
Nining tampak panik, karna raut wajah bapanya terlihat marah sekali. Membuat ia berucap dalam hati." aduh, ini teh gimana?"
Lina kini tersadar dari apa yang sudah terjadi pada dirinya, ia merasa tak nyaman pada mulutnya yang begitu terasa asin.
Mengelap ngelap, dan mencoba meminum air yang berada di atas meja, dekat di sampingnya. Namun Lina meminum air dalam gelas itu. Iya langsung memuntahkan kembali, melihat pada gelas banyak serbuk putih yang melayang-layang.
"Heh, Nining. Kamu taruh apa dalam gelas ini?" tanya Lina dengan rasa tak nyaman pada perut dan juga mulutnya.
"Anu, itu teh air garam. Yang baru saja di minum teteh!" jawab Nining gemetar.
" pantas saja rasanya asin kenapa dengan tanganmu itu Nining? Apa yang sedang kamu takutkan saat ini?" Tanya Lina memegang kedua tangan wanita yang berada di hadapannya
"Anu Nining teh. Takut, tadi bapak kayak marah besar karena teteh sudah memuncratkan air pada wajah Bapak!" jawab Nining dengan berkata jujur.
Lina juga tak sadar jika memuncratkan air garam yang diberikan Nining, sampai mengenai wajah paman Haikal, ada rasa tak enak hati pada diri Lina.
"Ya, sudah kamu jangan takut begitu. Biar aku saja yang ngomong apa adanya, nanti sama bapak kamu," ucap Lina pada Nining.
"Iya juga sih, tapi Teh. Nining juga ikut adil dalam masalah ini, apalagi kan Nining yang ngasih air garam pada Teteh, jadi Nining juga harus bertanggung," balas Nining dengan menampilkan wajah nemelasnya di hadapan Lina.
Nining benar-benar terlihat begitu polos dengan dandanan ciri khas desa yang ia tempati saat ini. kepolosan dan juga kecantikannya pasti akan membuat para lelaki mana saja tertarik.
"Ya sudah, kamu jangan mikirin bapak kamu lagi. Masa iya bapak kamu nggak mau maafin kamu sebagai anaknya," nasehat dilontarkan oleh Lina untuk Nining
"tetap saja, Teteh. Nining teh ketakutan. Teteh mah nggak tau aja, gimana ngambeknya Bapak sama Nining," ucap Nining menampilka wajah memelasnya di hadapan Lina.
Assalamualaikum,
saat Lina masih berada di atas ranjang tempat tidur, Lina mendengar suara Haikal yang memberi salam ke rumah.
dengan terburu-buru Lina beranjak dari tempat tidurnya, Iya bergegas membuka pintu kamar menghampiri Haikal yang baru saja datang.
setelah sampai di ruang tamu, Lina melihat Haikal tengah mengobrol dengan paman dan juga bibinya.
wanita berambut pendek kini mengintip percakapan Haikal dan pamanya.
terlihat sekali dari raut wajah sang Paman ada rasa kecewa dengan tinggalnya Lina di rumah, lelaki tua itu tak suka dengan keberadaan Lina
Maka saat itulah sang paman mengungkapkan ketidak sukaanya langsung pada Haikal.
"Haikal, iraha maneh mawa balik awewe eta dari desa ini?"
(Haikal, Kapan kamu bawa pulang wanita itu dari Desa ini?)
"Emangna kunaond!?"
__ADS_1
( Memangnya kenapa.)
sang Bibi yang tak enak hati mendengar pertanyaan Haikal, karena suaminya yang tidak suka akan kehadiran Lina. Membuat wanita tua itu langsung menjawab pertanyaan keponakannya.
" Haikal kamu teh jangan salah paham dulu apa yang dikatakan pamanmu, pamanmu itu tidak suka wanita yang kamu bawa itu, karena penampilannya."
wanita tua itu perlahan memberi tahu Haikal, agar tidak ada kesalahpahaman antara keponakan dan juga seorang paman.
" Ya sudah atuh Bi, Haikal juga sebenarnya. Mau mengajak Lina pulang sekarang, Haikal takut nanti tunangannya mencari keberadaan dia ke sini, takutnya tunangannya malah menyalahkan Haikal karena sudah membawa kabur Lina."
sang Bibi tentulah kaget dengan jawaban keponakannya," Maksud kamu teh wanita yang kamu bawa ke sini teh sudah punya tunangan?"
"Iya, bi. Haikal juga enggak tahu kalau dia ngikutin Haikal. Maka dari itu, Haikal mau bawa di pulang sekarang."
Sang paman, sudah menduga dengan hal semacan ini." Ya sudah, cepat kamu bawa wanita itu dari Desa ini. Bibi nggak mau nanti Paman kamu jadi tersalahkan."
lelaki tua itu hanya terdiam, menahan rasa kesal.
Sedangkan Lina yang mengintip. Hanya bisa terdiam seribu bahasa.
Hingga di mana Nining mulai memegang bahu Lina yang tengah mengintip obrolan sang paman dan juga Haikal.
"Teteh teh sedang apa di sini?"
ucapan Nining membuyarkan lamunan Lina, membuat wanita berambut pendek itu langsung membalikkan badan melihat ke arah Nining.
Lina berusaha menutup kesedihannya, kedua tangannya mengelap-ngelap perlahan air mata yang menetes.
wanita berambut pendek kini berjalan pergi melewati Nining, membuat Nining bertanya-tanya pada hatinya," kenapa sih teteh teh, tiba tiba nangis."
Nining yang penasaran, kini melihat ke luar rumah, " Aa Haikal dan Paman?"
Segera mungkin Nining menghampiri Lina, setelah melihat ke luar rumah.
Terlihat Lina tengah merebahkan badan dengan menutup kedua wajahnya.
Nining dengan perlahan menghampiri Lina dan bertanya.
"Teteh teh, kenapa?"
Nining kini mulai duduk, dengan kedua mata memerah sehabis menangis.
"Ning, boleh aku bertanya pada kamu?"
"Tanya! Boleh atuh, emang teteh mau nanya apa?"
__ADS_1
"Memangnya wanita yang sudah bertunangan, enggak boleh ya dekat sama lelaki lain, yang sangat ia cintai?"
Nining mengerutkan dahi," memang ya siapa? Kok wanitanya belegug (Bodoh), tidak menghargai perasaan tunanganya, malah menyukai lelaki yang belum tahu lelaki itu mencintai dia."
Deg ....
Ucapan Nining, sedikit mengiris hati Lina.
"Ni ya teh, kalau Nining di posisi wanita itu. Nining bakal tinggalkan rasa cinta Nining buat lelaki yang Nining cintai. Dan mempertahankan tunangan Nining yang memang dia sudah mencintai Nining dengan tulus."
"Tapi wanita itu tetap bersi keras ingin mengejar cintanya, meninggalkan tunanganya yang begitu mencintainya."
"Mm. Nining cuman bisa bilang. Jangan mengejar cinta yang belum tentu akan membahagiakan kamu di kemudian hari. Tapi kejarlah orang yang benar benar tulis mencintai kamu, apalagi dia sudah berani menujukkan rasa cintanya lewat melamar dan bertunangan."
Lina terdiam terpaku saat mendengar ucapan yang terlontar dari mulutmu Nining.
Nining yang memang polos kini bertanya kembali kepadanya," memang siapa, Teh?"
kedua tatapan Lina terlihat kosong, saat Nining bertanya kembali kepada dirinya.
"Teh."
Nining memegang bahu Lina.
"Teteh ngelamun lagi?"
"Enggak, teteh hanya ingat sama kakak teteh yang kemarin meninggal."
"Oh."
suara ketukan pintu ini terdengar dari kamar Nining. Saat itu juga Nining mulai berjalan melihat siapa yang mengetuk pintu.
sedangkan Lina hanya terdiam duduk di ranjang tempat tidur.
"Eh ibu, ada apa?"
"Wanita itu sudah bangun belum, Ning!?"
"Teh Lina!"
"Iya dia. Tolong bilangin ada Haikal di ruang tamu."
"Ya sudah atuh, Nining kasih tahu dulu teh Lina, kalau ada Aa Haikal datang ke sini."
"Ya sudah. Cepet atuh kasih tahu dia."
__ADS_1
"Iya bu."