang jika menyangkut kata seorang ibu, hati anak laki laki akan rapuh, kedua mata yang kuat akan melemah, hingga air mata itu keluar begitu saja.
Haikal pernah ada diposisi dimana dirinya terpuruk akan kehilangan sosok seorang ibu. Sosok yang selalu membuatnya bahagia, tersenyum, kuat dan tetap tegar. Tapi, saat sosok itu hilang, semua menjadi rapuh.
Perjalanan menuju vila butuh waktu yang sangat lama, karna harus melewati hutan dan juga jalanan kecil yang hanya dilewati satu mobil saja.
"Ahkkkk."
Haikal kaget, di saat Ardi tiba tiba berteriak, seperti meluapkan rasa sedih dan kekesalanya.
"Ardi, ada apa?"
Kini tangisan itu terdengar begitu keras, membuat Haikal dengan terpaksa menghentikan perjalanan sementara waktu.
"Ardi, kamu lihat ke depan."
Ardi menggelengkan kepala, ia seakan enggan untuk menatap dirinya pada kaca mobil yang menggantung.
"Ardi, cepat."
Haikal berusaha menekan sang sahabat, agar mengikuti apa perkataanya.
"Cepat."
Perlahan Ardi mengangkat wajahnya, melihat pada cermin kecil depan mobil. Sungguh menyedihkan raut wajah Ardi dengan bergelimangan air mata.
"Kamu lihat dirimu, menyedihkan sekali. Ini bukan dirimu yang sesungguhnya Ardi, ayolah bangkit. Jangan kamu buat dirimu menyedihkan seperti apa yang kamu lihat saat ini."
"Terus apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Ardi bertanya pada Haikal, ia yang diliputi kesedihan, seakan tak punya tujuan. Padahal Ardi belum melihat keadaan Ibunya yang susunguhnya. Bisa saja sang ibu masih hidup, atau.
Pikiran Haikal kini tak karuan, ia tetap fokus membangkitkan pertahanan hati Ardi, agar tetap kuat dan tegar. Ketika menerima kenyataan pahit.
"Kamu tenangi, diri kamu Ardi. Jangan seperti anak kecil yang mengandalkan air mata, kamu ini laki laki, harus kuat. Bagaimana pun keadaan ibumu nanti."
Haikal perlahan membangkitkan rasa percaya diri pada diri Ardi, ia berusaha bangkit dan melawan kesedihan pada hatinya.
"Kamu bisa Ardi, aku yakin."
__ADS_1
Kata kata itu membuat, tangan Ardi mengepal. Dalam hati ia terus berucap." Aku pasti bisa melawan kesedihan ini."
Hingga di mana Ardi bangkit dalam keterpurukanya, ia kini kembali seperti Ardi yang dulu.
Haikal tak menyangka jika sahabatnya terlalu banyak memendam rasa sakit, hingga sekarang ia lihat, Ardi menumpahkan rasa sakit dan ketakutan kehilangan akan ibunya.
Menarik napas, mengeluarkan secara perlahan. Kini hati Ardi sedikit tenang.
"Bagaimana sekarang perasaanmu, Ar."
"Sedikit tenang."
Haikal merasa lega, saat itulah ia mulai menjalankan mobilnya kembali untuk segera sampai ke tempat tujuan yang tak lain ialah Vila.
Setelah menempuh perjalanan sangat jauh, pada akhinya Ardi dan Haikal sampai, ia melihat gerbang vila sudah di kerumuni polisi.
"Apa Pras tertangkap?" tanya Haikal pada Ardi.
Haikal mengira jika sahabatnya ada di sampingnya saat itu.
Ardi sudah berjalan masuk ke dalam vila itu, ia melihat banyak pelayan di amankan, dan saat itulah Ardi melihat Lina.
Wajah dan baju sudah bersimpuh darah, membuat ia memanggil Lina.
"Lina?"
Lina menatap ke arah orang yang memanggil namanya, "Ardi."
Betapa senangnya hati Lina, melihat Ardi memanggil namanya, ia kini berlari, akan tetapi tertahan oleh polisi. Saat itulah Ardi mulai memberikan penjelasan pada polisi, hingga dimana Lina di perbolehkan menemui Ardi.
Tangan kekar Ardi ingin sekali memeluk Lina, karna perasaanya sangat begitu besar.
Cintanya tak bisa sirna begitu saja.
"Ardi. Maafkan aku."
Kata maaf terus dilayangkan Lina, membuat Ardi melepaskan pelukan Lina.
"Maaf Lina."
"Ardi kenapa?"
Haikal datang menghampiri Ardi, ia terkejut dengan keadaan Lina.
"Lina, kamu baik baik saja?"
Lina menganggukan kepala, dan menjawab," aku baik baik saja. Kak Haikal."
"Mana ibuku?" Tanya Ardi panik.
Lelaki berbola mata coklat itu mulai mencari keberadaan sang ibu, akan tetapi Lina menahan Ardi dan berkata," Tante Maya, sudah di bawa ke rumah sakit."
Ardi mengusap kasar wajahnya," apa maksud kamu. Lina."
__ADS_1
"Tante Maya, mengalami luka tusukan beberapa kali oleh Om Pras!" jawaban Lina.
Seketika membuat lutut Ardi melemas, ia tak percaya. "Semua ini bohongkan."
Ardi terduduk di atas tanah, dengan isak tangis yang baru saja di lihat Lina.
Wanita rambut pendek itu kini membungkukan badan, memegang bahu Ardi.
"Tante Maya dibawa pergi oleh papahmu dan juga Adnan suruhanmu. Ardi."
Pegangan tangan itu seketika di hempaskan oleh Ardi, membuat Lina sangatlah terkejut.
"Lepaskan tangan kotormu itu,"
Deg ...
Lina terkejut dengan perkataan Ardi, ia merasa semakin bersalah.
"Haikal, sebaiknya kita pergi ke rumah sakit."
Lina berharap jika Ardi mau membawanya pergi dan ikut serta ke rumah sakit.
"Aku ikut."
Ardi yang berjalan kini membalikkan badan menunjuk kearah Lina." Aku tidak mau mobilku di tumpangi oleh wanita tidak punya perasaan seperti kamu."
Perkataan Ardi sangatlah menyakitkan, membuat kepalanya menunduk, melihat ke arah mobil yang akan melaju pergi.
Haikal tak tega melihat Lina sendirian, hingga di mana ia membujuk Ardi, untuk membawa Lina masuk.
"Ardi, bukanya kamu mau bertanggung jawab pada Lina. Jadi ajaklah Lina ke mobil ini."
Ardi hanya diam, ia bukan tak mau mengajak Lina masuk ke dalam mobil.
Tapi hatinya yang tak bisa menahan diri, karna Ardi masih mencintai Lina. Cintanya seakan melekat kuat, tak bisa mengelupas begitu saja.
Semua butuh proses.
"Ayo Lin. Naik."
Lina berusaha menahan air matanya," tak usah kak. Biar Lina pergi bersama polisi saja."
"Lina, jika menunggu polisi. Itu akan butuh waktu lama."
"Tak apa apa, kak Haikal."
Lina membalikan badan untuk menjauh dari mobil Ardi. Hingga dimana.
"Masuk."
Langkah kaki terhenti di saat Lina mendengar Ardi memperbolehkanya ikut masuk ke dalam mobil.
Lina mulai berjalan kembali tapi Ardi.
__ADS_1
"Cepat masuk."
"Lina ayo masuk, Ardi menyuruh kamu untuk masuk."