
Bu Nunik menyuruh ibu-ibu kontrakan berbondong-bondong untuk mengerjai Bang Burhan Si lelaki berkepala botak itu.
Saat itulah mereka setuju dengan rencana yang di atur oleh Bu Nunik. Untuk mengulur waktu sebelum polisi datang.
Aku bersyukur masih ada orang-orang yang peduli padaku, apalagi ibu-ibu di kontrakan ini. Semua berkat Haikal, mana mungkin bisa aku melupakan jasa lelaki perjaka itu.
Bu Nunik menyuruh Bu Sumyati untuk berdagang melewati kontrakanku, saat itulah rencana di mulai.
Aku hanya mengintip di mobil angkot yang tak jauh dari. kontrakan, Lina meraih pundakku seraya berkata," mudah-mudah ini berjalan lancar."
"Iya de. Mudah-muda ha. saja."
Kami semua yakin dan apapun akan berjalan lancar. Aku melihat Bu Sumyati menawarkan makanan pada Burhan dan Fras, dengan kecantikannya dan gaya ganjennya Bang Fras seakan tergoda. Maklum saja pria gondorong itu tidak punya pasangan, alias bujang lapuk. Adapun yang ia suka janda warung sebelah.
Rasanya ingin tertawa melihat dari kejauhan Bang Fras, membeli makanan Bu Sumyati dengan tangan nakalnya yang mencolek-colek dagunya.
Bang Burhan seakan geram, karna Fras malah merayu pedagang itu, tanpa memperdulikan Burhan yang tengah mengincarku di dalam kontrakan.
Di dalam angkot aku dan Lina tertawa terbahak-bahak. Bang Fras memang mudah terayu, berbeda dengan Bang Burhan. Dia tidak pernah merayu atau selingkuh dengan wanita lain tapi kenapa sikapnya begitu kasar?
Dulu waktu aku berkenalan dengan Bang Burhan lewat orang tuaku, Bang Burhan begitu ramah baik dan penyayang. Tapi semenjak orang tuaku meninggal perubahannya derastis begitu terlihat Bang Burhan menjadi lelaki keras tangan dan pemabuk.
Apa Bang Burhan punya dendam pada ibu dan bapak?
Mengusap kasar wajahku, menghilangkan semua masalah lalu yang menghantui hati dan pikirannku. Lina mengusap punggungku seraya berkata." Mudah-mudahan ka Burhan tertangkap.
"Iya de, kaka juga berharap begitu," ucapku menundukkan pandangan. Ada rasa ragu dalam hati.
"Kaka harus yakin bisa bebas dari ka Burhan," jawaban Lina meyakini ku. Jangan pernah ragu dengan pertolongan sang maha kuasa. Dan orang-orang yang sudah ikhlas membantu kita.
Aku menatap raut wajah Lina dan memegang erat kedua tangannya.
"Terima kasih telah menguatkan kakak Lina."
Pelukan yang kurindukan kini datang dan membuat hatiku yang pilu kini berbunga kembali.
Aku melihat Haikal bangun, di bantu oleh ibu-ibu kontrakan untuk segera keluar dari mobil itu, dimana Bang Burhan dan Bang Fras tengah lengah.
Awalnya aku tidak mengenal Bang Burhan karna penyamarannya yang sempurna, membuat aku tak kenal dengan dirinya. Tapi ketika mendengar suaranya dan juga teriaknya yang menyebut namaku, aku yakin dia Bang Burhan.
Ibu-ibu itu mengempiskan semua ban mobil milik Bang Fras.
Saat itulah, Haikal di bawa oleh Pak Hendra menuju angkot. Dimana aku dan Lina berada.
"Pak Haikal," ucapku. Menatap wajah yang begitu banyak bekas pukulan.
"Dinda apa kamu tidak apa-apa?" tanya Haikal. Air mataku seketika mulai berkaca-kaca dalam keadaan seperti ini Haikal masih memperdulikanku aku.
"Aku dan Lina baik-baik saja!" jawabku. Tersenyum tipis.
"Jangan panggil lagi aku pak. Panggil saja aku dengan sebutan namaku sendiri. Dinda," ucap Haikal kepadaku. Membuat aku malu bukan kepalang.
Apalagi di sampingku ada Lina. Membuat pipiku semakin memerah.
"Ke mana Aidan?" tanya Haikal. Saat itu aku menunjuk pada anak kecil yang tengah melempar batu pada kepala botak Burhan.
Haikal yang tertawa terbahak-bahak. Membuat aku spontan menutup mulutnya dengan telapak tangan kananku.
Tatapan Haikal seketika menusuk jantungku.
"Maaf."
"Ada benih-benih cinta ni, cie ... cie ...," sindir Lina. Membuat aku melepaskan tanganku pada mulut Haikal.
"Kenapa di lepas?" tanya Haikal.
"Bau jigong," ucapku bercanda.
"Iya katanya jangan di lepas, nempel aja. Ka Haikal suka di gituin," timpal Lina. Membuat aku semakin malu.
"Bau jigong juga. Tetap tercium wangi-wangi cinta," sindir Lina.
Membulatkan kedua mataku pada Lina, berharap dia berhenti menyindirku yang sudah tak kuat menahan malu ini.
Suara mobil polisi terdengar begitu jelas.
__ADS_1
Membuat Bang Burhan dan juga Bang Fras bergegas berlari. Baru saja Bang Fras memakan keredok buatan Bu Sumyati. Bang Burhan menarik paksa Bang Fras agar pergi menjauh dari kontrakan yang aku tempati
Mereka bergegas menaiki mobil, tapi tiba-tiba mesin mobil tidak mau menyala. Bang Burhan keluar dengan tergesa-gesa, ban mobil pun kempes semua.
Mengacak-ngacak kepala Bang Burhan kabur tanpa sepengetahuan Frans.
Saat itu Haikal ingin mengejar Bang Burhan tapi badannya begitu lemas.
Ibu-ibu di sana melemparkan telur dan tepung pada wajah Burhan. Membuat aku dan Lina begitu pun Haikal tertawa terbahak-bahak.
Bang Burhan yang ingin berlari terhalang oleh lemparan tepung terigu dan juga telur ayam.
Polisi langsung turun dan menangkap mereka berdua. Aku benar-benar puas saat Bang Burhan di tangkap polisi, begitu pun dengan Bang Fras.
Aku bergegas menemui Bang Burhan dan Bang Fras melihat mereka tertangkap polisi.
Tepuk tangan ku layangkan pada hadapan mereka.
"Dinda," ucap Bang Burhan menyebut namaku.
"Hai bang, apa kabar?" tanyaku. Menatap Bang Burhan yang sudah di borgol oleh polisi.
"Dinda aku tidak tahu kalau kamu ternyata tidak lemah!" jawab Bang Burhan, membuang ludah dihadapkanku.
"Bukan kah ini yang abang inginkan, melihat aku menjadi wanita kuat," ucapku. Mencabik bibir kesal. Menatap tajam pada wajah lelaki yang menemani hidupku selama lima tahun.
"Gara-gara lelaki itu kamu berani membangkang dan kabur dari rumah," hardik Bang Burhan.
Aku tertawa seraya menjawab," apa abang bilang gara-gara Haikal. Harusnya abang sadar diri, abang yang sudah membuat aku berubah."
"Memang kamu ini wanita murahan, berselingkuh dengan lelaki itu."
Entah apa yang di pikirkan Bang Burhan dia malah membalikkan pakta dan menghina, memfitnah diriku. Harusnya Bang Burhan berubah, tapi dia malah semakin menjadi-jadi.
"Terserah abang mau bicara apa. Karna aku sudah gugat abang ke pengadilan, agar kita cepat bercerai."
"Berani kamu Dinda."
Polisi menyeret Bang Burhan ke kantor polisi.
Rasanya begitu lega. Bang Burhan masuk ke dalam penjara.
Ucapan Lina ada benarnya, aku harus bangkit menjadi wanita kuat. Melawan Nina wanita licik itu.
"Loh kalian bengong. Ayo Bu Nunik udah nyiapin makanan untuk kita semua. Atas keberhasilan melawan penjahat botak itu." Ajak Haikal kepada aku dan Lina.
Kami pun merebahkan rasa lelah, menikmati masakan Bu Nunik. Begitu baik wanita tua yang mempunyai kontrakan ini.
Ketukan pintu tiba-tiba terdengar di rumah Bu Nunik. Sesaat di buka ternyata itu Bu Nina.
"Ah, dia lagi. Dia lagi," ucap Lina. Mendengkus kesal.
"De, udah kaya apa aja. Tiba-tiba nongol, enggak punya malu ya," ucapku pelan pada Lina. Kami tertawa bersamaan melihat Nina yang lengak-lenggok masuk ke dalam rumah.
"Wah Bu Nina, kebetulan sekali datang ke sini. Pas sekali kita lagi mengadakan acara makan-makan," ujar Bu Nunik. Mempersilahkan Nina untuk duduk bersebelahan denganku.
Sial, dia ternyata berani menginjak kakiku. Awas saja ku balas kamu Nina. Dengan sigap kaki kiriku menendang keras betisnya hingga ia bersuara kesakitan.
"Aw."
Haikal berdiri mendengar teriakan Nina, seraya bertanya.
"Ada apa Bu Nina?"
"Iya ada apa Bu Nina?" tanyaku berpura-pura tak tahu.
Nina terlihat begitu kesal saat aku menendang betisnya. Siapa suruh mulai duluan.
"Awas ya kamu." Bisik kesal Nina pada telingaku.
Lina, menyenggol tumitku seraya berbisik," wanita ular dedemit jadi-jadian."
Rasanya ingin tertawa mendengar adikku berkata seperti itu.
"Lawan ka jangan takut sama dedemit model gitu."
__ADS_1
Aku menganggukkan kepala mengiyakan perkataan Lina.
Setelah acara makan itu selesai, tiba-tiba Haikal menghampiriku. Seakan dia mau mengatakan sesuatu.
"Dinda apa ka ...."
Belum perkataan terlontar dari mulut Haikal sepenuhnya, Nina datang lagi. Hah, dedemit itu mengacaukan semua kebahagiaanku.
"Emh, wah masakan Bu Nunik enak ya," ujar Nina. Ia seakan tidak suka bila aku dan Haikal berduaan.
"Iya Bu Nina. Ngomong-ngomong ibu datang ke sini terus ada apa ya kok tumben?" tanya Haikal yang membuat dedemit itu mencari alasan.
Rasanya aku ingin tertawa melihat dedemit itu. Gugup untuk menjawab pertanyaan Haikal.
"Oh, ya. Benar sekali pertanyaan Haikal. Tumben Bu Nina sering ke sini?" tanyaku semakin menekan Nina yang tengah mencari-cari alasan.
Sial, si Dinda ini. Membuat aku mati berdiri, ia semakin membuat aku tersingkir hingga Haikal seakan tak suka dengan kedatanganku. Gerutu hati Nina.
"Rasakan kamu Nina, suruh siapa kamu mengacaukan acara obrolan kami berdua." Ucap Dinda dalam hati.
Lina sempat terpikir untuk mengerjai Nina saat itu.
Ia dengan segera menjatuhkan kulit pisang saat Nina berjalan. Aku yang melihatnya menujukan jempol di bawah paha. Tanda siap melihat Nina terjatuh dengan baju ketatnya itu.
Dan benar saja Nina berjalan melewati Lina, mungkin dia akan mengancam adikku atau apa? Aku tak mengerti.
Saat langkah kalinya melewati Lina ... Dan Brug .... Suara robekan dari baju yang di kenakan Nina begitu terdengar. Hingga Pak Hendra melihatnya merasa malu sendiri, apalagi dengan Bu Nunik. ****** ***** Nina begitu terlihat, robekan itu begitu panjang.
Adikku tertawa kecil, seraya menutup mulutnya. Ia seakan mencecar pelan Nina yang terjatuh.
"Ya ampun Bu Nina tidak apa-apa."
Lina mencoba meraih lengan Nina tapi entah kenapa Lina seakan sengaja melepaskan tangannya yang memegang erat lengan tangan Nina.
Brug .....
"Ahk." Teriak Nina.
Rasanya mungkin sakit sekali jatuh ke dua kalinya. Tapi apa boleh buat itu pelajaran untuk dedemit yang suka mengancam orang lain.
Nina berusaha berdiri, mengelus dada mencoba bersabar. Aku yang melihatnya sungguh ingin tertawa terbahak- bahak.
Semua pasti Lina sengaja menjatuhkan aku lagi. Gerutu Nina.
Di sisi lain Haikal hanya menatap Nina yang terjatuh, tanpa menolongnya.
"Kamu enggak menolong Bu Nina."
"Oh, biarkan saja. Banyak yang menolong dia."
Sepertinya Haikal seakan kesal dengan Nina ada apa ya?
Haikal menarik lengan tanganku entah dia mau membawaku ke mana?
__ADS_1