
Sang Ibu kini mulai pergi. Nining segera mungkin menghampiri Lina yang tengah duduk, dengan tatapan kedua mata yang terlihat begitu kosong.
"Teh."
Beberapa kali Nining terus memanggil wanita berambut pendek di hadapannya.
"Teh."
Nining melambai-lambaikan tangan ke arah wajah Lina, berharap Lina tersadar dari lamunanya.
" Si teteh kenapa atuh, dari tadi melamun terus."
Dengan terpaksa Nining memukul bahu Lina, hingga di mana Lina meringis kesakitan.
"Aduh Nining, kamu ini apa-apaan. Pakai acara mukul segara."
"Ya habisnya Teteh dari tadi ngelamun terus. Teteh teh mikirin apa?"
Lina kembali terdiam saat pertanyaan Nining terlontar untuk dirinya.
"Ayo atuh, kita teh ke ruang tamu."
" Mau apa kita ke ruang tamu?"
" Ih si teteh teh gimana. kan tadi ibu datang suruh Nining buat bawa Teteh ke ruang tamu!"
"Kamu aja Nining yang ke ruang tamu. Teteh di sini aja, bilang aja gitu. Teteh lagi nggak enak badan."
"Si teteh teh gimana atuh, nanti kalau ibu dan bapak nggak percaya omongan Nining gimana? Terus. Nining harus jawab apa?"
"Ya sudah, kamu bilang saja teteh lagi nggak enak badan!"
Tentulah Nining bingung dengan apa yang harus ia jawab pada bapak dan juga ibunya, karena Nining wanita yang tak biasa berbohong kepada orang tua.
Saat itulah Lina mulai membaringkan tubuhnya untuk segera tertidur kembali, melupakan segala kekesalan dan juga rasa sedih pada hatinya.
Nining yang melihat Lina langsung berbaring di ranjang tempat tidurnya, kini memajukan kedua bibirnya.
" si Teteh malah tidur lagi."
Nining menarik nafas secara perlahan, ia memberanikan diri untuk berjalan mengatakan apa yang sudah dikatakan Lina.
Terlihat kedua orang tuanya yang tengah duduk, begitupun dengan Haikal.
__ADS_1
"Ning ke mana awewe Eta, Gening tengilu jeung maneh?"
( Ning ke mana wanita itu, kenapa nggak ikut dengan kamu.)
Terlihat wajah Nining yang penuh dengan keraguan, sesekali kedua tangannya menggerak-gerakkan baju, Nining seakan berat sekali untuk membohongi kedua orang tuanya.
"Nining kamu teh, kalau ditanya sama bapak jawab? Jangan diam aja seperti itu."
Timpal Ibu menghampiri anaknya yang terlihat kebingungan.
Haikal menatap wajah Nining dan berkata," apa yang tengah kamu pikirkan saat ini. Aa kok melihat kamu seperti orang kebingungan seperti itu."
"Aduh. gimana atuh ini teh. semua orang pada bertanya sama Nining. Nining Teh jadi bingung." Gerutu hati Nining.
"Ning, titatadi ibu jeung Bapak nanya. Maneh malah cicing wae."
( dari tadi Ibu dan Bapak tanya sama kamu. Tapi kamu diam terus, ada apa sih Nining)
Bentakan Sang Bapak kini terlontar terhadap Nining. Nining hanya menggaruk belakang kepalanya yang tak terasa gatal.
"Sebenarnya teh, Teteh Lina lagi sakit. Makanya tadi pagi sampai nyembur muka bapak, Nining yang sudah meminumkan air garam untuk Teteh Lina. Karna Nining berpikir bahwa Teteh Lina teh ke surupan."
Haikal yang mendengar ucapan Nining tentulah kaget, iya kini bergegas menghampiri Lina ke dalam kamar. Akan tetapi Nining berusaha menahan Haikal untuk tidak menemui Lina sementara waktu.
Haikal yang sangat penasaran dengan pernyataan Nining, kalau Lina tengah sakit, membuat ia tak memperdulikan ucapan Nining. Dengan terburu-buru. Haikal langsung berjalan membuka pintu kamar Nining.
Terlihat Lina tengah terbaring dengan ditutupi selimut, Haikal kini berjalan perlahan menghampiri wanita berambut pendek yang menjadi adik dari almarhum istrinya.
"Lina."
Haikal mencoba memanggil Lina yang tengah terbaring dengan ditutupi selimut.
"Aku tahu kamu baik-baik saja, kamu berpura-pura sakit untuk tidak pergi dari Desa ini?"
Lina berusaha mengabaikan ucapan Haikal, kalau sebenarnya ucapan lelaki yang ia cintai sangatlah benar.
Iya berusaha berpura-pura sakit untuk tidak pergi dari Desa Haikal. hatinya ingin sekali menetap di desa, bersama Haikal, ia tidak mau kembali lagi kepada Ardi yang sekarang berubah drastis, semenjak melihat dirinya tanpa sengaja berpelukan dengan Haikal.
"Lina. Ayolah kamu jangan seperti anak kecil, sebaiknya kita cepat pulang dari Desa ini. aku tidak mau Ardi mengkhawatirkanmu dan juga salah paham terhadap kita berdua."
Lina tetap saja mengabaikan ucapan yang terlontar dari mulut Haikal.
Nining yang melihat Haikal nekat masuk ke dalam kamar, kini berlari melihat apa yang sudah dilakukan Haikal kepada Lina.
__ADS_1
" Aa Haikal. Sudahlah kasihan Teh Lina. Sepertinya dia memang sedang sakit."
Haikal tak suka jika Lina dibela oleh saudaranya, iq kini membentak Nining.
sudah Nining kamu jangan ikut campur ini urusanku dengan wanita itu sebaiknya kamu pergi."
Nining menundukkan pandangan setelah mendengar kemarahan Haikal kepada dirinya.
Sedangkan paman dan juga Bibi Haikal menarik tangan anaknya untuk tidak ikut campur masalah Haikal dan juga Lina.
"Ayo Ning, sebaiknya kita pergi dari kamar ini.:
Nining kini berjalan keluar dari kamarnya, Haikal yang sudah direnungi kekesalan kini membalikkan badan pergi dari kamar Nining.
Lina yang menutup tubuhnya Dan juga wajahnya dibalik selimut hanya menangis terisak, menahan rasa sakit akan ucapan Haikal.
sang Paman Hanya duduk dan melihat kemarahan Haikal saat itu," Haikal kuduna maneh teh nitah tunanganna kadieu, supaya eweh kesalah pahaman antara maneh jeung wanita Eta, Amang mah embung maneh sampai ngerusak hubungan Batur."
(Sepertinya kamu harus menyuruh tunangannya itu datang ke sini, agar tidak ada kesalahpahaman antara kamu dan juga wanita itu. Paman tidak mau kamu sampai merusak hubungan orang lain.)
Di keluarga Haikal hanya sang paman yang tak bisa berbicara bahasa Indonesia, sekali mengobrol dengan sang Paman pasti dia akan mengeluarkan kata-kata Sunda yang begitu kasar.
Haikal yang sudah mendengar ucapan pamannya hanya menganggukkan kepala. dia bergegas menelepon Ardi untuk memberitahu keberadaan Lina.
" Ya engeus pak, tong amek amekan wae. Ibu ge tahu, bapak teh resah lamu ningali si Haikal Mawa awewe Batur."
(Ya sudah pak, jangan marah marah. Ibu tahu, bapak pasti resah kalau lihat Haikal bawa wanita orang.)
Nining kini menghampiri Lina yang menutup tubuh Dan juga wajahnya dengan selimut.
" Teh Lina, ini Nining."
Lina kini mulai membuka selimut, melihat ke arah Nining,
"Ya ampun, Teh Lina teh menangis lagi. Teh Lina Teh kenapa atuh? Dari tadi Menangis terus. Coba atuh katakan pada Nining. Siapa tahu Nining bisa meringankan hati Teteh?"
" Nggak usah Ning, kamu nggak usah perlu tahu urusan saya."
"Ya sudah atuh, Nining teh mau bantu ibu masak. Teteh di sini aja tiduran, biar badannya enakan."
"Iya Ning, Terima kasih sekali lagi. Teteh berterima kasih sekali pada kamu yang sudah membantu Teteh berbohong kepada Haikal."
"Iya Teh, Teteh nggak usah khawatir. Nining pasti bantu Teteh kok."
__ADS_1